Share

Kisah Nabi Muhammad Mengibaratkan Guru sebagai Bintang di Langit Bumi

Hantoro, Jurnalis · Rabu 18 Januari 2023 12:18 WIB
https: img.okezone.com content 2023 01 18 614 2748452 kisah-nabi-muhammad-mengibaratkan-guru-sebagai-bintang-di-langit-bumi-hQpJAdOioR.jpg Ilustrasi kisah Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wassallam mengibaratkan guru sebagai bintang di langit bumi. (Foto: Istimewa/mui.or.id)

INILAH kisah Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wassallam mengibaratkan guru sebagai bintang di langit bumi. Hal tersebut mencerminkan bahwa Rasulullah selalu menilai guru atau ulama adal sosok yang mulia.

Dilansir laman Rumaysho, dai muda asal Yogyakarta Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal M.Sc mengungkapkan bahwa Nabi Muhammad Shallallahu โ€˜alaihi wa sallam memisalkan ulama atau guru yang alim seperti bintang yang menjadi petunjuk arah saat di kegelapan.

BACA JUGA:Kisah Nabi Hud dan Azab Angin Dingin yang Memusnahkan Kaum Adย 

Info grafis manfaat sholawat Nabi. (Foto: Okezone)

BACA JUGA:Kisah Nabi Muhammad Membuat Kambing Kurus Menghasilkan Susu Melimpahย 

Dijelaskan dalam kitab Musnad Al Imam Ahmad, dari Anas, Nabi Muhammad Shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda:

"Permisalan ulama di muka bumi seperti bintang yang ada di langit. Bintang dapat memberi petunjuk pada orang yang berada di gelap malam di daratan maupun di lautan. Jika bintang tak muncul, manusia tak mendapatkan petunjuk."

Selama ilmu ada, manusia akan terus berada dalam petunjuk. Ilmu tetap terus ada selama ulama ada. Apabila ulama dan penggantinya sudah tiada, jadilah manusia tersesat.ย 

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Follow Berita Okezone di Google News

Sebagaimana diterangkan dalam kitab Shahihain, dari โ€˜Abdullah bin โ€˜Amr, dari Nabi Shallallahu โ€˜alaihi wa sallam, ia berkata:

ุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ู„ุงูŽ ูŠูŽู‚ู’ุจูุถู ุงู„ู’ุนูู„ู’ู…ูŽ ุงู†ู’ุชูุฒูŽุงุนู‹ุง ุŒ ูŠูŽู†ู’ุชูŽุฒูุนูู‡ู ู…ูู†ูŽ ุงู„ู’ุนูุจูŽุงุฏู ุŒ ูˆูŽู„ูŽูƒูู†ู’ ูŠูŽู‚ู’ุจูุถู ุงู„ู’ุนูู„ู’ู…ูŽ ุจูู‚ูŽุจู’ุถู ุงู„ู’ุนูู„ูŽู…ูŽุงุกู ุŒ ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ุฅูุฐูŽุง ู„ูŽู…ู’ ูŠูุจู’ู‚ู ุนูŽุงู„ูู…ู‹ุง ุŒ ุงุชู‘ูŽุฎูŽุฐูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุงุณู ุฑูุกููˆุณู‹ุง ุฌูู‡ู‘ูŽุงู„ุงู‹ ููŽุณูุฆูู„ููˆุง ุŒ ููŽุฃูŽูู’ุชูŽูˆู’ุง ุจูุบูŽูŠู’ุฑู ุนูู„ู’ู…ู ุŒ ููŽุถูŽู„ู‘ููˆุง ูˆูŽุฃูŽุถูŽู„ู‘ููˆุง

"Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu begitu saja, dicabut dari para hamba. Ketahuilah ilmu itu mudah dicabut dengan diwafatkannya para ulama sampai tidak tersisa seorang alim pun. Akhirnya, manusia menjadikan orang-orang bodoh sebagai tempat rujukan. Jadinya, ketika ditanya, ia pun berfatwa tanpa ilmu. Ia sesat dan orang-orang pun ikut tersesat."

(HR Bukhari nomor 100 dan Muslim: 2673. Jamiโ€™ Al โ€˜Ulum wa Al-Hikam, karya Ibnu Rajab Al-Hambali, 2: 298)

Sungguh jasa guru dan ulama begitu besar. Bayangkan jika tidak ada guru atau ulama yang membimbing umat manusia dalam beribadah dan kehidupan sehari-hari, tentu bisa menjadi sesat.

Wallahu a'lam bisshawab.ย 

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini