Share

Apakah Halal Makanan yang Ditemukan di Jalan?

Syifa Fauziah, Jurnalis · Selasa 12 Juli 2022 14:32 WIB
https: img.okezone.com content 2022 07 12 330 2628105 apakah-halal-makanan-yang-ditemukan-di-jalan-U9bcJA80UG.jpg Ilustrasi apakah halal makanan yang ditemukan di jalan? (Foto: Master1305/Freepik)

APAKAH halal makanan yang ditemukan di jalan? Hal ini ditanyakan banyak orang yang terkadang menemukan makanan dalam kondisi baik dan layak dikonsumsi di jalanan. Namun, mereka tidak mengetahui hukum memakannya.

Di satu sisi ingin mengambilnya, sebab bila dibiarkan akan menjadi mubazir. Ada juga niat ingin diambil untuk diberikan kepada orang lain yang membutuhkan karena kondisi makanan itu masih layak dikonsumsi.

Baca juga: 5 Fakta Matahari Tepat di Atas Kakbah 15-16 Juli 2022: Waktu Berlangsungnya hingga Cek Arah Kiblat 

Dikutip dari nu.or.id, dalam beberapa kutub at-turats dijelaskan bahwa benda bernilai yang ditemukan di tempat yang tidak bertuan (tidak dimiliki oleh seseorang) seperti jalan raya, masjid, pasar dan fasilitas umum lainnya, maka benda disebut sebagai barang temuan atau luqathah.

Tidak hanya barang, makanan yang ditemukan dijalan juga bagian dari luqathah. Para ulama’ mazhab Syafi’i secara khusus memberikan ketentuan dalam menangani makanan yang ditemukan di jalan, yakni dengan diberikan dua opsi pilihan bagi penemu makanan tersebut (multaqith):

Pertama, penemu mengonsumsinya dan mengganti dengan nominal harga dari makanan tersebut tatkala pemilik makanan telah diketahui.

Kedua, penemu menjual makanan tersebut lalu menyimpan uang hasil penjualan makanan itu untuk diberikan kepada pemilik makanan tatkala ditemukan. (Ibnu Qasim al-Ghazi, Fath al-Qarib, Hal. 81)

Berdasarkan dua ketentuan tersebut, dapat dipahami pula bahwa memberikan makanan yang ditemukan di jalan kepada orang yang lebih membutuhkan adalah hal yang diperbolehkan. Sebab, termasuk cakupan dari opsi pertama di atas karena mengonsumsi makanan yang ditemukan di jalan dengan memberikan makanan tersebut pada orang lain, dalam kajian fikih memiliki illat yang sama yakni itlaf (merusak barang temuan), sehingga memiliki konsekuensi hukum yang sama.

Lalu apakah wajib bagi penemu makanan mencari pemilik makanan atau mengumumkan kepada khalayak luas tentang makanan yang ditemukannya, sebagaimana ketentuan dalam bab luqathah?

Baca juga: Kejar Maling yang Lari ke Arah Barat, Abu Nawas Kok Malah Cegat dari Timur? 

Wajib atau tidaknya mengumumkan makanan hasil temuan secara umum diperinci berdasarkan jenis makanan yang ditemukan:

Jika makanan yang ditemukan bersifat remeh-temeh, sekiranya menurut penilaian umumnya orang ('urf) pemilik makanan ketika kehilangan makanan tidak akan mencarinya, maka tidak wajib bagi penemu untuk mengumumkannya atau mencari pemilik makanan yang ditemukan olehnya dan ia langsung dapat memiliki makanan tersebut. Misal seperti menemukan sepotong kurma, sesuap nasi dan makanan lain yang terdapat indikasi pemilik makanan sudah tidak membutuhkannya lagi.

Namun jika makanan yang ditemukan tergolong bernilai, sekiranya menurut penilaian umumnya orang pemilik makanan ketika kehilangan makanan tersebut pasti akan mencarinya, maka wajib bagi penemu untuk mengumumkannya atau mencari pemilik makanan yang ditemukan olehnya. Seperti menemukan nasi satu bungkus beserta lauk pauk yang masih utuh dan baru, serta makanan-makanan lain terdapat indikasi pemilik makanan masih membutuhkannya.

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Dua perincian tersebut berdasarkan referensi dalam kitab Al-Fiqh al-Manhaji berikut:

‎إذا وجد المرء شيئا ضائعا بمعنى اللقطة الذي عرفت ، ينظر:

‎فإن كان شيئا تافها: أي ليس من شأن الناس عادة - إذا فقدوه - ان يطلبوه ويبحثوا عنه ، كاللقمة والتمرة ونحو ذلك، حسب عرف كل مكان وزمان، فإن الملتقط يتملك ذلكدون ان يعرف به او يتعرف عليه

‎وقد دل على ذلك: حديث أنس رضى الله عنه قال: مر النبي صلى الله عليه وسلم بتمرة في الطريق، قال: "لولا أني أخاف أن تكون من الصدقة لأكلتها" . (البخاري

‎وإن كان شيئا ذا قيمة: أي من شان الناس أن يطلبوه إذا فقدوه ويبحثوا عنه، كان على الملتقط تعريفه

Artinya: "Ketika seseorang menemukan barang temuan maka diperinci: Jika barang temuan tersebut adalah harta yang remeh-temeh, sekiranya umumnya orang ketika kehilangan harta tersebut tidak akan mencarinya, seperti sesuap nasi, satu buah kurma dan sesamanya yang disesuaikan kebiasaan setiap tempat dan waktu, maka orang yang menemukan harta temuan sejenis ini dapat memilikinya tanpa perlu mengumumkan dan berupaya mencari tahu tentang barang temuan tersebut."

Baca juga: Jabal Qurban, Bukit Saksi Ketaatan Nabi Ibrahim dan Ismail pada Allah Ta'ala 

Ketentuan demikian berdasarkan hadis riwayat sahabat Anas Radhiyallahu anhu, ia berkata: "Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wassallam lewat di jalan sembari menemukan satu buah kurma, lalu beliau bersabda: Kalau saja aku tidak khawatir kurma itu adalah harta sedekah, tentu aku akan memakannya'." (HR Bukhari)

Jika barang temuan berupa harta yang bernilai, sekiranya umumnya orang ketika kehilangan harta tersebut akan mencarinya, maka wajib bagi orang yang menemukannya untuk mengumumkan barang temuan tersebut (ke khalayak umum). (Musthafa Khin DKK, al-Fiqh al-Manhaji, Juz 7, Hal. 74)

Mengumumkan atas penemuan makanan yang bernilai dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti dengan memberi tahu orang yang berada di sekitar tempat ditemukannya makanan kalau ada makanan yang ditemukan olehnya, dengan menempelkan kertas yang berisi pemberitahuan atas ditemukannya makanan di tempat tersebut, atau cara-cara lain yang dipandang efektif dalam memberi tahu kepada khalayak umum tentang ditemukannya sebuah makanan di tempat tersebut. (Sayyid Muhammad bin Ahmad bin Umar as-Syatiri, Syarh al-Yaqut an-Nafis, Hal. 509, Cet. Darul Minhaj)

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa makanan yang ditemukan di jalan raya atau di tempat fasilitas umum lainnya berstatus sebagai luqathah, sehingga hanya boleh dimakan atau diberikan kepada orang lain dengan syarat penemu makanan mengganti dengan uang seharga makanan tersebut ketika pemilik makanan telah ditemukan.

Sedangkan ketika ada indikasi pemilik makanan sudah tidak mencari dan tidak membutuhkannya lagi, karena makanan bersifat remeh-temeh, maka penemu makanan dapat langsung memiliki makanan tersebut tanpa perlu mengumumkan pada khalayak umum tentang makanan yang ditemukannya itu.

Baca juga: Dapat Hidayah, Gadis Cantik Ini Rutin Touring Motor Antarkota demi Pelajari Islam 

Namun jika ternyata pemilik makanan menagihnya, meski makanan itu bersifat remeh-temeh, maka wajib bagi penemu makanan untuk mengembalikannya atau mengganti dengan nominal harga makanan yang ditemukan olehnya.

Berbeda halnya jika makanan ditemukan bukan di fasilitas umum, tapi di tempat yang dimiliki oleh seseorang seperti rumah, toko, halaman rumah, dan tempat khusus lainnya, maka dalam keadaan demikian makanan sudah bukan bagian dari luqathah. Tetapi makanan berstatus milik pemilik tempat ditemukannya makanan tersebut dan penemu makanan wajib mengembalikan atau memberi tahu kepada pemilik tempat tersebut.

Wallahu a'lam bisshawab.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini