Share

Bergaya Nyeleneh, Abu Nawas Malah Mau Diangkat Jadi Hakim, Kok Bisa?

Fini Nola Rachmawati, Jurnalis · Jum'at 18 November 2022 06:18 WIB
https: img.okezone.com content 2022 11 17 614 2709579 bergaya-nyeleneh-abu-nawas-malah-mau-diangkat-jadi-hakim-kok-bisa-KtPVQwnnle.jpg Ilustrasi cerita lucu Abu Nawas mau diangkat jadi hakim. (Foto: YouTube Doa Ibu Guru)

ABU Nawas dikenal sebagai sosok yang selalu bergaya nyeleneh. Tapi tersiar kabar dia akan diangkat menjadi hakim di negerinya. Kok bisa?

Berawal dari suatu hari ayah Abu Nawas yang menjabat sebagai hakim (qadi) istana menderita sakit parah dan kritis. Abu Nawas pun dipanggil untuk menghadap.

BACA JUGA:Surat Al Kahfi Ayat 1-110, Bacaan Sunnah Setiap Jumat Berkah, Lengkap di Alquran Digital Okezone 

Abu Nawas langsung datang, kemudian mendapati ayahnya sudah sangat lemah.

"Hai anakku, aku sudah hampir mati. Sekarang ciumlah telinga kanan dan telinga kiriku," pinta ayah Abu Nawas seperti dilansir nu.or.id

Info grafis sunah-sunah di hari Jumat. (Foto: Okezone)

Abu Nawas segera menuruti permintaan ayahnya. Dia mencium telinga kanan ayahnya, ternyata beraroma harum. Sedangkan telinga sebelah kiri berbau sangat busuk.

"Bagaimana anakku? Sudah kau cium?" tanya ayahnya.

BACA JUGA:8 Sunnah di Hari Jumat: Baca Surat Al Kahfi hingga Larangan ketika Menyimak Khotbah 

"Sudah, ayah," jawab Abu Nawas.

"Ceritakan dengan sejujurnya aroma kedua telingaku ini," ucap ayah Abu Nawas.

"Aduh, yah. Sungguh mengherankan. Telinga ayah yang sebelah kanan harum sekali, tapi yang sebelah kiri kok baunya amat busuk?" ungkap Abu Nawas. 

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

"Hai anakku Abu Nawas, tahukah apa sebabnya bisa terjadi begitu?" tutur sang ayah.

"Wahai ayahku, cobalah ceritakan kepada anakmu ini," pinta Abu Nawas.

"Pada suatu hari datang dua orang mengadukan masalahnya kepadaku. Yang seorang aku dengarkan keluhannya. Tapi yang seorang lagi karena aku tak suka maka tak kudengar pengaduannya. Inilah risiko menjadi qadi (penghulu)," jelas ayahanda Abu Nawas.

"Jika kelak kau suka menjadi qadi, maka kau akan mengalami hal yang sama. Namun jika kau tidak suka menjadi qadi, maka buatlah alasan yang masuk akal agar kau tidak dipilih sebagai qadi oleh Raja Harun Al Rasyid. Tapi tak bisa tidak Raja Harun Al Rasyid pastilah tetap memilihmu sebagai qadi," lanjutnya. 

Info grafis keutamaan membaca Surat Al Kahfi. (Foto: Okezone)

Itulah sebabnya Abu Nawas pura-pura menjadi gila. Hanya untuk menghindarkan diri agar tidak diangkat menjadi qadi. Seorang qadi atau penghulu pada masa itu kedudukannya seperti hakim yang memutus suatu perkara.

Walaupun tidak menjadi qadi, Abu Nawas sering diajak konsultasi oleh Raja untuk memutus suatu perkara. Bahkan, dia kerap kali dipaksa datang ke istana untuk sekadar menjawab pertanyaan Baginda Raja yang aneh-aneh dan tidak masuk akal.

Allahu a'lam bisshawab

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini