Hari Raya Kurban Identik dengan Bakar Sate, Yuk Ketahui Asal-usul dan Maknanya

Wilda Fajriah, Jurnalis · Jum'at 16 Juli 2021 13:52 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 16 614 2441633 hari-raya-kurban-identik-dengan-bakar-sate-yuk-ketahui-asal-usul-dan-maknanya-17z5Yf4ap7.jpg Ilustrasi sate daging kurban. (Foto: YouTube Evanmedia)

HARI raya Idul Adha 1442 Hijriah/2021 Masehi tinggal beberapa hari lagi. Ibadah penyembelihan hewan kurban pun ditunaikan sebagian besar kaum Muslimin. Setelah menyembelih biasanya orang-orang akan membuat sate dari daging kurban tersebut.

Ya, rata-rata orang Indonesia akan segera membakar sate daging kurban setelah menerimanya. Sate merupakan olahan praktis yang tidak membutuhkan banyak persiapan. Tinggal membuat bumbu kecap atau bumbu kacang, kemudian membakarnya.

Baca juga: Jelang Kedatangan Jamaah Haji, Masyarakat Umum Tidak Diizinkan Sholat di Masjidil Haram 

Dibanding membuat rendang atau semur yang membutuhkan persiapan lebih lama, makanya masyarakat banyak yang memilih mengolah daging kurban menjadi sate. Selain praktis, sate juga sangat lezat.

Namun tahukah Anda, mengapa sate menjadi makanan favorit banyak orang di momen Lebaran Kurban? Bagaimana asal-usul sate berada di tengah-tengah masyarakat?

Sate daging kurban. (Foto: Okezone)

Dikutip dari akun Instagram @satekongkow, sate diperkirakan muncul dari pedagang jalanan yang berada di sekitar Jawa pada abad ke-19.

Faktanya, sate mulai populer pada abad itu bersamaan dengan pedagang asal Arab, Gujarat India, dan pedagang Muslim lainnya yang datang ke Pulau Jawa.

Baca juga: Tahun Ini Jokowi Sumbangkan 35 Sapi Kurban untuk Seluruh Provinsi 

Awalnya masyarakat Indonesia memasak daging dengan cara direbus. Tapi setelah mengenal kebab yang merupakan masakan khas Timur Tengah, orang-orang pribumi pun suka makan daging sapi atau kambing dengan cara dibakar.

Inilah yang menjadi awal mula sate sebagai makanan favorit masyarakat Indonesia kala itu. Kata sate berasal dari bahasa Tamil yaitu "catai" yang artinya daging. Sate berkembang di seluruh wilayah Indonesia hingga saat ini.

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Nah, tradisi nyate dalam momen perayaan Idul Adha biasanya dimaknai sebagai ajang silaturahmi dengan teman-teman, saudara, hingga keluarga. Ini untuk mempererat tali silaturahmi dan kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat.

Salah satu penjual sate madura di Bekasi mengatakan bahwa tradisi nyate sudah menjadi hal yang biasa, bahkan menjadi hari-hari yang ditunggu masyarakat di Pulau Madura, Jawa Timur.

Baca juga: Deretan Artis yang Tak Pernah Ketinggalan Berkurban: Ria Ricis hingga Raffi-Nagita 

Di sana biasanya ada pos atau gardu yang dihuni anak-anak muda untuk menjaga keamanan. Biasanya warga memberikan daging hasil kurban kepada para pemuda itu untuk dijadikan sate.

"Kalau tradisi nyate bareng memang sudah ditradisikan sebagai rasa kebersamaan antarwarga," ungkap penjual sate Madura bernama Aji kepada Okezone beberapa waktu lalu.

"Kalau di kampung enaknya nyate bareng-bareng, makan bareng-bareng, kumpul sama teman-teman juga. Asyik sih pokoknya," tambahnya.

Baca juga: Ini Laman Penyedia Hewan Kurban Online, Tetap di Rumah Aja Selama PPKM Darurat 

Ia mengatakan, makna bakar sate saat Idul Adha untuk menjalin kebersamaan. Ada yang berkumpul di halaman rumah atau di sebuah lahan untuk membakar sate.

Tapi yang pasti, semu orang bahu-membahu membuat sate paling lezat. Ada yang meracik bumbu, ada juga yang mengiris daging dan menusuknya menjadi sate. Ini yang menimbulkan kekompakan antarwarga.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini
Adzan Shubuh Adzan Dzuhur Adzan Ashr Adzan Maghrib Adzan Isya