Pasangan Ini Menikah Usai Ikuti Ajang Perjodohan WNI Muslim di Amerika

Wilda Fajriah, Jurnalis
Selasa 11 Februari 2020 11:50 WIB
Foto: VOA Indonesia
Share :

PERNIKAHAN termasuk perkara yang diperintahkan dalam ajaran Islam. Banyak dalil dari Alquran dan hadist untuk memerintahkan umat muslim yang telah memiliki kemampuan untuk segera menikah.

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, "Wahai generasi muda, barang siapa di antara kamu telah mampu berkeluarga hendaknya ia menikah karena ia dapat menundukkan pandangan dan memelihara kemaluan. Barang siapa belum mampu (menikah) hendaknya berpuasa, karena ia (puasa itu) dapat mengendalikanmu," (HR al-Bukhari dan Muslim, dari Ibnu Mas'ud RA).

Namun bagaimana dengan orang yang telah mampu menikah tetap belum menemukan jodohnya? Di Amerika, terdapat Muktamar Indonesian Muslim Society in America (IMSA) yang diadakan setiap tahunnya. Tujuan dibuatnya organisasi ini supaya masyarakat muslim Indonesia di Amerika tetap menikah dengan saudara sebangsa.

Dalam acara pertemuan tahunan IMSA 2019 akhir Desember lalu, acara perkenalan itu dimediasi dua pasangan muda suami istri, untuk mendorong kaum muda Muslim Indonesia agar saling mengenal dan mulai berpikir untuk menikah. Salah satu pasangan itu, Rocky Tantu dan Nadya, justru berjodoh dari acara tersebut.

Dilansir dari laman VOA Indonesia, Rocky mengatakan, ia terus terang tidak berniat mencari jodoh. Malam itu ia hanya ikut-ikutan teman datang ke acara matrimonial service dalam acara Muktamar IMSA 2018 untuk berkenalan dengan sesama anak muda dari negara bagian lain. Ia bertemu Nadya, yang juga enggan hadir ke acara tersebut. Pertemuan mereka berlanjut dan beberapa bulan setelah pertemuan pertama itu, mereka menikah.

Pengurus matrimonial service IMSA Wiwied Irfianti menjelaskan, “Pada prinsipnya (IMSA) itu adalah (proses) mengenal. Kita berusaha untuk menghilangkan kata-kata dating itu karena ingin se-Islami mungkin. Jadi, sebenarnya bukan speed dating. Yang kita tekankan, kalau sudah cocok, cepat saja menikah. Itu sih konsep sebenarnya.”

"Mereka yang hadir diberi formulir untuk diisi, dan menyebutkan siapa yang hendak dikenal lebih lanjut setelah pertemuan tersebut," lanjut Wiwied.

Dari pertemuan itu, mereka diberi lebih dari satu pilihan supaya bisa mengenal lebih banyak. Pilihan akan mengerucut dan setelah saling bertemu, mereka akan ditanya, apakah mau bertemu lagi? Bagi mereka yang mau bertemu lagi, akan diproses lebih lanjut agar mereka bisa menuju jenjang pernikahan.

Sejauh ini, menurutnya, sudah empat pasang yang bertemu jodoh melalui matrimonial service tersebut. Bisa dibilang sebagai prestasi mengingat layanan perjodohan ini baru lima tahun aktif. Untuk masuk database layanan perjodohan ini, tidak ada batasan umur.

"Terbuka saja. Tetapi sejauh ini yang lebih banyak terdaftar adalah usia 20-an dan 30-an. Pertengahan 20-an paling banyak. Mereka umumnya anak-anak dari anggota IMSA sendiri. Ada juga orang luar yang mendaftar ke database itu, dengan usia di atas 30 bahkan di atas 40 tahun, tapi persentasenya kecil," pungkas Wiwied.

(Fahmi Firdaus )

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Terpopuler
Telusuri berita Muslim lainnya