Penulis: Taufiq R. Abdullah, Anggota Komisi 1 DPR RI Fraksi PKB/ Wakil Sekretaris Dewan Syuro DPP PKB
AHAD pagi, 18 Oktober 2026, Kiai Syukron Ma'mun berpulang menghadap Sang Khalik. Ribuan orang berdatangan ke kompleks Pesantren Darurrahman, Jagakarsa, Jakarta Selatan. Mereka membawa doa, kenangan, dan penghormatan terakhir kepada seorang ulama yang sepanjang hayatnya dikenal teguh memegang keyakinan, berani menyuarakan pikiran, dan tak pernah lelah memperjuangkan cita-citanya.
Beliau termasuk jenis tokoh yang semakin sulit ditemukan: berani berbeda pendapat, tidak merasa perlu menyenangkan semua orang, dan tidak mudah tergoda oleh uang maupun kekuasaan.
Kiai kelahiran Sampang, Madura, 21 Desember 1941, ini menempuh pendidikan di Pondok Modern Darussalam Gontor. Sejak muda aktif di lingkungan NU, antara lain melalui IPNU dan PMII. Dikenal sebagai singa panggung, beliau menjadi orator dakwah dan juru kampanye andalan di lingkungan politik NU. Beliau juga pernah memimpin Lembaga Dakwah PBNU pada masa kepemimpinan Gus Dur.
Ketika reformasi membuka kembali ruang kebebasan politik, Gus Dur menjadi tokoh utama kelahiran Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), sedangkan Kiai Syukron mendirikan Partai Nahdlatul Ummat (PNU).
Perjalanan hidup Kiai Syukron bertumpu pada tiga matra pengabdian: pendidikan pesantren, dakwah, dan politik. Ketiganya menyatu dalam keyakinan bahwa Islam bukan hanya untuk diajarkan, tetapi juga diperjuangkan agar nilai-nilainya mewarnai kehidupan masyarakat dan negara.
Pada 2002, saya berkesempatan menunaikan ibadah haji satu rombongan bersama beliau. Hampir setiap pagi kami sarapan bersama. Dari perjumpaan sederhana itu tumbuh keakraban. Kami berbincang tentang banyak hal, termasuk kehidupan politik dan masa depan perjuangan umat.
Lebih dari dua dasawarsa kemudian, sepanjang 2023–2025, saya beberapa kali kembali sowan. Sebagai seorang yang jauh lebih senior, beliau banyak memberikan nasihat dan pandangan. Salah satu perbincangan yang paling membekas menyangkut hubungan Islam dengan partai politik, khususnya asas PKB.
Berbeda Pandangan
Kiai Syukron berpandangan bahwa PKB, partai yang lahir dari rahim perjuangan ulama NU, semestinya secara eksplisit mencantumkan Islam Ahlussunnah wal Jamaah sebagai asasnya. Bagi beliau, asas bukan sekadar rumusan formal dalam anggaran dasar, melainkan penegasan identitas dan arah perjuangan.
Saya menyampaikan pandangan berbeda. Partai politik bukan hanya harus memiliki keyakinan dan cita-cita yang benar, tetapi juga harus mampu hidup, diterima, tumbuh, dan berkembang dalam masyarakat yang heterogen dan multikultural.
Islam adalah sumber nilai perjuangan. Namun, menjadikannya sebagai sumber nilai tidak selalu mengharuskan penggunaan Islam sebagai asas formal partai. Nilai-nilai Islam yang universal—keadilan, kemanusiaan, kejujuran, dan kemaslahatan—justru harus mampu menjangkau masyarakat seluas-luasnya.
Saya juga mengemukakan pengalaman sejumlah partai berasas agama yang sulit berkembang menjadi kekuatan politik besar, termasuk partai yang pernah beliau perjuangkan sendiri.
Dalam demokrasi, keteguhan ideologi memang penting. Tetapi kemampuan memperoleh kepercayaan masyarakat juga menentukan. Partai yang merasa benar menurut dirinya sendiri, tetapi tidak memperoleh dukungan rakyat, akhirnya hanya akan menjadi kumpulan orang baik yang rajin menyelenggarakan rapat.
Perbincangan kami berlangsung hangat, bahkan sesekali menyerupai perdebatan. Kiai Syukron mula-mula kukuh mempertahankan pendiriannya, tetapi perlahan membuka ruang bagi argumentasi yang saya sampaikan.
Bukan berarti beliau meninggalkan keyakinannya. Kami hanya berusaha menemukan titik temu di antara dua cara pandang yang berbeda.
Beliau ingin menjaga nilai-nilai Islam melalui ketegasan identitas ideologis. Sementara saya berpandangan bahwa nilai-nilai tersebut dapat diperjuangkan melalui partai yang terbuka dan mampu menghimpun masyarakat seluas-luasnya.
Jalan pikiran boleh berbeda, tetapi tujuan akhirnya bisa berdekatan. Satu pihak mengkhawatirkan partai kehilangan Islamnya. Pihak lainnya mengkhawatirkan partai kehilangan rakyatnya. Dan jangan sampai terjadi, keduanya sama-sama hilang sekaligus.
Di situlah rasa ta'dhim saya semakin bertambah. Kiai Syukron bukan orang yang mudah mengubah pendirian, tetapi juga bukan orang yang menutup telinga. Beliau menunjukkan bahwa keteguhan tidak harus berubah menjadi kekakuan, dan keterbukaan tidak selalu berarti kehilangan prinsip.
Memendam Kegelisahan
Ada satu kritik Kiai Syukron terhadap kehidupan politik Indonesia yang sangat membekas dalam ingatan saya. Dengan penuh keprihatinan, beliau pernah menyampaikan bahwa partai politik kita semakin kehilangan jati dirinya.
Partai tidak lagi sepenuhnya berfungsi sebagai institusi perjuangan gagasan dan ideologi, melainkan cenderung menjadi organisasi yang sekadar mengantarkan orang mengikuti kontestasi elektoral, baik dalam pemilihan legislatif, kepala daerah, maupun presiden.
Pernyataan itu sepintas terdengar berlebihan. Namun, di balik ungkapannya yang keras, tersimpan kegelisahan mendalam terhadap semakin memudarnya fungsi dan hakikat partai politik.
Partai semestinya menjadi tempat gagasan dilahirkan, ideologi diperjuangkan, kader ditempa, kepemimpinan dipersiapkan, serta aspirasi rakyat diartikulasikan menjadi agenda perjuangan.
Sayangnya, fungsi-fungsi mendasar tersebut kerap terdesak oleh pragmatisme elektoral. Popularitas, kekuatan finansial, dan peluang kemenangan tidak jarang lebih menentukan daripada integritas, kapasitas kepemimpinan, dan kedalaman gagasan.
Ideologi berisiko menjadi sekadar hiasan anggaran dasar. Kaderisasi menyusut menjadi rutinitas organisasi. Pendidikan politik semakin tersisih oleh kesibukan memenangkan kontestasi.
Partai pun terancam menjadi sekadar penyedia kendaraan elektoral: siapa memiliki bekal dan peluang, dipersilakan naik. Adapun arah perjalanan dan cita-cita yang hendak dituju, justru menjadi urusan belakangan.
Kritik Kiai Syukron bukan semata-mata menyangkut perilaku para politisi, tetapi merupakan ekspresi kegelisahan seorang ulama yang juga politisi, menyentuh persoalan yang lebih mendasar: semakin jauhnya politik dari nilai, moralitas, dan cita-cita perjuangan.
Jalan Pengabdian
Kiai Syukron bukan hanya seorang politisi yang teguh memegang prinsip. Beliau terutama adalah seorang ulama yang mengabdikan hidupnya melalui pendidikan, dakwah, dan pembinaan umat.
Pesantren Darurrahman menjadi salah satu wujud nyata pengabdiannya. Di sana, perjuangan tidak diukur dengan perolehan suara atau kemenangan politik, melainkan dengan ilmu yang diajarkan, akhlak yang ditanamkan, dan generasi yang dipersiapkan.
Tidak semua cita-cita politik beliau terwujud. Tidak semua gagasannya diterima. Namun, beliau tidak berhenti memperjuangkan apa yang diyakininya.
Seorang pejuang memang tidak semestinya diukur hanya dari keberhasilannya memenangkan pertandingan.
Dalam politik, orang menghitung suara. Tetapi dalam perjuangan, orang menimbang ketulusan, keberanian, dan pengorbanan. Kiai Syukron telah memberikan teladan tentang ketiganya.
Kini beliau telah menyelesaikan perjalanan panjang pengabdiannya. Dari Madura, Gontor, Pesantren Darurrahman, hingga panggung politik nasional, beliau menempuh jalan hidup yang tidak selalu mudah, tetapi dijalani dengan keteguhan.
Kepergiannya meninggalkan pertanyaan yang patut direnungkan: masih adakah partai politik yang sungguh-sungguh memperjuangkan nilai dan cita-cita, atau semuanya perlahan berubah menjadi kendaraan menuju kekuasaan?
Kiai Syukron akan dikenang sebagai ulama yang teguh dalam keyakinan, berani menyuarakan kegelisahan, tetapi tetap memiliki kelapangan hati untuk menghargai perbedaan, dan perjuangan harus disertai keikhlasan.
Selamat jalan, Kiai. Keteguhanmu menjadi teladan, kegelisahanmu menjadi pengingat, dan pengabdianmu menjadi bagian dari sejarah perjuangan umat.
Semoga Allah menganugerahkan surga-Nya kepadamu.
Al-Fatihah.
(Fahmi Firdaus )