Share

Apakah Marah Membatalkan Puasa?

Asthesia Dhea Cantika, Jurnalis · Selasa 26 April 2022 10:40 WIB
https: img.okezone.com content 2022 04 26 330 2585286 apakah-marah-membatalkan-puasa-5uC5hb8XX9.jpg Ilustrasi hukum marah saat menjalankan ibadah puasa. (Foto: Cookie Studio/Freepik)

APAKAH marah membatalkan puasa? Saat puasa baik di bulan Ramadan maupun puasa sunah, banyak yang berspekulasi jika marah akan membatalkan puasa.

Menurut Imam Abu Syuja’ di dalam kitab Taqrib menyebutkan ada sepuluh perkara yang membatalkan puasa. Di antaranya: masuknya sesuatu secara sengaja hingga sampai ke lubang yang terbuka yang menjurus ke perut, masuknya sesuatu lewat lubang luka yang terdapat di bagian kepala, dan menuangkan obat pada salah satu kedua jalan (qubul dan dubur).

Baca juga: Artis-Artis Korea yang Mendapat Hidayah Islam, Nomor 5 Langsung Fokus Belajar Bahasa Arab 

Selain itu, muntah dengan sengaja, bersetubuh secara sengaja (yaitu masuknya zakar) ke dalam kemaluan wanita, keluarnya mani akibat dari sentuhan kulit secara langsung, haid, nifas, dan gila, serta murtad.

Dari sepuluh perkara tersebut, tidak menyebutkan sikap marah di antaranya. Lalu, apakah marah membatalkan puasa? Untuk lebih jelasnya, simak ulasan berikut ini.

Marah adalah salah satu dari ucapan buruk yang makruh dilakukan oleh orang yang sedang puasa. Berkaitan dengan hal ini, sebenarnya Rasulullah Shallallahu alaihi wassallam telah memberi pengarahan di dalam sabda-sabdanya untuk menahan diri agar tidak marah.

Rasulullah Shallallahu alaihi wassallam bersabda:

الصوم جنّة، فلا يرفث ولايجهل، وان امرؤ قاتله أو شاتمه، فليقل: إنّي صائم/ مرتين.

Artinya: "Puasa adalah benteng. Maka hendaknya tidak berkata kotor dan bodoh. Jika ada orang yang mengajaknya bertengkar atau mencacinya, maka hendaknya ia katakan, 'Sesungguhnya aku sedang berpuasa, sebanyak dua kali'."

Baca juga: Humor Abu Nawas: Raja Terjebak Cium Bau Kentut, tapi Kok Malah Ketawa Terbahak-bahak? 

Potongan hadis riwayat Imam Al Bukhari di dalam kitab Shahih tersebut mengajarkan untuk lebih bersikap tenang dan mengendalikan diri dari berkata kotor dan tidak pantas.

Bahkan ketika ada yang mengajak bertengkar pun harus tegas mengatakan bahwa sedang berpuasa. Sebab, puasa yang sedang dijalani seharusnya sudah menjadi tameng atau benteng diri untuk lebih kontrol dalam bersikap dan berucap.

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Selain itu, Rasulullah Shallallahu alaihi wassallam juga sudah memberikan peringatan sejak awal bahwa puasa tidak sekadar menahan diri dari perkara-perkara yang membatalkan puasa, tetapi lebih dari itu, yakni agar puasa tidak sia-sia dan hampa maka hendaknya ia menahan diri dari perkataan yang tak terkontrol.

Sebagaimana hadis riwayat Abu Hurairah yang menginformasikan bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wassallam bersabda:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّوْرِ وَالْعَمَل َبِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِيْ أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

"Siapa yang tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan zur, maka Allah tidak berkepentingan sedikit pun terhadap puasanya." (HR Al Bukhari)

Hadis tersebut sangatlah merefleksi diri bahwa puasa yang dijalani jika tidak dibarengi dengan menghindari perkataan yang jelek atau marah, maka dapat mengurangi pahala puasa yang sedang kita lakukan.

Bahkan puasa dapat tak berarti apa-apa di hadapan Allah Subhanahu wa ta'ala. Imam Ibnu Majah di dalam kitab Sunan juga meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah yang menggambarkan sia-sianya puasa seseorang yang hanya mampu menahan diri dari rasa lapar saja.

رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلاَّ الْجُوْعِ وَرُبَّ قَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ قِيَامِهِ إِلاَّ السَّهْر

"Banyak orang yang berpuasa, namun ia tidak mendapatkan apapun kecuali rasa lapar. Banyak orang yang beribadah di malam hari, namun yang didapatkannya hanyalah keletihan akibat tidak tidur malam." (HR Ibnu Majah)

Sehingga, dapat disimpulkan marah saat berpuasa itu tidak membatalkan puasa, tetapi bisa mengikis pahala puasa. Jika pahala sudah terkikis, bahkan sampai habis, maka puasa yang dilakukan pun akan sia-sia dan hampa.

Oleh sebab itu, alangkah baiknya menjaga lisan, hati dan pikiran dari perkataan dan perbuatan yang memancing emosi saat berpuasa, terutama di bulan yang baik ini.

Wallahu a'lam bishawab.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini