Jejak Madrasah Shaulatiyah, Tempat KH. Hasyim Asyari Menimba Ilmu di Makkah

Tim Okezone, Jurnalis · Rabu 29 September 2021 13:15 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 29 614 2478639 jejak-madrasah-shaulatiyah-makkah-tempat-kh-hasyim-asyari-menimba-ilmu-iMYeFEOJf3.jpg Madrasah Shaulatiyah di Makkah tempat KH. Hasyim Asyari Menimba Ilmu (foto: Saifulloh/Okezone)

JAKARTA – Pendiri Nahdlatul Ulama (NU) KH.Hasyim Asyari memiliki jejak penting sejarah Islam di Indonesia. Kakek dari Presiden Indonesia ke-4 KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ini, pernah menginjakkan kakikanya di tanah suci Makkah selama kurang lebih 7 tahun. Tidak lain untuk memperdalam ilmu agama.

Nah, salah satu sekolah atau madrasah yang pernah menjadi tempat Kiai Hasyim menuntut ilmu adalah Madrasah Shaulatiyah. Ya, Hasyim Asyari merupakan satu dari sekian ulama Indonesia yang pernah belajar dan berkarya di sana.

Pendiri Pesantren Tebuireng, Jawa Timur itu menimba ilmu ratusan tahun silam dari gurunya, Syeh Rahmatullah bin Khalil Al Hindi.

Baca Juga: KH Hasyim Asy'ari Ulama Sekaligus Pejuang Terapkan 4 Strategi Jitu

“Madrasah ini berdiri sejak 1.147 tahun lalu,” ujar pengelola Madrasah Shaulatiyah, Syeh Majid Said Masud Rahmatullah Al-Utsmani saat memberikan sambutan dalam pertemuan Jam’iyah Nahdatul Ulama Sedunia di Makkah.

Baca JugaSejarah Panjang Lembaga Kepenghuluan Menjadi KUA, KH Hasyim Asyari Pernah Menjadi Penghulu

KH Hasyim Asy’ari tercatat pernah belajar di Makkah selama enam sampai tujuh tahun lamanya. Di tanah suci, kyai kelahiran Jombang 14 Februari 1871 itu menuntut ilmu ke sejumlah ulama besar. Di antaranya Syeh Mahfudz bin Abdullah At-Termasy dan Syeh Nawawi Al-Bantany. Hadratus Syeh juga tercatat pernah belajar secara intensif dengan Sayyid Alawi bin Ahmad Assegaf dan Sayyid Husain bin Muhammad Al Habsy, mufti Madzhab Syafiiyah di Masjidil Haram dan kediaman keduanya.

Kakek Gus Dur tersebut tercatat juga memiliki banyak guru lain, baik dari Makkah maupun dari luar Makkah, semisal Habib Ahmad bin Hasan Al Athas dan Syeh Rahmatullah bin Khalil Al Hindi, pendiri madrasah Shaulatiyah. Kiai Hasyim sendiri merupakan alumni Madrasah Shaulatiyah. Namanya tercantum dalam buku absen tahun 1304 H. Majalah Tarikhiyah Ilmiyah Alumni Madrasah Saulatiyah tahun 1432 edisi 3/tahun ke 3 mencatat, pada 1304 H atau 1893 KH Hasyim Asy’ari pergi ke Makkah untuk menuntut ilmu dan tinggal selama 6 tahun.

Syeh Majid dalam paparannya menjelaskan, pendiri Madrasah Shaulatiyah merupakan keturunan Khulafaur Rosyidin Utsman ibnu Affan. Madrasah ini berhasil dibangun tak lepas dari peran seorang perempuan bernama Shoulatun Nisa. Dialah yang menginfakkan hartanya untuk membeli tanah dan membangun gedung. Atas jasanya, Syeh Rahmatullah, memberi nama tempat belajar ini Madrasah Shaulatiyah. “Karena dinisbatkan ke perempuan tadi,” ujar Syeh Majid dalam Bahasa Arab yang diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia.

Usai selama seribu tahun lebih mencetak para ulama dunia, lokasi Madrasah Shaulatiyah, yang semula berada sepelemparan batu dari Masjidil Haram harus tergusur. Musababnya, perluasan area Masjidil Haram.

“Sampai kemudian datang proyek perluasan Masjidil Haram dan (Madrasah Shaulatiyah) dipindah ke Kakiyah. Ini adalah gedung kedua yang didirikan pada 1320 H saat Perang Dunia pertama, batu pertama diletakkan dengan dihadiri para ulama dan masyaih Makkah, kemudian pembangunan distop karena masih ada perang dunia. Kemudian dilanjutkan pembangunannya dan baru selesai pada 1343 H,” terangnya.

Melalui layar slide, Syeh Majid juga menunjukkan kepada hadirin bentuk ruangan kelas-kelas madrasah, kemudian kantor para ustaz, perpustakaan, dan fasilitas pendukung belajar mengajar lainnya tempo dulu.

Dia mengungkap, banyak sekali para dermawan menyumbangkan hartanya dan semua namanya tertulis di dinding-dinding madrasah. “Alhamdulillah madrasah Shaulatiyah masih eksis, di sini diajarkan Alquran, ilmu hadits, dan ilmu-ilmu lain, banyak belajar para santri dan mahasiswa dari berbagai belahan dunia di sini. Bahkan madrasah shaulatiyah disebut juga sebagai Al-Azhar-nya tanah Hijaz,” ulasnya.

Lokasi awal Madrasah Shaulatiyah berada di sekitar terowongan Masjidil Haram, sejak beberapa tahun lalu tempat belajar KH Hasyim Ars’ari tersebut berpindah ke Ka’kiyah yang berjarak sekira 10 kilometer arah barat Masjidil Haram.

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Wakil Rais Am PBNU KH Miftahul Ahyar memaparkan tentang kebesaran NU yang didirikan KH Hasyim Asy’ari sepulang dari belajar di Makkah. Dia mengingatkan kebesaran ini harus diwaspadai agar jangan dimanfaatkan pihak-pihak tertentu yang mencari keuntungan dari organisasi. Kebesaran NU harus betul-betul bisa dirasakan oleh anggotanya.

“Sangat tepat sekali saat ini napak tilas tempat belajar Hadratus Syeh sebagai rasa gandrung kita, kita berkumpul dengan siapa, belajar dengan siapa, bagaimana beliau belajar di madrasah ini lalu pulang dengan keberhasilan luar biasa, itu harus kita pelajari sehingga NU yang dilahirkan betul-betul NU seperti yang diinginan KH Hasyim Asy’ari. Saya kira layak dari Makkah ini dimulai muhasabah atau mendesain ulang, karena kewaspadaan di NU sudah sangat menipis. Apakah NU saat ini masih tetap seperti NU yang diinginkan beliau, Islam saja setiap 100 tahun akan datang mujaddid-mujaddid untuk menyegarkan syariatnya, apalagi organisasi, maka perlu ada desain ulang, mengembalikan kesegaran itu pada NU, menata organisasi dengan baik, bagaimana jamaah NU yang besar ini jadi jamiyah sehingga keramat NU tidak hanya untuk organisasinya tapi juga anggotanya,” paparnya.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini
Adzan Shubuh Adzan Dzuhur Adzan Ashr Adzan Maghrib Adzan Isya