Share

Tata Cara Sholat Jenazah Perempuan Lengkap Bacaan Doanya

Hantoro, Jurnalis · Senin 23 Mei 2022 20:10 WIB
https: img.okezone.com content 2022 05 23 616 2598799 tata-cara-sholat-jenazah-perempuan-lengkap-bacaan-doanya-ooPV6Ubuun.jpg Ilustrasi tata cara sholat jenazah perempuan. (Foto: Istimewa/Sindonews)

TATA cara sholat jenazah perempuan akan dibahas dalam artikel berikut ini. Setiap ada Muslim yang meninggal dunia, maka berhak mendapat sholat jenazah. Sholat jenazah hukumnya fardu kifayah. Artinya, kewajiban Muslim akan gugur jika ada yang melaksanakannya di suatu tempat.

Dikutip dari Muslim.or.id, berikut ini tata cara sholat jenazah perempuan, sebagaimana dijelaskan Ustadz Yulian Purnama S.Kom:

1. Posisi berdiri

Imam berdiri sejajar dengan kepala jenazah laki-laki. Jika jenazahnya perempuan, imam berdiri di bagian tengahnya. Makmum berdiri di belakang imam. Sebagaimana dalam hadis Abu Ghalib:

ู‚ุงู„ ุงู„ุนู„ุงุกู ุจู† ุฒูŠุงุฏ: ูŠุง ุฃุจุง ุญู…ุฒุฉูŽุŒ ู‡ูƒุฐุง ูƒุงู†ูŽ ูŠูุนูŽู„ู ุฑุณูˆู„ู ุงู„ู„ู‡ู ุตู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู‘ูŽู…ุ› ูŠูุตู„ู‘ููŠ ุนู„ู‰ ุงู„ุฌูู†ุงุฒุฉ ูƒุตู„ุงุชููƒุŒ ูŠููƒุจู‘ูุฑ ุนู„ูŠู‡ุง ุฃุฑุจุนู‹ุงุŒ ูˆูŠู‚ูˆู…ู ุนู†ุฏ ุฑุฃุณ ุงู„ุฑู‘ูŽุฌูู„ู ูˆุนุฌูŠุฒุฉู ุงู„ู…ุฑุฃุฉุŸ ู‚ุงู„: ู†ุนู…

"Al โ€˜Ala bin Ziyad mengatakan: wahai Abu Hamzah (Anas bin Malik), apakah praktik Rasulullah Shallallahuโ€™alaihi wassallam dalam sholat jenazah seperti yang engkau lakukan? Bertakbir tiga kali, berdiri di bagian kepala lelaki dan di bagian tengah wanita? Anas bin Malik menjawab: Iya." (HR Abu Dawud Nomor 3194, At Tirmidzi Nomor 1034, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Daud)

Baca juga: Doa Setelah Sholat Jenazahย 

2. Jumlah shaf

Sebagian ulama menganjurkan untuk membuat tiga shaf (barisan) walaupun shaf pertama masih longgar. Berdasarkan hadis:

ู…ูŽู†ู’ ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ุซูŽู„ูŽุงุซูŽุฉู ุตููููˆูู ููŽู‚ูŽุฏู’ ุฃูŽูˆู’ุฌูŽุจูŽ

"Barang siapa yang mensholatkan jenazah dengan membuat tiga shaf, maka wajib baginya (mendapatkan ampunan)." (HR Tirmidzi Nomor 1028)

Ulama khilaf mengenai derajat hadis ini. Pokok permasalahannya adalah pada perawi bernama Muhammad bin Ishaq Al Qurasyi yang merupakan seorang mudallis, dan dalam hadis ini ia melakukan โ€˜anโ€™anah. Ada pembahasan di antara para ulama mengenai โ€˜anโ€™anah Ibnu Ishaq.

Wallahu aโ€™lam, hadits ini lemah karena โ€˜anโ€™anah Ibnu Ishaq. Sebagaimana Syekh Al Albani dalam Dhaโ€™if Al Jamiโ€˜ Nomor 5668 menyatakan hadits ini lemah.

Maka yang menjadi ibrah (hal yang diperhatikan) adalah banyaknya jumlah orang yang mensholati sebagaimana dalam hadis riwayat Muslim, bukan sekadar jumlah tiga shaf.

