Share

Hukum Merayakan Ulang Tahun Menurut Islam

Hantoro, Jurnalis · Kamis 29 Desember 2022 15:29 WIB
https: img.okezone.com content 2022 12 29 330 2736446 hukum-merayakan-ulang-tahun-menurut-islam-gDh2nZWHjy.jpg Ilustrasi hukum merayakan ulang tahun menurut Islam. (Foto: Freepik)

HUKUM merayakan ulang tahun menurut Islam, apakah boleh atau justru terlarang bagi kaum Muslimin? Berikut ini penjelasan lengkapnya beserta dalil-dalil yang menyertainya.

Dikutip dari laman Almanhaj, ulama besar Arab Saudi Syekh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin pernah ditanya: Apakah perayaan ulang tahun anak termasuk tasyabbuh (tindakan menyerupai) dengan budaya orang Barat yang kafir ataukah semacam cara menyenangkan dan menggembirakan hati anak dan keluarga?

BACA JUGA: Mencela Hujan, Ketahui Hukumnya Menurut Islam 

Beliau menjawab, perayaan ulang tahun anak tidak lepas dari dua hal, yakni dianggap sebagai ibadah atau hanya adat kebiasaan. Kalau dimaksudkan sebagai ibadah, maka hal itu termasuk bid'ah dalam agama Allah Subhanahu wa Ta'ala. Padahal peringatan dari amalan bid'ah dan penegasan bahwa dia termasuk sesat telah datang dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. 

Info grafis keutamaan membaca Surat Al Kahfi. (Foto: Okezone)

Nabi Shallallahu alaihi wassallam bersabda:

وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ ، فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ ، وَ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَ كُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ

Artinya: "Jauhilah perkara-perkara baru. Sesungguhnya setiap bid'ah adalah sesat. Dan setiap kesesatan berada dalam neraka."

BACA JUGA:Begini Hukum Melayat dan Mendoakan Jenazah Non-Muslim 

Namun jika dimaksudkan sebagai adat kebiasaan saja, maka hal itu mengandung dua sisi larangan:

Pertama, menjadikannya sebagai salah satu hari raya yang sebenarnya bukan merupakan hari raya ('ied). Tindakan ini berarti suatu kelancangan terhadap Allah Subhanahu wa Ta'ala dan Rasul-Nya, di mana umat Islam menetapkannya sebagai 'ied (hari raya) dalam Islam, padahal Allah dan Rasul-Nya tidak pernah menjadikannya sebagai hari raya.

Saat memasuki Kota Madinah, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendapati dua hari raya yang digunakan kaum Anshar sebagai waktu bersenang-senang dan menganggapnya sebagai hari 'ied, maka beliau bersabda:

إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ الأَضْحَى وَيَوْمَ الْفِطْر

Artinya: "Sesungguhnya Allah telah menggantikan bagi kalian hari yang lebih baik dari keduanya, yaitu 'Idul Fitri dan 'Idul Adha." 

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Follow Berita Okezone di Google News

Kedua, adanya unsur tasyabbuh (menyerupai) dengan musuh-musuh Allah Subhanahu wa Ta'ala. Budaya ini bukan merupakan budaya kaum Muslimin, namun warisan dari non-Muslim. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

Artinya: "Barang siapa meniru-niru suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka."

Kemudian panjang umur bagi seseorang tidak selalu berbuah baik, kecuali kalau dihabiskan dalam menggapai keridhaan Allah dan ketaatan-Nya. Sebaik-baik orang adalah orang yang panjang umurnya dan baik amalannya. Sementara orang yang paling buruk adalah manusia yang panjang umurnya dan buruk amalannya.

Oleh karena itu, sebagian ulama tidak menyukai doa agar dikaruniakan umur panjang secara mutlak. Mereka kurang setuju dengan ungkapan: "Semoga Allah memanjangkan umurmu" kecuali dengan keterangan "Dalam ketaatan-Nya" atau "Dalam kebaikan" atau kalimat yang serupa.

Alasannya umur panjang kadang kala tidak baik bagi yang bersangkutan, karena umur yang panjang jika disertai dengan amalan yang buruk –semoga Allah menjauhkan kita darinya– hanya akan membawa keburukan baginya, serta menambah siksaan dan malapetaka. 

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَالَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِنْ حَيْثُ لَا يَعْلَمُونَ﴿١٨٢﴾وَأُمْلِي لَهُمْ ۚ إِنَّ كَيْدِي مَتِينٌ

Artinya: "Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan), dengan cara yang tidak mereka ketahui. Dan Aku memberi tangguh kepada mereka. Sesungguhnya rencana amat teguh." (QS Al A'raf /7: 182–183)

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:

وَلَا يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّمَا نُمْلِي لَهُمْ خَيْرٌ لِأَنْفُسِهِمْ ۚ إِنَّمَا نُمْلِي لَهُمْ لِيَزْدَادُوا إِثْمًا ۚ وَلَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ

Artinya: "Dan janganlah sekali-kali orang kafir menyangka bahwa pemberian tangguh Kami kepada mereka adalah labih baik bagi mereka. Sesungguhnya Kami memberi tangguh kepada mereka hanyalah supaya bertambah-tambah dosa mereka, dan bagi mereka adzab yang menghinakan." (QS Ali Imran/3: 178)

Wallahu a'lam bisshawab

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini