Sejarah Jeddah, Kota Pelabuhan yang Sangat Ramah terhadap Jamaah Haji

Intan Rakhmayanti Dewi, Jurnalis · Rabu 21 Juli 2021 16:55 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 21 615 2443885 sejarah-jeddah-kota-pelabuhan-yang-sangat-ramah-terhadap-jamaah-haji-GPOf3gLUMR.jpg Ilustrasi sejarah Jeddah kota pelabuhan yang ramah jamaah haji. (Foto: Shutterstock)

MELAKUKAN perjalanan ke Tanah Suci Makkah untuk menunaikan ibadah haji telah menjadi pengalaman tidak terlupakan bagi seluruh umat Islam yang menjalankannya. Pasalnya, perjalanan haji tidak selalu mudah, apalagi di zaman dahulu saat transportasi yang ada hanya kapal laut. Namun para jamaah haji yang telah tiba di Jeddah, selalu menemukan kenyamanan berkat keramahan penduduknya.

Kota Pelabuhan di Pantai Laut Merah ini telah dikaitkan erat dengan ibadah haji dan umrah selama lebih dari 1.300 tahun. Pada tahun 674 Masehi, Khalifah Utsman bin Affan, seorang sahabat Nabi, menetapkan Kota Jeddah sebagai pintu gerbang bagi para jamaah haji yang hendak bepergian ke Makkah dan Madinah.

Baca juga: Tidak Banyak yang Tahu, 5 Artis Cantik Ini Sudah Naik Haji 

Jeddah terus melayani tujuan mulia haji dan umrah sejak saat itu. Di bawah pengawasan Kerajaan Arab Saudi, Kota Jeddah dibangun untuk memfasilitasi pergerakan, akomodasi, dan kenyamanan para jamaah dalam perjalanan ke Makkah, 40 mil di sebelah timur Jeddah, dan Madinah 220 mil ke utara.

Jamaah haji. (Foto: SPA/Arabnews)

Pintu gerbang ke dua kota paling suci dalam agama Islam ini telah menyediakan makanan dan penginapan bagi Muslim dari seluruh penjuru dunia dalam perjalanan mereka untuk melakukan ziarah ke Tanah Suci.

Tidak hanya itu, Jeddah menawarkan lebih dari sekadar tempat tinggal dan makanan. Jamaah akan disambut dengan tampilan keramahan, solidaritas, dan persahabatan yang sangat menyentuh. Lalu tradisi yang membanggakan di antara warga Jeddah yang berlanjut hingga hari ini.

Baca juga: 17 Jamaah Disabilitas Dapat Kesempatan Menunaikan Ibadah Haji 

Di masa lalu, kapal-kapal besar yang membawa para jamaah haji dan umrah akan berlabuh di perairan yang lebih dalam di lepas Pantai Laut Merah.

Kemudian mereka akan dibawa ke darat oleh penduduk setempat dengan perahu sambouk dan dhow kayu yang lebih kecil. Di sana, mereka disambut oleh agen yang ditunjuk, dan akan menunjukkan penginapannya.

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Ahmed Badeeb, seorang sejarawan lokal dan penduduk lama kota tua bersejarah Jeddah, mengatakan bahwa ikatan khusus antara penduduk kota dan jamaah yang berkunjung tidak hanya membentuk geografi perkotaan, tetapi seluruh cara hidupnya.

"Jamaah yang datang melalui darat sangat sedikit. Kapal besar akan membawa jamaah haji dari seluruh penjuru dan tidak ada hotel di Jeddah," kata Ahmed, seperti dikutip dari laman Arabnews, Rabu (21/7/2021).

"Orang-orang kota (Jeddah) yang akan menyediakan penginapan bagi jamaah di rumah mereka sendiri dan jamaah akan menjadi bagian dari keluarga," sambungnya.

Baca juga: Dua Pangeran Arab Cek Langsung Fasilitas Haji dan Pusat Komando 

Pemilik rumah biasanya akan tidur di mabeet, tempat tidur yang terletak di atap rumah, dan menyediakan penginapan bagi para jamaah di megad (ruang duduk) lantai dasar.

Kunjungan jamaah untuk haji bisa berlangsung hingga 4 bulan, tetapi mereka biasanya tinggal di Jeddah hanya beberapa hari. Sementara agennyamengatur perjalanan selanjutnya ke Makkah atau Madinah.

Oleh karena itu, Jeddah merupakan tempat perhentian singkat dalam perjalanan para jamaah haji dan umrah.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini
Adzan Shubuh Adzan Dzuhur Adzan Ashr Adzan Maghrib Adzan Isya