Share

Hukum Mengunggah Perbuatan Amal ke Media Sosial

Hantoro, Jurnalis · Selasa 02 Agustus 2022 11:00 WIB
https: img.okezone.com content 2022 08 02 330 2640454 hukum-mengunggah-perbuatan-amal-ke-media-sosial-y1tobZ677b.jpg Ilustrasi hukum mengunggah perbuatan amal ke media sosial. (Foto: Angela Compagnone/Unsplash)

HUKUM mengunggah perbuatan amal ke media sosial sangat penting diketahui setiap Muslim. Apakah boleh atau dilarang menurut syariat Islam?

Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah KH Fathurrahman Kamal khawatir dengan adanya media sosial dan media massa yang lain. Sebab melalui media-media tersebut banyak amal kebajikan yang disombongkan.

Baca juga: Kisah Bule Cerdas Ucap Syahadat Usai Teliti Biografi Nabi Muhammad 

Info grafis amalan bulan Muharram. (Foto: Okezone)

KH Fathurrahman menerangkan, jika semua amal yang dikerjakan ditulis dan di-publish di medsos maka pertanyaannya adalah Malaikat Raqib dan Atid tugasnya sekarang apa? Sebab, tugas mencatat amal sudah diwakili oleh media sosial.

Pengajian-pengajian yang diselenggarakan diunggah melalui medsos dan media digital lain. Semua amal kebajikan yang dilakukan tercatat di memori-memori perangkat digital. Di zaman penh fitnah ini juga rawan menjadikan penceramah terpeleset karena dua sifat, yaitu ujub dan riya.

Baca juga: Fatwa MUI soal Uang Panai Pernikahan: Mubah Selama Tidak Menyalahi Prinsip Syariah 

Padahal, ikhlas sebagai lawan dari sifat ujub atau riya/sombong merupakan "benteng tebal" yang menahan manusia dari godaan setan. Namun karena dominannya sifat sombong pada diri manusia, menyebabkan benteng pertahanan manusia dari godaan setan mudah jebol.

"Pagi-pagi bikin status, tahajud dulu bro. Apa yang tidak diriyakan oleh orang?" ucap KH Fathurrahman di acara Pengajian Ahad Pon yang diadakan PDM Kudus, Ahad 31 Juli 2022, dikutip dari Muhammadiyah.or.id.

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Dosen Fakultas Agama Islam UMY ini menjelaskan bahwa ujub merupakan kebanggan diri yang ada di dalam hati dan tidak diucapkan. Sementara riya merupakan bangga dan pamer terhadap orang lain. Hal yang satu bersifat intrapersonal ke dalam yang riya itu bersifat interpersonal.

Oleh karena itu, ia mewanti-wanti kaum Muslimin supaya tidak terjangkit penyakit ini. Menurutnya, masyarakat yang gemar sholat, berzakat, puasa, dan sedekah harus berhati-hati, dan takutlah jika di hatinya terdapat penyakit ini.

Allahu a'lam bisshawab.

Baca juga: 2 Doa Menghilangkan Jerawat dalam Islam, Insya Allah Kembali Bersih dan Sehat 

Baca juga: Bacaan Dzikir Pagi Hari Ini: Meraih Kepintaran dan Ilmu Bermanfaat 

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini