Share

Bersuci Lebih Baik Pakai Tisu Kering atau Basah? Ini Kata MUI

Hantoro, Jurnalis · Kamis 03 November 2022 10:22 WIB
https: img.okezone.com content 2022 11 03 330 2699964 bersuci-lebih-baik-pakai-tisu-kering-atau-basah-ini-kata-mui-xO7b1nGqEv.jpg Ilustrasi bersuci menggunakan tisu kering dan basah. (Foto: Freepik)

BANYAK orang bertanya, bersuci lebih baik memakai tisu kering atau basah? Majelis Ulama Indonesia (MUI) pun memberikan jawabannya. Mari disimak.

Dikutip dari mui.or.id, dalam fikih, bersuci atau membersihkan kotoran sehabis buang hajat disebut dengan istinjaโ€™ dan istijmar. Istinjaโ€™ maknanya lebih umum yaitu membersihkan kotoran sehabis buang hajat dengan menggunakan air dan batu. Sedangkan istijmar adalah membersihkan kotoran dengan menggunakan batu saja.

BACA JUGA:Jadwal Sholat Hari Ini Kamis 3 November 2022M/8 Rabiul Akhir 1444Hย 

Boleh mengganti batu untuk membersihkan kotoran saat buang hajat dengan yang lainnya asalkan memenuhi tiga syarat: (1) Bendanya suci, (2) Bisa membersihkan atau mengangkat kotoran, (3) Bukan sesuatu yang berharga (dimuliakan) seperti istinjaโ€™ dengan makanan atau dengan ekor hewan.

Dari syarat tersebut dapat disimpulkan bahwa tisu toilet boleh digunakan untuk beristinjaโ€™.

Beristinjaโ€˜ dengan batu atau tisu tidak boleh kurang dari tiga lembar tisue, karena tiga tisu umumnya akan lebih bersih. Namun jika tiga tisu masih belum menghilangkan kotoran, boleh ditambah lebih dari tiga hingga kotorannya bersih.

Hadis yang dijadikan dalil dalam hal ini adalah:

ุนูŽู†ู’ ุณูŽู„ู’ู…ูŽุงู†ูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ู‚ููŠู„ูŽ ู„ูŽู‡ู ู‚ูŽุฏู’ ุนูŽู„ูŽู‘ู…ูŽูƒูู…ู’ ู†ูŽุจููŠูู‘ูƒูู…ู’ -ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…- ูƒูู„ูŽู‘ ุดูŽู‰ู’ุกู ุญูŽุชูŽู‘ู‰ ุงู„ู’ุฎูุฑูŽุงุกูŽุฉูŽ. ู‚ูŽุงู„ูŽ ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุฃูŽุฌูŽู„ู’ ู„ูŽู‚ูŽุฏู’ ู†ูŽู‡ูŽุงู†ูŽุง ุฃูŽู†ู’ ู†ูŽุณู’ุชูŽู‚ู’ุจูู„ูŽ ุงู„ู’ู‚ูุจู’ู„ูŽุฉูŽ ู„ูุบูŽุงุฆูุทู ุฃูŽูˆู’ ุจูŽูˆู’ู„ู ุฃูŽูˆู’ ุฃูŽู†ู’ ู†ูŽุณู’ุชูŽู†ู’ุฌูู‰ูŽ ุจูุงู„ู’ูŠูŽู…ููŠู†ู ุฃูŽูˆู’ ุฃูŽู†ู’ ู†ูŽุณู’ุชูŽู†ู’ุฌูู‰ูŽ ุจูุฃูŽู‚ูŽู„ูŽู‘ ู…ูู†ู’ ุซูŽู„ุงูŽุซูŽุฉู ุฃูŽุญู’ุฌูŽุงุฑู ุฃูŽูˆู’ ุฃูŽู†ู’ ู†ูŽุณู’ุชูŽู†ู’ุฌูู‰ูŽ ุจูุฑูŽุฌููŠุนู ุฃูŽูˆู’ ุจูุนูŽุธู’ู…ู

"Dari Salman, ia berkata bahwa ada yang bertanya padanya, 'Apakah Nabi kalian mengajarkan kepada kalian segala sesuatu sampai dalam hal buang kotoran?' Salman menjawab, 'Iya. Nabi kami Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam telah melarang kami menghadap kiblat ketika buang air besar maupun air kecil. Beliau juga melarang kami beristinjaโ€™ dengan tangan kanan. Beliau juga melarang kami beristinjaโ€™ dengan kurang dari tiga batu. Begitu pula kami dilarang beristinjaโ€™ dengan menggunakan kotoran dan tulang'." (HR Muslim nomor 262)

Adapun yang lebih afdal adalah istijmar lalu istinjaโ€™. Dikarenakan istijmar dengan batu atau penggantinya menghilangkan kotoran tanpa menyentuhnya secara langsung. Lalu setelah itu air yang akan membersihkan kotoran yang tersisa.

Boleh memilih antara istijmar dengan batu atau istinjaโ€™ dengan air. Namun beristinjaโ€™ dengan air lebih utama karena lebih membersihkan kotoran.

BACA JUGA:Viral Haru Driver Ojol Berbagi Sepotong Roti dengan 2 Anaknya di Pinggir Trotoar, Barakallah!ย 

Alasan lainnya adalah hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu tentang penduduk Qubaโ€™ yang menjadi sebab turunnya ayat berikut:

ูููŠู‡ู ุฑูุฌูŽุงู„ูŒ ูŠูุญูุจูู‘ูˆู†ูŽ ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽุชูŽุทูŽู‡ูŽู‘ุฑููˆุง ูˆูŽุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ูŠูุญูุจูู‘ ุงู„ู’ู…ูุทูŽู‘ู‡ูู‘ุฑููŠู†ูŽ

"Di dalamnya masjid itu ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersih." (QS At-Taubah: 108)

"Dahulu mereka terbiasa beristinjaโ€™ dengan air lantas turunlah ayat ini." (HR Tirmidzi nomor 3100; Abu Dawud: 44; Ibnu Majah: 355. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan hadits ini hasan)ย 

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Adapun berkaitan dengan penggunaan tisu kering atau tisu basah. Berkata Al Hattab dalam Mawahib al Jalil, tidak boleh beristinjaโ€™ dengan batu yang basah karena akan menyebarkan najisnya. Begitu juga dengan yang disampaikan oleh Ar-Ramli dalam Nihayatul Muhtaj:

Jika beristinjaโ€™ dengan batu yang basah maka tidak sah istinjaโ€™-nya, karena akan menajisi tempat keluarnya dengan air tersebut. Maka dengan mengusapnya memakai tisu kering tidak akan menyebarkan najisnya. Berbeda dengan tisu basah yang airnya bukan jenis yang mengalir sehingga tidak bisa menghilangkan najisnya.

Dengan melihat dari pendapat ulama tersebut, maka istinjaโ€™ dengan tisu harusnya menggunakan tisu kering dengan hitungan yang telah disepekati oleh ulama seperti dijelaskan sebelumnya.

Alhasil, dalam hal bersuci dari najis yang keluar dari qubul dan dubur, dua hal harus diperhatikan yakni pembersihan atau tanzif, dan kedua adalah inqaau atau pembeningan.

Alat utama adalah air yang bisa mewujudkan keduanya. Namun bila tidak ada air atau terbatas air atau tidak ada sama sekali, maka boleh pakai kayu tongkat, batu, atau daun; syaratnya adalah benda yang mampu meresap dan menarik kotoran dan membeningkan tempatnya.

Dalam sunnah Rasul dipakai tongkat dan batu. Adapun daun saat ini diqiyaskan dengan tisu, namun yang tepat adalah tisu kering karena dalam fikih dikenal kata istijmaar yaitu membersihkan dengan batu yang tidak licin.

Wallahu a'lam bisshawab.ย 

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini