BANYAK rumah makin besar, tapi keluarganya makin kecil. Tanda engkau menua dan akhirnya semua manusia sibuk dengan urusan masing-masing. Terlebih lagi saat memasuki Alam Barzakh dan Padang Mahsyar.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ وَأُمِّهِ وَأَبِيهِ وَصَاحِبَتِهِ وَبَنِيهِ لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ يَوْمَئِذٍ شَأْنٌ يُغْنِيهِ
Artinya: "Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya." (QS 'Abasa: 34–37)
Gelar makin tinggi, namun akal sehat makin rendah. Akhlak tidak lagi diperhatikan dan tidak dipedulikan karena mengejar gelar dan predikat di hadapan manusia.
Inilah kesalahan yang perlu kita perbaiki, kita giat menuntut ilmu karena menjadikan sebagai wawasan saja, agar mendapat kedudukan sebagai seorang yang tinggi ilmunya, dihormati banyak orang dan diakui keilmuannya.
Kita perlu menanamkan dengan kuat bahwa niat menambah ilmu agar memperbaiki akhlak dan amal kita.
Penghasilan makin meningkat, tapi ketenangan jiwa makin berkurang. Padahal dulu menyangka kalau harta bisa menentramkan jiwa, menjamin hari-hari masa depan, tapi ternyata tidak.
Ketenangan jiwa makin berkurang karena kita terlalu mencintai dunia dan lupa pada urusan akhirat. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
يوم لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَّلَا بَنُوْنَ إلا من أتى الله بقلب سليم
Artinya: "(yaitu) pada hari (ketika) harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih." (QS Asy-Syu'ara': 88–89)
Belajar makin mudah, guru makin tidak dihargai. Tontonan makin seru, tuntutan makin hilang. Kemudahan yang ada ini ternyata berdampak kepada kualitas dan kebenaran keilmuan yang didapat oleh masyarakat.
Di samping karena faktor kurang selektifnya pengguna internet dalam memilih ilmu mana yang valid yang bertebaran di internet, tidak adanya sanad atau silsilah dan guru juga memengaruhi kualitas dan pola pikir masyarakat. Terlebih lagi hubungannya dengan ilmu-ilmu agama.
Maka dari itu, kita dianjurkan memiliki guru dan berbuat baik kepada guru agar ilmu kita berkah. Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم bersabda: "Belajarlah kalian dan mengajarlah, dan hormatilah guru-gurumu, serta berlaku baiklah terhadap orang yang mengajarkanmu." (HR Thabrani)
Di dalam kitab Tafsir Ruh Al-Bayan fii Tafsir Al-Qur'an karya Isma'il Haqqi Al-Hanafi (wafat 1715 M):
مَنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ شَيْخٌ فَشَيْخُهُ الشَّيْطَانُ
Artinya: "Barang siapa yang tidak mempunyai guru, maka gurunya adalah setan." (Tafsir Ruh Al Bayan, 5/264)
Imam Asy-Syafi'i berkata: "Orang yang rendah ilmu banyak bicara, orang yang tinggi ilmunya akan banyak terdiam. Maka ketika engkau menyampaikan kebenaran, engkau akan menerima dua reaksi, yaitu orang yang cerdas akan merenung sedangkan orang yang bodoh akan tersinggung."
Allah 'Azza wa Jalla berfirman:
اِقْتَرَبَ لِلنَّاسِ حِسَابُهُمْ وَهُمْ فِيْ غَفْلَةٍ مُّعْرِضُوْنَ ۚ ﴿الأنبياء : ۱﴾
Artinya: "Telah semakin dekat bagi manusia perhitungan amal mereka, sedang mereka dalam keadaan lalai (dengan dunia), berpaling (dari akhirat)." (QS Al Anbiya': 1)
Hadanallahu waiyyakum ajma'in.
Oleh:
Ustadz Ady Kurniawan Al Asyrofi
(Hantoro)