Baca juga: Tata Cara Sholat Ghaib Sendiriย 

3. Jumlah takbir dan mengangkat tangan

Takbir sholat jenazah sebanyak empat kali. Ulama ijma akan hal ini. Dari Jabir bin Abdillah radhiallahuโ€™anhu:

ุฃู†ู‘ูŽ ุฑุณูˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู‘ูŽู… ุตู„ู‘ูŽู‰ ุนู„ู‰ ุฃูŽุตู’ุญู…ูŽุฉูŽ ุงู„ู†ุฌุงุดูŠู‘ูุŒ ููƒุจู‘ูŽุฑ ุนู„ูŠู‡ ุฃุฑุจุนู‹ุง

"Rasulullah Shallallahuโ€™alaihi wassallam mensholati Ash-hamah An Najasyi, beliau bertakbir empat kali." (HR Bukhari Nomor 1334, Muslim 952)

Ulama ijma mengenai disyariatkannya mengangkat tangan untuk takbir yang pertama. Ibnu Mundzir mengatakan:

ุฃุฌู…ูŽุนูˆุง ุนู„ู‰ ุฃู†ู‘ูŽ ุงู„ู…ุตู„ู‘ููŠ ุนู„ู‰ ุงู„ุฌูู†ุงุฒูŽุฉ ูŠุฑูุน ูŠุฏูŠู‡ ููŠ ุฃูˆู‘ูŽู„ ุชูƒุจูŠุฑุฉ ูŠููƒุจู‘ูุฑู‡ุง

"Ulama ijma bahwa orang yang sholat jenazah disyariatkan mengangkat tangan di takbir yang pertama." (Al Ijma, 44)

Namun mereka khilaf mengenai mengangkat tangan untuk takbir selainnya. Hal yang rajih, disunahkan mengangkat tangan dalam setiap takbir dalam sholat jenazah. Berdasarkan riwayat dari Nafiโ€™ tentang Ibnu Umar radhiallahuโ€™anhu, Nafiโ€™ berkata:

ูƒุงู† ูŠุฑูุนู ูŠูŽุฏูŠู‡ู ููŠ ูƒู„ู‘ู ุชูƒุจูŠุฑุฉู ุนู„ู‰ ุงู„ุฌูู†ุงุฒุฉ

"Ibnu Umar radhiallahuโ€™anhu mengangkat tangannya di setiap kali takbir dalam sholat jenazah." (HR Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushannaf (11498), dihasankan Syekh Ibnu Baz dalam Taโ€™liq beliau terhadap Fathul Baari (3/227))

Juga dalam riwayat dari Ibnu Abbas:

ุฃู†ู‘ูŽู‡ ูƒุงู† ูŠุฑูุนู ูŠูŽุฏูŠู‡ู ููŠ ุชูƒุจูŠุฑุงุชู ุงู„ุฌูู†ุงุฒุฉ

"Bahwasanya beliau biasa mengangkat kedua tangannya setiap kali takbir di sholat jenazah." (Dishahihkan Ibnu Hajar dalam Talkhis Al Habir, 2/291)

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

4. Tempat sholat jenazah

Sholat jenazah lebih utama dilakukan di luar masjid. Sebagaimana yang umum dilakukan di zaman Nabi Muhammad Shallallahuโ€™alaihi wassallam. Dari Abu Hurairah radhiallahuโ€™anhu, ia berkata:

ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ู†ูŽุนูŽู‰ ุงู„ู†ู‘ูŽุฌูŽุงุดููŠู‘ูŽ ูููŠ ุงู„ู’ูŠูŽูˆู’ู…ู ุงู„ู‘ูŽุฐููŠ ู…ูŽุงุชูŽ ูููŠู‡ู ุŒ ุฎูŽุฑูŽุฌูŽ ุฅูู„ูŽู‰ ุงู„ู’ู…ูุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ููŽุตูŽูู‘ูŽ ุจูู‡ูู…ู’ ุŒ ูˆูŽูƒูŽุจู‘ูŽุฑูŽ ุฃูŽุฑู’ุจูŽุนู‹ุง

"Rasulullah Shallallahuโ€™alaihi wassallam mengumumkan kematian An Najasyi di hari ia wafat. Kemudian beliau keluar ke lapangan lalu menyusun shaf untuk sholat, kemudian bertakbir empat kali." (HR Bukhari Nomor 1245)

Namun, boleh juga dikerjakan di dalam masjid. Dari Aisyah radhiyallahu โ€˜anha, ia berkata:

ูˆูŽุงู„ู„ู‡ู ู…ูŽุง ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุณูู‡ูŽูŠู’ู„ู ุจู’ู†ู ุจูŽูŠู’ุถูŽุงุกูŽ ูˆูŽุฃูŽุฎููŠู’ู‡ู ุฅูู„ู‘ูŽุง ูููŠ ุงู„ู’ู…ูŽุณู’ุฌูุฏู

"Demi, Allah! Tidaklah Nabi Shallallahuโ€™alaihi wassallam mensholatkan jenazah Suhail bin Baidhaโ€™ dan saudaranya (Sahl), kecuali di masjid." (HR Muslim Nomor 973)

Dibolehkan bagi orang yang belum sempat mensholatkan jenazah sebelum dikuburkan, lalu ia melakukan sholat jenazah di permakaman. Sebagaimana dalam riwayat dari Ibnu Abbas radhiallahuโ€™anhuma:

ู…ูŽุงุชูŽ ุฅูู†ู’ุณูŽุงู†ูŒ ูƒูŽุงู†ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ูŠูŽุนููˆุฏูู‡ูุŒ ููŽู…ูŽุงุชูŽ ุจูุงู„ู„ู‘ูŽูŠู’ู„ู ููŽุฏูŽููŽู†ููˆู‡ู ู„ูŽูŠู’ู„ู‹ุงุŒ ููŽู„ูŽู…ู‘ูŽุง ุฃูŽุตู’ุจูŽุญูŽ ุฃูŽุฎู’ุจูŽุฑููˆู‡ู ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ: ยซู…ูŽุง ู…ูŽู†ูŽุนูŽูƒูู…ู’ ุฃูŽู†ู’ ุชูุนู’ู„ูู…ููˆู†ููŠุŸยป ู‚ูŽุงู„ููˆุง: ยซูƒูŽุงู†ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽูŠู’ู„ู ููŽูƒูŽุฑูู‡ู’ู†ูŽุง ู€ ูˆูŽูƒูŽุงู†ูŽุชู’ ุธูู„ู’ู…ูŽุฉูŒ ู€ ุฃูŽู†ู’ ู†ูŽุดูู‚ู‘ูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูŽยปุŒ ููŽุฃูŽุชูŽู‰ ู‚ูŽุจู’ุฑูŽู‡ู ููŽุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู

"Seseorang yang biasa dikunjungi Rasulullah Shallallahuโ€™alaihi wassallam telah meninggal. Ia meninggal di malam hari, maka ia pun dikuburkan di malam hari. Ketika pagi hari tiba, para sahabat mengabarkan hal ini kepada Rasulullah. Beliau pun bersabda: 'Apa yang menghalangi kalian untuk segera memberitahukan aku?' Para sahabat menjawab: 'Ketika itu malam hari, kami tidak ingin mengganggumu wahai Rasulullah.' Maka beliau pun mendatangi kuburannya dan sholat jenazah di sana." (HR Bukhari Nomor 1247)

Demikian juga dalam riwayat Muslim:

ุงู†ู’ุชูŽู‡ูŽู‰ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุฅูู„ูŽู‰ ู‚ูŽุจู’ุฑู ุฑูŽุทู’ุจูุ› ููŽุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุตูŽูู‘ููˆุง ุฎูŽู„ู’ููŽู‡ู ูˆูŽูƒูŽุจู‘ูŽุฑูŽ ุฃูŽุฑู’ุจูŽุนู‹ุง

"Rasulullah Shallallahuโ€™alaihi wassallam pernah berhenti di sebuah kuburan yang masih basah. Ia sholat (jenazah) di sana dan menyusun shaf untuk sholat. Beliau bertakbir empat kali." (HR Muslim Nomor 954)

5. Tata cara sholat jenazah

Pertama, niat sholat jenazah. Niat adalah amalan hati tidak perlu dilafalkan.

Kedua, takbir yang pertama. Lalu membaca taโ€™awwudz kemudian Surah Al Fatihah. Berdasarkan keumuman hadis:

ู„ุง ุตู„ุงุฉูŽ ู„ูู…ูŽู† ู„ู… ูŠู‚ุฑุฃู’ ุจูุงุชุญุฉู ุงู„ูƒุชุงุจู

"Tidak ada sholat yang tidak membaca Al Fatihah." (HR Bukhari Nomor 756, Muslim 394)

Kemudian riwayat dari Thalhah bin Abdillah bin Auf, ia berkata:

ุตู„ูŠุชู ุฎู„ููŽ ุงุจู†ู ุนุจู‘ูŽุงุณู ุฑูŽุถููŠูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนู†ู‡ู…ุง ุนู„ู‰ ุฌูู†ุงุฒุฉุŒ ูู‚ุฑูŽุฃูŽ ุจูุงุชุญุฉู ุงู„ูƒุชุงุจูุŒ ู‚ุงู„: ู„ููŠูŽุนู’ู„ู…ูˆุง ุฃู†ู‘ูŽู‡ุง ุณูู†ู‘ูŽุฉูŒ

"Aku sholat bermakmum kepada Ibnu Abbas radhiallahuโ€™anhu dalam sholat jenazah. Beliau membaca Al Fatihah. Beliau lalu berkata: 'Agar mereka tahu bahwa ini adalah sunah (Nabi)'." (HR Bukhari Nomor 1335)

Tidak perlu membaca doa istiftah/iftitah sebelum Surah Al Fatihah.

Ketiga, takbir yang kedua. Kemudian membaca salawat kepada Nabi Muhammad Shallallahu โ€˜alaihi wassallam. Berdasarkan hadis dari Abu Umamah Al Bahili radhiallahuโ€™anhu:

ุฃู†ู‘ูŽ ุงู„ุณู‘ูู†ู‘ูŽุฉูŽ ููŠ ุงู„ุตู‘ูŽู„ุงุฉู ุนู„ู‰ ุงู„ุฌูู†ุงุฒุฉ ุฃู† ูŠููƒุจู‘ูุฑูŽ ุงู„ุฅู…ุงู…ูุŒ ุซู… ูŠู‚ุฑุฃูŽ ุจูุงุชุญุฉู ุงู„ูƒุชุงุจู- ุจุนุฏูŽ ุงู„ุชูƒุจูŠุฑุฉ ุงู„ุฃูˆู„ู‰- ุณูุฑู‘ู‹ุง ููŠ ู†ูู’ุณูู‡ุŒ ุซู… ูŠูุตู„ู‘ููŠูŽ ุนู„ู‰ ุงู„ู†ุจูŠู‘ู ุตู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู‘ูŽู…ุŒ ูˆูŠูุฎู„ูุตูŽ ุงู„ุฏู‘ูุนุงุกูŽ ู„ู„ู…ูŠู‘ูุช ููŠ ุงู„ุชูƒุจูŠุฑุงุชูุŒ ู„ุง ูŠู‚ุฑุฃู ูู‰ ุดู‰ุกู ู…ู†ู‡ู†ู‘ูŽุŒ ุซู… ูŠูุณู„ู‘ูู…

"Bahwa sunnah dalam shalat jenazah adalah imam bertakbir kemudian membaca Al Fatihah (setelah takbir pertama) secara sirr (lirih), kemudian bersalawat kepada Nabi Shallallahuโ€™alaihi wassallam, kemudian berdoa untuk mayit setelah beberapa takbir. Kemudian setelah itu tidak membaca apa-apa lagi setelah itu. Kemudian salam." (HR Asy Syafiโ€™i dalam Musnad-nya Nomor 588, Al Baihaqi dalam Sunan Al Kubra Nomor 7209, dishahihkan Al Albani dalam Ahkamul Janaiz nomor 155)

Keempat, takbir yang ketiga. Kemudian membaca doa untuk jenazah. Berdasarkan hadis Abu Umamah tersebut. Di antara doa yang bisa dibaca adalah:

ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูู…ู‘ูŽ ุงุบู’ููุฑู’ ู„ูŽู‡ู ูˆูŽุงุฑู’ุญูŽู…ู’ู‡ู ูˆูŽุนูŽุงููู‡ู ูˆูŽุงุนู’ูู ุนูŽู†ู’ู‡ู ูˆูŽุฃูŽูƒู’ุฑูู…ู’ ู†ูุฒูู„ูŽู‡ู ูˆูŽูˆูŽุณู‘ูุนู’ ู…ูุฏู’ุฎูŽู„ูŽู‡ู ูˆูŽุงุบู’ุณูู„ู’ู‡ู ุจูุงู„ู’ู…ูŽุงุกู ูˆูŽุงู„ุซู‘ูŽู„ู’ุฌู ูˆูŽุงู„ู’ุจูŽุฑูŽุฏู ูˆูŽู†ูŽู‚ู‘ูู‡ู ู…ูู†ูŽ ุงู„ู’ุฎูŽุทูŽุงูŠูŽุง ูƒูŽู…ูŽุง ู†ูŽู‚ู‘ูŽูŠู’ุชูŽ ุงู„ุซู‘ูŽูˆู’ุจูŽ ุงู„ู’ุฃูŽุจู’ูŠูŽุถูŽ ู…ูู†ูŽ ุงู„ุฏู‘ูŽู†ูŽุณู ูˆูŽุฃูŽุจู’ุฏูู„ู’ู‡ู ุฏูŽุงุฑู‹ุง ุฎูŽูŠู’ุฑู‹ุง ู…ูู†ู’ ุฏูŽุงุฑูู‡ู ูˆูŽุฃูŽู‡ู’ู„ู‹ุง ุฎูŽูŠู’ุฑู‹ุง ู…ูู†ู’ ุฃูŽู‡ู’ู„ูู‡ู ูˆูŽุฒูŽูˆู’ุฌู‹ุง ุฎูŽูŠู’ุฑู‹ุง ู…ูู†ู’ ุฒูŽูˆู’ุฌูู‡ู ูˆูŽุฃูŽุฏู’ุฎูู„ู’ู‡ู ุงู„ู’ุฌูŽู†ู‘ูŽุฉูŽ ูˆูŽุฃูŽุนูุฐู’ู‡ู ู…ูู†ู’ ุนูŽุฐูŽุงุจู ุงู„ู’ู‚ูŽุจู’ุฑู ูˆูŽู…ูู†ู’ ุนูŽุฐูŽุงุจู ุงู„ู†ู‘ูŽุงุฑู

"Ya Allah, berilah ampunan baginya dan rahmatilah dia. Selamatkanlah dan maafkanlah ia. Berilah kehormatan untuknya, luaskanlah tempat masuknya, mandikanlah ia dengan air, es, dan salju. Bersihkanlah dia dari kesalahannya sebagaimana Engkau bersihkan baju yang putih dari kotoran. Gantikanlah baginya rumah yang lebih baik dari rumahnya, keluarga yang lebih baik dari keluarganya semula, istri yang lebih baik dari istrinya semula. Masukkanlah ia ke dalam surga, lindungilah ia dari azab kubur dan azab neraka." (HR Muslim Nomor 963)

ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูู…ู‘ูŽ ุงุบู’ููุฑู’ ู„ูุญูŽูŠู‘ูู†ูŽุง ูˆูŽู…ูŽูŠู‘ูุชูู†ูŽุง ูˆูŽุดูŽุงู‡ูุฏูู†ูŽุง ูˆูŽุบูŽุงุฆูุจูู†ูŽุง ูˆูŽุตูŽุบููŠุฑูู†ูŽุง ูˆูŽูƒูŽุจููŠุฑูู†ูŽุง ูˆูŽุฐูŽูƒูŽุฑูู†ูŽุง ูˆูŽุฃูู†ู’ุซูŽุงู†ูŽุง

"Ya Allah, ampunilah orang yang hidup di antara kami dan orang yang telah mati, yang hadir dan yang tidak hadir, (juga) anak kecil dan orang dewasa, lelaki dan wanita di antara kami." (HR At Tirmidzi Nomor 1024, ia berkata: Hasan shahih)

Kelima, takbir keempat. Kemudian diam sejenak atau boleh juga membaca doa untuk jenazah menurut sebagian ulama. Hal yang lebih utama adalah diam sejenak dan tidak membaca apa-apa sebagaimana zhahir dalam hadis Abu Umamah radhiallahuโ€™anhu.

Keenam, salam. Sifat salamnya sebagaimana salam dalam sholat yang lain. Sebagaimana hadis Ibnu Masโ€™ud radhiallahuโ€™anhu:

ุซู„ุงุซู ุฎูู„ุงู„ู ูƒุงู† ุฑุณูˆู„ู ุงู„ู„ู‡ู ุตู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู‘ูŽู… ูŠูุนู„ู‡ู†ู‘ูŽุŒ ุชุฑูŽูƒูŽู‡ู†ู‘ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุงุณูุ› ุฅุญุฏุงู‡ู†ู‘ูŽ: ุงู„ุชุณู„ูŠู…ู ุนู„ู‰ ุงู„ุฌูู†ุงุฒุฉ ู…ูุซู„ ุงู„ุชู‘ูŽุณู„ูŠู…ู ููŠ ุงู„ุตู‘ูŽู„ุงุฉู

"Ada tiga perkara yang dahulu Rasulullah Shallallahu โ€˜alaihi wa sallam benar-benar melakukannya dan kemudian banyak ditinggalkan orang: Salah satunya salam di shalat jenazah semisal dengan salam dalam sholat yang lain." (HR Ath Thabrani Nomor 10022, dihasankan Al Albani dalam Ahkamul Janaiz (162))

Salam dilakukan dua kali ke kanan dan ke kiri. Lalu yang merupakan rukun hanya salam ke kanan saja.

Allahu a'lam bisshawab.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini