Share

3 Kriteria Mati Syahid Impian Kaum Muslimin, Dapat Tempat Terbaik di Surga

Tim Okezone, Jurnalis · Senin 18 Juli 2022 19:18 WIB
https: img.okezone.com content 2022 07 18 330 2631673 3-kriteria-mati-syahid-impian-kaum-muslimin-dapat-tempat-terbaik-di-surga-KGjrv66wlD.jpg Ilustrasi kriteria mati syahid impian kaum Muslimin. (Foto: Dok Okezone)

KAUM Muslimin mengimpikan bisa mati syahid atas izn Allah Subhanahu wa ta'ala. Ini tentu akan memberikan ganjaran tempat terbaik di surga.

Mati syahid merupakan seseorang yang meninggal dunia dalam keadaan membela agama Islam. Namun apabila meninggal dalam keadaan tidak membela agama, bukan merupakan mati syahid yang sesungguhnya.

Baca juga: Cerita Gadis Cantik Ucap Syahadat Diantar Ibunya yang Non-Muslim, Beri Dukungan Penuh 

"Seperti zaman Rasulullah dalam berbagai perang seperti Perang Badar dan Uhud para sahabat dan umat Islam yang gugur merupakan mati syahid. Syahid itu dari kata syahadat atau menyaksikan, secara estimologi syahid itu orang yang dapat menyaksikan. Menyaksikan dalam hal ini pahalanya, ketika meninggal dapat melihat surga, malaikat yang menjemputnya, atau bahkan melihat perjuangannya. Ini kematian idaman bagi seluruh umat Islam," ujar Ustadz Muhammad Ilham.

Menurutnya, zaman dahulu ada seorang sahabat Nabi Shallallahu alaihi wassallam bernama Khalid bin Walid yang berperang melawan musuh Islam namun sangat menyesal karena ia tidak gugur di medan pertempuran.

Sedangkan luka-luka yang dideritanya sangat parah. Di zaman Nabi, seluruh Muslim mengorbankan jiwa dan hartanya demi agama yang bertujuan untuk mati syahid.

Baca juga: Mengenal Jawed Karim, Sosok Muslim Genius Pendiri YouTube 

Ia menambahkan terdapat tiga kriteria mati syahid. Pertama, mati syahid dunia akhirat yang dialami para sahabat Nabi Shallallahu alaihi wassallam dalam berjuang di jalan Allah Subhanahu wa ta'ala lantas gugur. Saat ini konteks yang relevan dengan mati syahid dunia akhirat dialami oleh para pejuang di Palestina dalam mempertahankan agama Islam.

Terdapat kisah Hamzah bin Abdul Muthalib yang gugur dalam Perang Uhud karena ditombak. Hal itu merupakan kisah seseorang yang mati syahid dunia akhirat pahalanya. Darah seseorang yang mati syahid wanginya ibarat minyak kasturi. Bahkan, dalam peperangan seseorang yang mati syahid jenazahnya tidak dimandikan namun langsung dikuburkan. Mati syahid dunia akhirat merupakan idaman bagi seluruh umat namun tidak mudah untuk memerolehnya.

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Kedua, mati syahid dunia. Dikisahkan saat Perang Uhud seseorang yang berjuang di jalan Allah Subhanahu wa ta'ala namun tidak meniatkan diri untuk mati syahid. Peperangan diniatkannya untuk memperoleh harta rampasan perang atau gonimah. Hal itu terjadi ketika pemanah muslim yang berada di atas gunung melihat orang kafir gugur lantas berkeinginan untuk memperoleh harta orang kafir itu.

"Padahal sesungguhnya itu merupakan siasat orang kafir untuk membunuh para pemanah Muslim. Karena masuk perangkap, pemanah Muslim gugur, itu merupakan mati syahid dunia," lanjutnya.

Ketiga, mati syahid akhirat atau seseorang yang memperoleh pahala mati syahid seperti orang yang meninggal karena wabah penyakit, musibah yang berat, atau seorang ibu yang meninggal karena melahirkan anaknya.

Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman, "Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri, dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah, lalu mereka terbunuh atau membunuh. Itu telah menjadi janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan Alquran." (QS At-Taubah: 111)

Ini merupakan ayat yang memberikan motivasi atau semangat juang para Muslim untuk berjuang di jalan Allah meski harus gugur dalam medan perang. Turunnya ayat itu ketika seorang sahabat hendak makan lalu terdengar suara panggilan jihad fi sabilillah.

Mereka yang sedang hendak makan menyadari bahwa makanan itulah yang akan menghalanginya masuk ke surga. Ia menaruh makanannya lalu turun ke medan perang dan gugur.

Menurut Ustadz Ilham, Islam mengajarkan kedamaian dan Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wassallam tidak pernah mencontohkan. Munculnya peperangan zaman dahulu karena Islam diperangi dan umat Islam selalu mempertahankan diri.

"Namun yang perlu diingat yakni hukum qisas atau orang yang melakukan pembunuhan dengan sengaja tanpa alasan yang jelas maka pelaku harus memeroleh hukuman yang sama seperti yang pelaku lakukan," katanya.

Terdapat riwayat yang menyebutkan bahwa seseorang mengaku sebagai mati syahid namun Allah Subhanahu wa ta'ala mengetahui bahwa yang dilakukannya adalah dusta karena niat perangnya hanya untuk memeroleh harta. Sedangkan konteks mati syahid yakni harta, jiwa, dan agama.

Allahu a'lam bisshawab.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini