Share

4 Peristiwa Penting di Bulan Dzulqa'dah, Ada Nabi Musa Berbicara dengan Allah Ta'ala

Kastolani, Jurnalis · Selasa 31 Mei 2022 13:45 WIB
https: img.okezone.com content 2022 05 31 330 2603166 4-peristiwa-penting-di-bulan-dzulqa-dah-ada-nabi-musa-berbicara-dengan-allah-ta-ala-BMexS5bqwY.jpg Ilustrasi peristiwa penting di bulan Dzulqa'dah. (Foto: Pixabay)

PERISTIWA penting di bulan Dzulqa'dah sangat baik diketahui kaum Muslimin. Dzulqa'dah sendiri merupakan satu dari empat bulan suci (haram) yang disebutkan Allah Subhanahu wa ta'ala. Masing-masing adalah Dzulqo'dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Sya'ban.

Dinukil dari Rumaysho, Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal M.Sc menerangkan dalil-dalil bulan Dzulqa'dah sebagai bulan suci:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ

Artinya: "Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah 12 bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya 4 bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu." (QS At-Taubah: 36)

Baca juga: 4 Keutamaan Bulan Dzulqa'dah: Waktunya Haji hingga Pahala Amalan Dilipatgandakan 

Empat bulan yang dimaksud disebutkan dalam hadis dari Abu Bakroh, Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda:

الزَّمَانُ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا ، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ، ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ ، وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِى بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ

Artinya: "Setahun berputar sebagaimana keadaannya sejak Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada 12 bulan. Di antaranya ada 4 bulan haram (suci). Tiga bulannya berturut-turut yaitu Dzulqo'dah, Dzulhijjah, dan Muharram. (Satu bulan lagi adalah) Rajab Mudhor yang terletak antara Jumadal (akhir) dan Sya'ban." (HR Bukhari nomor 3197 dan Muslim 1679)

Nah, berikut ini empat peristiwa dalam Islam di bulan Dzulqa'dah:

1. Rasulullah umrah empat kali

Pada bulan Dzulqa'dah, Rasulullah Shallallahu alaihi wassallam menunaikan ibadah umrah sampai empat kali, dan ini termasuk umrah yang diiringi ibadah haji. Dari Anas bin Malik radhiyallahu anhu, Nabi bersabda:

اعْتَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَرْبَعَ عُمَرٍ، كُلَّهُنَّ فِي ذِي القَعْدَةِ، إِلَّا الَّتِي كَانَتْ مَعَ حَجَّتِهِ، عُمْرَةً مِنَ الحُدَيْبِيَةِ فِي ذِي القَعْدَةِ، وَعُمْرَةً مِنَ العَامِ المُقْبِلِ فِي ذِي القَعْدَةِ، وَعُمْرَةً مِنَ الجِعْرَانَةِ، حَيْثُ قَسَمَ غَنَائِمَ حُنَيْنٍ فِي ذِي القَعْدَةِ، وَعُمْرَةً مَعَ حَجَّتِهِ (رواه البخاري)

Artinya: "Rasulullah Shallallahu alaihi wassallam berumrah sebanyak empat kali, semuanya pada bulan Dzulqa'dah kecuali umrah yang dilaksanakan bersama haji beliau, yaitu satu umrah dari Hudaibiyah, satu umrah pada tahun berikutnya, satu umrah dari Ji'ranah ketika membagikan rampasan Perang Hunain dan satu lagi umrah bersama haji." (HR Al Bukhari)

Baca juga: Merinding Dengar Surat Al An'am, Pemuka Agama Ini Mantap Memeluk Islam 

2. Nabi Musa berbicara dengan Allah Ta'ala

Pada bulan Dzulqa'dah, Allah Subhanahu wa ta'ala berjanji kepada Nabi Musa Alaihissalam untuk berbicara dengannya selama 30 malam di bulan Dzulqa'dah, ditambah 10 malam di awal bulan Dzulhijjah berdasarkan pendapat mayoritas para ahli tafsir (Tafsir Ibnu Katsir II/244), sebagaimana firman Allah Ta'ala:

وَوَٰعَدْنَا مُوسَىٰ ثَلَٰثِينَ لَيْلَةً وَأَتْمَمْنَٰهَا بِعَشْرٍ فَتَمَّ مِيقَٰتُ رَبِّهِۦٓ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً ۚ وَقَالَ مُوسَىٰ لِأَخِيهِ هَٰرُونَ ٱخْلُفْنِى فِى قَوْمِى وَأَصْلِحْ وَلَا تَتَّبِعْ سَبِيلَ ٱلْمُفْسِدِينَ

Artinya: "Dan telah Kami janjikan kepada Musa (untuk memberikan Taurat) sesudah berlalu waktu 30 malam, dan Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan 10 (malam lagi) …" (QS Al A'raaf: 142)

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

3. Perang Quraizhah

Kedatangan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam ke Madinah membuat kaum Yahudi yang sebelumnya lebih dulu tinggal di sana mulai kehilangan kenyamanan. Mereka merasa pengaruhnya berkurang karena dua suku yang sebelumnya terus berperang yakni Aus dan Khazraj kini bisa hidup damai setelah kedatangan Rasulullah.

Sejak itu, kebencian terhadap Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wassallam terus merasuki kaum Yahudi hingga kerap membuat makar. Mereka pun kerap mengkhianati janji yang telah disepakati untuk bersama-sama menjaga Madinah.

Tidak lama setelah itu, meletuslah Perang Quraizhah yang terjadi pada akhir bulan Dzulqa'dah. Perang itu terjadi tidak lama setelah kaum Muslimin baru pulang dari Perang Khandaq.

Aisyah Radhiallahu Anha meriwayatkan bahwa ketika Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wassallam baru kembali dari Perang Khandaq didatangi Malaikat Jibril untuk kembali mengangkat pedang.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ لَمَّا رَجَعَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ الْخَنْدَقِ وَوَضَعَ السِّلَاحَ وَاغْتَسَلَ أَتَاهُ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَام فَقَالَ قَدْ وَضَعْتَ السِّلَاحَ وَاللَّهِ مَا وَضَعْنَاهُ فَاخْرُجْ إِلَيْهِمْ قَالَ فَإِلَى أَيْنَ قَالَ هَا هُنَا وَأَشَارَ إِلَى بَنِي قُرَيْظَةَ فَخَرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَيْهِمْ

Artinya: "Dari Aisyah radliallahu anha, ia berkata: Ketika Nabi Shallallahu alaihi wasallam kembali dari Perang Khandaq, setelah beliau meletakkan senjata dan mandi, Malaikat Jibril alaihis salam datang menemui beliau seraya berkata: Apakah anda hendak meletakan senjata? Demi Allah kami tidak akan meletakkannya. Keluarlah Anda (untuk memerangi) mereka. Beliau bertanya: Ke mana? Jibril menjawab: Ke sana. Jibril memberi isyarat (untuk pergi memerangi) Bani Quraizhah. Maka Nabi Shallallahu alaihi wasallam berangkat menyerbu mereka." (HR Bukhari nomor 4117, kitab Fathul Bari, shahih)

4. Perjanjian Hudaibiyah

Dalam buku 'Islam Agama Perang atau Damai?' karya Ahmad Srwat MA dijelaskan Perjanjian Hudaibiyah terjadi pada tahun ke-6 hijriah. Perjanjian Hudiabiyah ini berawaal dari sikap kaum Musyrikin Quraisy yang melarang Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wassallam dan umat Islam melaksanakan umrah.

Rasulullah Shallallahu alaihi wassallam berketetapan untuk melaksanakan umrah ke Makkah. Nabi Shallallahu alaihi wassallam meninggalkan Madinah mengajak istrinya Ummu Salamah serta menyerahkan tugas sebagai imam shalat lima waktu kepada Abdullah bin Ummi Maktum atau Namilah Al Laitsi.

Kabar tersebut terdengar pengusaa Makkah. Mereka pun mengadang Rasulullah Shallallahu alaihi wassallam di Kota Hudaibiyah atau beberapa kilometer sebelum masuk Kota Makkah. Rasulullah yang datang bukan untuk bermaksud perang lantaran tidak membawa senjata kemudian memilih damai dengan membuat perjanjian yang dikenal dengan Perjanjian Hudaibiyah.

Rasulullah Shallallahu alaihi wassallam awalnya mengutus sahabat Utsman bin Affan, namun Utsman ditahan selama beberapa hari. Rasulullah kemudian mengutus sahabat Ali bin Abi Thalib dalam Perjanjian Hudaibiyah. Beberapa poin perjanjian itu antara lain:

Digantinya lafaz Bismillahirrahmanirrahim yang bisa digunakan Rasulullah Shallallahu alaihi wassallam dengan Bismikallahumma. Rasulullah tidak berkebaratan atas kemauan Suhail bin Amr dari perwakilan kaum Quraisy ini.

Kenabian Muhammad Shallallahu alaihi wassallam tidak diakui. Dalam Perjanjian Hudaibiyah, perwakilan kaum kafir Quraisy tidak mau menuliskan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah (Rasulullah). Mereka meminta agar nama Rasulullah diganti dengan Muhammad bin Abdillah.

Wallahu a'lam bisshawab.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini