Keberadaan Jamaah Haji Nonkuota Berhasil Dibatasi

Akmal Irawan, Jurnalis
Minggu 21 Oktober 2012 08:51 WIB
Jamaah haji Indonesia (Foto: Dok. Okezone)
Share :

MAKKAH - Jamaah calon haji nonkuota memberikan beban kepada pelaksana petugas haji Indonesia di Arab Saudi. Dikarenakan sebagian besar jamaah haji nonkuota hanya diantarkan sampai tanah suci oleh biro perjalanan.

Dirjen Penyelenggaran Haji dan Umroh (PHU) Kementrian Agama Anggito Abimanyu  menyatakan penyelenggaraan haji tahun ini diharapkan dapat lebih tertib dari tahun-tahun sebelumnya. Banyak pembenahan  menurutnya yang telah dilakukan untuk memperbaiki kualitas pelayanan  bagi jamaah haji.

“Salah satu  contoh adalah  kerjasama antara pihak kementrian  agama dan kedutaan besar Arab Saudi untuk berkoordinasi dalam  mengeluarkan visa  haji nonkuota. Hasilnya dari data kita hanya ada sekira 120-an  haji nonkuota yang di Arab Saudi saat ini. Kita meminta agar kedutaan untuk benar-benar mengetatkan visa haji di luar kuota,” ujar Anggito kepada wartawan di Daker Makkah, Sabtu (20/10/2012).

Jumlah ini  menurutnya jauh lebih berkurang dari jumlah jemaah haji non kuota tahun lalu yang mencapai ribuan orang. Dengan berkuranganya jumlah jemaah haji nonkuota dirinya pun mengharapkan agar paling tidak persoalan yang disebabkan oleh jemaah haji  non kuota juga berkurang  karena biasanya karena banyak biro perjalanan  yang memberangkatkan mereka menelantarkan  mereka dan  lari dari tanggung jawab.

“Jamaah haji nonkuota ini biasanya diberangkatkan tanpa jaminan pelayanan. Mereka cenderung ditinggalkan oleh perusahaan travelnya di Arab Saudi sehingga banyak menimbulkan masalah. Mereka tidak terlayani dengan  baik dan akhirnya justru merepotkan karena ikut menggunakan fasilitas haji jamaah kuota. Dengan berkuranganya jamaah nonkuota maka saya harapkan masalah sedikit bisa berkurang,” ujar Anggito lagi.

Terkait masalah yang umum yang biasanya terjadi seperti perumahan, transporatasi dan katering, Anggita mengatakan PPIH juga telah melakukan langkah-langkah perbaikan. Baru kali ini menurutnya PPIH membuat kebijakan pengawasan terkait katering, transporatasi dan penginapan atau penempatan.

“Seperti masalah penempatan jamaah di Mina. Dulu karena tidak ada yang mengawasi seringkali terjadi satu kemah bisa terjadi penumpukan jamaah karena tumpang tindih dan tidak ada yang mengawasi. Tapi tahun ini kita menempatkan pengawas sehingga diharapkan  tidak ada lagi jemaah  tumpang tindih,” jelasnya.

Sementara untuk katering dirinya pun menyebutkan bahwa saat ini sudah didatangkan koki-koki masak dari Indonesia untuk mengawasi katering dan memberikan cita rasa Indonesia. ”Untuk di Armina petugas yang  ikut berhaji, baju ihramnya juga kita beri cap petugas haji Indonesia. Jadi kalau ada masalah, jamaah jangan segan-segan menegur dan bertanya pada mereka. Kita juga menyiapkan petugas yang  tidak ikut berhaji,” tegas Anggito.

Terkait pelaksanaan haji pada tahun mendatang, Anggito pun berjanji untuk memperbaiki berbagai layanan. Dirinya pun melihat ada beberapa kendala terkait lansia dan jamaah  yang sakit yang akan diperbaiki. Jumlah petugas kesehatan  untuk lansia dan jamaah sakit menurutnya akan ditambahkan

“Kalau tahun ini jamaah  lansia itu menggunakan sisa kuota yang tidak terpakai, sehingga perencanaan  pelayanan tidak bisa dimaksimalkan. Tahun depan  kita akan tetapkan  dari awal bahwa sehingga bisa direncanakan pelayanan yang maksimal. Misalnya dengan  membentuk kloter khusus lansia dan jemaah  sakit sehingga jumlah tenaga medis untuk kedua jenis jamaah ini bisa ditambahkan. Sehingga pelayanan kesehatan bagi yang muda dan sehat tidak disamakan dengan pelayanan bagi jemaah haji yang sudah tua dan sakit karena mereka membutuhkan pelayanan  khusus. Begitupun dengan  ibadahnya,” tandasnya.

(M Budi Santosa)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Muslim lainnya