Share

Simak, 3 Cara Allah Mengabulkan Doa Menurut Al-Baijuri

Tim Okezone, Jurnalis · Senin 10 Januari 2022 13:08 WIB
https: img.okezone.com content 2022 01 10 330 2529878 simak-3-cara-allah-mengabulkan-doa-menurut-al-baijuri-iyxZ0VELtV.jpg Ilustrasi cara Allah mengabulkan doa menurut Al-Baijuri. (Foto: Shutterstock)

CARA Allah mengabulkan doa menurut Al-Baijuri ternyata cukup ingin diketahui banyak Muslim. Imam Al-Baijuri di dalam kitabnya 'Tuhfatul Murid 'ala Jauharatit Tauhid' mengungkapkan dikabulkannya doa itu bisa dengan berbagai macam cara.

Dalam kitab tersebut setidaknya Imam Al-Baijuri mengungkapkan ada tiga cara Allah Subhanahu wa ta'ala mengabulkan permintaan hamba-Nya (Al-Baijuri, Tuhfatul Murid 'ala Jauharatit Tauhid [Kairo: Darus Salam], 2015: 255)

Apa saja tiga cara tersebut? Berikut ini penjelasannya, seperti dipaparkan Ustadz Yazid Muttaqin, santri alumni Pondok Pesantren Al-Muayyad Surakarta, kini aktif di kepengurusan PCNU Kota Tegal, dikutip dari situs resmi nu.or.id, Senin (10/1/2022).

Baca juga: Kisah Jin Bela Rasulullah yang Dihina Kafir Quraisy: Dialah Nabi Allah dan Sebaik-baiknya Makhluk 

1. Cepat dikabulkan

Ada kemungkinan doa dikabulkan oleh Allah Subhanahu wa ta'ala sesuai dengan permintaan yang diajukan oleh hamba-Nya dalam waktu cepat. Ini berarti ketika seorang hamba memohon sesuatu kepada Allah Ta'ala, maka Allah memenuhi permintaannya tersebut sesuai dengan apa yang ia minta dan pada waktu yang cepat.

Bila sang hamba dalam keadaan sakit dan meminta untuk segera diberi kesembuhan, maka Allah Subhanahu wa ta'ala memberikan kesembuhan kepadanya segera. Bila sang hamba meminta dilunasi utangnya, maka Allah Ta'ala kabulkan permintaan itu dengan terlunasinya utang dalam waktu yang tidak lama, dan sebagainya. Apa yang diberikan Allah Ta'ala sama persis dengan apa yang diminta sang hamba.

Baca juga: 5 Adab Bertamu Menurut Islam, Yuk Diterapkan Supaya Dapat Pahala Besar 

2. Tidak dikabulkan saat itu juga

Ada kalanya doa dikabulkan oleh Allah Subhanahu wa ta'ala sesuai dengan permintaan yang diajukan oleh sang hamba namun tidak dalam waktu segera. Allah Ta'ala menunda pemberian dan pengabulan permintaaan tersebut karena adanya kemaslahatan dan hikmah tertentu yang hanya diketahui oleh Allah Ta'ala saja.

Orang yang sakit meminta kesembuhan kepada Allah Subhanahu wa ta'ala, umpamanya. Semestinya Allah Ta'ala memang hendak mengabulkan permintaannya, namun tidak sekarang. Mungkin setelah satu atau dua tahun kemudian permintaan sang hamba baru dikabulkan, ia sembuh setelah sekian waktu lamanya.

Penundaan dikabulkannya doa oleh Allah Subhanahu wa ta'ala ini bukan karena Allah enggan untuk memberi pada waktu segera sebagaimana yang dikehendaki oleh sang hamba. Penundaan ini tidak lain karena Allah lebih tahu tentang hikmah, maslahat dan manfaat dikabulkannya doa pada waktu mendatang, bukan sekarang.

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Tentang hal ini, Maulana Habib Muhammad Luthfi bin Yahya pernah memberikan sebuah gambaran di hadapan para muridnya. Ada orangtua yang pulang ke rumah dengan membawa oleh-oleh makanan yang disukai oleh anaknya. Melihat hal itu sang anak bergegas meminta makanan yang dibawa oleh orangtuanya.

Namun oleh orangtua makanan itu tidak segera diberikan, melihat tangan sang anak dalam keadaan kotor. Bukan karena sang orang tua tak mau memenuhi permintaan anaknya dengan memberi makanan tersebut. Ia hanya ingin anaknya membersihkan dulu tangannya, sehingga ketika makanan itu diterima dan dimakan tidak berdampak negatif bagi dirinya. Demikian Habib Luthfi menggambarkan.

Baca juga: Cerita Mualaf Bule Amerika, Berawal Gelisah saat Ada Pesta Dansa di Sekolah 

Pun demikian dengan penundaan Allah Subhanahu wa ta'ala atas permohonan hamba-Nya. Janji Allah Ta'ala bahwa setiap permohonan akan dikabulkan adalah benar dan nyata. Hanya saja bisa jadi Allah menundanya karena tahu persis bahwa bila permohonan itu dikabulkan saat itu juga, maka bukan manfaat dan maslahat yang akan diperoleh sang hamba, tapi sebaliknya madlarat yang akan didapatkannya.

Allah bisa saja sesegera mungkin mengabulkan permintaan hamba-Nya untuk menjadi kaya raya, misalnya. Tapi ditunda karena Allah tahu bila sang hamba menjadi kaya saat ini maka ia tidak akan menjadi orang baik dengan kekayaannya. Ia akan menjadi sombong, lebih banyak berhura-hura, lupa bersyukur dan memperbanyak ibadah, enggan untuk bersedekah dan lain sebagainya. Allah akan memenuhi permohonan sang hamba, tapi Allah tahu saat ini ia belum siap menerimanya. Maka ditundalah pengabulan doanya.

Baca juga: Cara Unik Abu Nawas Kejar Maling yang Lari ke Arah Barat: Cegat dari Timur Saja 

3. Dikabulkan dalam bentuk lain

Bisa jadi sebuah doa dikabulkan oleh Allah Subhanahu wa ta'ala dalam bentuk lain, tidak sesuai dengan apa yang diminta oleh sang hamba. Ini dikarenakan apa yang diminta oleh sang hamba sesungguhnya tak ada maslahat dan manfaat baginya, sedangkan apa yang diberikan Allah ada manfaat dan maslahat baginya. Atau, bisa jadi apa yang diminta oleh sang hamba ada manfaatnya, namun apa yang diberikan Allah jauh lebih manfaat dan maslahat.

Seorang pelajar yang sangat ingin meneruskan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi namun terbentur minimnya biaya, ia berdoa memohon kepada Allah Subhanahu wa ta'ala untuk bisa mendapatkan beasiswa. Allah Ta'ala berkehendak mengabulkan permintaannya. Tapi bukan beasiswa yang diberikan kepada sang hamba.

Kepadanya Allah berikan pekerjaan yang dengannya ia dapat menghasilkan uang untuk membiayai pendidikannya, dan itu —dalam pandangan Allah— bisa jadi jauh lebih manfaat bagi sang pelajar dari pada mendapatkan beasiswa. Alhasil, keyakinan bahwa doa akan dikabulkan oleh Allah adalah suatu keharusan. Sedangkan bagaimana cara Allah mengabulkannya pastilah di sana ada kebaikan.

Wallahu a'lam bishawab.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini