Tak terasa, sebentar lagi akan memasuki musim haji. Seluruh umat dari penjuru dunia akan berbondong-bondong datang ke Tanah Suci, Makkah dan Madinah untuk melaksanakan salah satu rukun Islam ini. Namun apa itu sebenarnya haji?
Menurut Ketua Umum PP Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU), Ali Masykur Musa atau yang sering disapa Cak Ali, ibadah haji adalah salah satu ibadah fisik. Dikatakan ibadah fisik karena semua kegiatannya melibatkan fisik, dimulai dari miqat, proses tawaf hingga sa'i.
"Haji adalah ibadah yang mulai dari awal itu adalah ibadah fisik. Mulai dari miqat, memakai pakaian ihram dan orang harus tahu bahwa orang itu sudah naik haji. Begitu juga sampai yang disebut dengan proses tawaf sampai di Armina jumroh itu, hingga melakukan sa'i, semuanya adalah ibadah fisik" ucapnya kepada Okezone, Senin (15/07/2019).
Ketika Allah SWT memerintahkan sesuatu pasti ada makna dan manfaatnya untuk kebaikan manusia. Sesuatu yang bermanfaat dan dibutuhkan manusia dalam kehidupan pun pasti disyariatkan atau diperintahkan oleh-Nya.
Apakah makna Allah SWT memerintahkan umatnya untuk beribadah fisik?
"Makna yang terkandung haji itu adalah secara demokrasi tidak membedakan antara manusia yang satu dengan manusia yang lain. Ketika wukuf di Arafah 'hey saya pejabat loh, kamu bukan. Hey saya presiden loh, kamu rakyat jelata' tidak. Semua pakaiannya sama sejak memakai pakaian ihram. Itu menunjukan bahwa manusia secara fisik jangan menunjukkan arogansi, bahwa saya lebih tinggi daripada Anda. Ini makna yang terkandung adalah sebaik-baiknya di sisi Allah adalah orang yang paling takwa, bukan karena jabatannya," terang Cak Ali.
Sama seperti ibadah-ibadah yang lain, dalam ibadah haji juga terdapat syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh seseorang agar bisa menunaikan ibadah haji. Syarat itu disebut dengan manistatho'a ilaihi sabila. Sebagaimana firman Allah Swt dalam Alquran: “Walillahi `alannasi hijjul baiti manistata'a ilaihi sabila (mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah).” (QS. Ali Imran: 97)