MADINAH - Ada empat hal yang membuat kesehatan jamaah haji mengalami gangguan hingga memicu sakit, bahkan akhirnya sampai meninggal dunia.
Empat hal ini yang diwaspadai Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH). Hal-hal ini yang ditenggarai membuat angka jamaah wafat mengalami kenaikan.
"Ada empat hal yang bisa membuat seseorang mengalami gangguan kesehatan atau meninggal," kata Kepala Seksi Kesehatan PPIH Daker Madinah dr. Edi Supriatna, Senin (26/8/2019).
Pertama, kata dia, adalah air. Jika jamaah kurang minum air, maka ada mengalami dehidrasi. "Air, ringan. Cuma air saja. Tapi kalau tidak minum, haus. Cuaca tinggi, potensi dehidrasi karena kelembaban rendah, di bawah 50 persen," jelas dia.
Kedua, suhu. Suhu yang tinggi dengan tingkat kelembaban rendah menjadi hal yang harus diantisipasi dengan baik.
"Kalau batuk-batuk itu dehidrasi. Kalau tenggorokan gatal, artinya kurang minum," cetus dia.
Baca Juga: Pemerintah Siap Minta Tambahan Kuota Haji Usai Renovasi Mina Rampung
Akibat selanjutnya, jika sudah sakit tenggorokan, badan akan menjadi panas. "Kemudian, badan jadi panas. Kalau sudah dehidrasi, jadi disorientasi, dia tidak tahu tempatnya (berada) di mana, waktunya kapan," beber dia.
Ketiga, faktor kelelahan. Di mana saat ini, jamaah haji telah melalui puncak haji, yakni fase Arafah, Muzdalifah dan Mina (Armuzna). Kemudian, untuk jamaah haji gelombang II didorong ke Madinah.
"Dengan kelelahan ini, pebyakit yang ada di dirinya tercetus," beber dia.
Keempat, kemampuan adaptasi. Menurut Edi, hal ini sebenarnya bisa dilantih semenjak jamaah masih berada di Tanah Air.
"Di Indonesia, harus sering salat jamaah di Masjid. Pulang pergi salag Dhuhur akan kepanasan, itu minimal sudah adaptasi dengan suhu di Arab Saudi," jelas dia.
(Edi Hidayat)