Share

Cerita Mukjizat Nabi Nuh Selamat dari Banjir Bandang dan Kasih Sayang kepada Anaknya

Melati Septyana Pratiwi, Jurnalis · Selasa 30 Agustus 2022 10:10 WIB
https: img.okezone.com content 2022 08 30 614 2657171 cerita-mukjizat-nabi-nuh-selamat-dari-banjir-bandang-dan-kasih-sayang-kepada-anaknya-OFG99GmpMf.jpg Ilustrasi cerita mukjizat Nabi Nuh selamat dari banjir bandang. (Foto: Shutterstock)

CERITA mukjizat Nabi Nuh Alaihissallam bisa selamat dari banjir bandang sangat menarik diketahui setiap Muslim. Mukjizat yang diberikan Allah Subhanahu wa ta'ala kepada Nabi Nuh begitu luar biasa. Berkat petunjuk dan kebesaran Allah Ta'ala, Nabi Nuh beserta para pengikutnya yang taat berhasil selamat dari banjir bandang.

Sebagaimana MNC Portal himpun, kisah ini bermula dari perjuangan Nabi Nuh Alaihissallam yang mengajak para penyembah berhala untuk ikut ke Jalan Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Namun, mereka menolak mentah-mentah ajakan Nabi Nuh.

Ilustrasi kapal Nabi Nuh Alaihissallam. (Foto: Istimewa)

Satu kata pun tidak dihiraukan. Mereka tetap menjalankan rutinitas bersujud kepada berhala, memberi kurban sebagai persembahan, pesta arak hingga seks.

Meski begitu, bukan artinya Nabi Nuh Alaihissallam sama sekali tidak memiliki pengikut. Ada, hanya saja jumlah kurang dari 100 atau sekira 70 sampai 80 orang.

Apakah orang-orang tersebut termasuk pula keluarga Nabi Nuh Alaihissallam sendiri? Jawabannya tidak. Sang istri dan putranya yakni Kan'an enggan mengikuti jejak ayahnya untuk menyembah Allah Subhanahu wa ta'ala.

Keluarga Nabi Nuh Alaihissallam bahkan tega menghasut orang-orang untuk mengabaikan ajakan baik sang Nabi. Suatu ketika para pemimpin kaum kafir mengatakan akan ikut ajaran Nabi Nuh, namun syaratnya adalah para pengikut sang Nabi yang dinilai hina itu diusir. 

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Tentu saja Nabi Nuh Alaihissallam menolak mentah-mentah. Penolakan berimbas pada tantangan terkait azab.

"Bila memang kedurhakaan mereka kepada Allah Subhanahu wa ta'ala akan mendatangkan azab yang besar maka segeralah datang azab tersebut," ucap kaum tersebut.

Atas peristiwa itu, Nabi Nuh Alaihissallam segera memohon doa maupun petunjuk. Allah Subhanahu wa Ta'ala memerintahkan Nabi Nuh untuk membuat bahtera atau kapal berukuran besar dari kayu.

وَاصْنَعِ الْفُلْكَ بِأَعْيُنِنَا وَوَحْيِنَا وَلاَتُخَاطِبْنِي فِي الَّذِينَ ظَلَمُوا إِنَّهُم مُّغْرَقُونَ

"Dan buatlah bahtera itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami, dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku perihal orang-orang yang zalim itu. Sesungguhnya mereka nanti akan ditenggelamkan." (QS Hud: 37)

Bertahun-tahun Nabi Nuh Alaihissallam bersabar membangun kapal besar itu. Kaum penyembah berhala terus-menerus menganggap Nabi Nuh sebagai orang gila lantaran membuat kapal besar di bukit gurun pasir. 

Tapi perintah Allah Subhanahu wa ta'ala tidak pernah salah. Allah Ta'ala pun meminta Nabi Nuh Alaihissallam bersiap-siap terhadap musibah besar berupa banjir bandang. Air banjir sendiri mulai muncul dari dalam rumah Nabi Nuh.

حَتّٰۤى اِذَا جَآءَ اَمۡرُنَا وَفَارَ التَّنُّوۡرُۙ قُلۡنَا احۡمِلۡ فِيۡهَا مِنۡ كُلٍّ زَوۡجَيۡنِ اثۡنَيۡنِ وَاَهۡلَكَ اِلَّا مَنۡ سَبَقَ عَلَيۡهِ الۡقَوۡلُ وَمَنۡ اٰمَنَؕ وَمَاۤ اٰمَنَ مَعَهٗۤ اِلَّا قَلِيۡلٌ

"Hingga apabila perintah Kami datang dan tannur telah memancarkan air, Kami berfirman: 'Muatkanlah ke dalam bahtera itu dari masing-masing binatang sepasang (jantan dan betina), dan keluargamu kecuali orang yang terdahulu ketetapan terhadapnya dan (muatkanlah pula) orang-orang yang beriman.' Dan tidak beriman bersama Nuh itu kecuali sedikit." (QS Hud: 40)

Nabi Nuh Alaihissallam mulai membuka kapal miliknya dan meminta para pengikutnya untuk naik. Malaikat Jibril pun turut membantu menggiring seluruh hewan ke dalam kapal Nabi Nuh agar tidak mengalami kepunahan.

Makin lama air makin meninggi akibat hujan turun luar biasa deras. Penduduk yang tidak meyakini adanya Allah Subhanahu wa ta'ala dan menentang Nabi Nuh Alaihissallam pun satu per satu tenggelam.

Bahkan, anak Nabi Nuh Alaihissallam menjadi salah satu yang tidak selamat. Sang anak menolak diselamatkan ke dalam kapal.

وَهِىَ تَجۡرِىۡ بِهِمۡ فِىۡ مَوۡجٍ كَالۡجِبَالِ وَنَادٰى نُوۡحُ اۨبۡنَهٗ وَكَانَ فِىۡ مَعۡزِلٍ يّٰبُنَىَّ ارۡكَبْ مَّعَنَا وَلَا تَكُنۡ مَّعَ الۡكٰفِرِيۡنَ

"Dan kapal itu berlayar membawa mereka ke dalam gelombang laksana gunung-gunung. Dan Nuh memanggil anaknya, ketika dia (anak itu) berada di tempat yang jauh terpencil, 'Wahai anakku! Naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah engkau bersama orang-orang kafir'." (QS Hud: 42) 

قَالَ سَاٰوِىۡۤ اِلٰى جَبَلٍ يَّعۡصِمُنِىۡ مِنَ الۡمَآءِؕ قَالَ لَا عَاصِمَ الۡيَوۡمَ مِنۡ اَمۡرِ اللّٰهِ اِلَّا مَنۡ رَّحِمَۚ وَحَالَ بَيۡنَهُمَا الۡمَوۡجُ فَكَانَ مِنَ الۡمُغۡرَقِيۡنَ‏

"Dia (anaknya) menjawab, 'Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat menghindarkan aku dari air bah.' (Nuh) berkata, 'Tidak ada yang melindungi dari siksaan Allah pada hari ini selain Allah Yang Maha Penyayang.' Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka dia (anak itu) termasuk orang yang ditenggelamkan." (QS Hud: 43)

Pilihan anak Nabi Nuh Alaihissallam sama sekali tidak tepat. Penolakan untuk diselamatkan pun membawa petaka bagi dirinya sendiri yakni ikut hanyut ke dalam banjir bandang yang Allah Subhanahu wa ta'ala turunkan.

Sementara Nabi Nuh Alaihissallam beserta seluruh penumpang, manusia maupun hewan, di kapal kayu miliknya pun selamat. 

Wallahu a'lam bisshawab

1
4

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini