KEMENTERIAN Agama dan Sokongan Gaza mengeluarkan arahan tentang beribadah di publik terkait penyebaran virus corona (Covid-19). Pemerintah Gaza melarang mereka yang sedang menderita flu dan penyakit menular lainnya untuk tidak keluar rumah.
Bagi masyarakat yang memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah, pemerintah meminta agar beribadah di rumah, karena risiko terjangkit COVID-19 semakin tinggi dan kemungkinan menulari orang di sekitarnya.
Dilansir israelnationalnews, Rabu (18/3/2020), Pemerintah Gaza menjelaskan, bahwa langkah-langkah pencegahan ini sejalan dengan situasi saat ini di mana tidak ada kasus COVID-19 yang terdeteksi di Gaza dan bahwa pasien yang terinfeksi virus corona ditemukan.
Pemerintah akan melakukan langkah-langkah yang cepat, termasuk masyarakat Gaza melarang akses ke masjid dan tempat-tempat umum.
Pada hari Minggu lalu, Departemen Kesehatan di jalur Gaza mengkonfirmasi tidak ada kasus COVID-19 di Gaza. Dan pada hari Jumat lalu, Koordinator Kegiatan Pemerintah di Wilayah (COGAT) yang dipimpin oleh Jenderal Kamil Abu Rukun memberikan 200 alat uji COVID-19 ke Jalur Gaza.
Abu Rukun mengatakan virus corona dan penyakit lainnya tidak memiliki batas dan karenanya untuk mencegah penyebaran virus corona di Jalur Gaza dan memberantas wabahnya di wilayah Yudea dan Samaria adalah kepentingan utama Israel. “Wabah seperti ini dapat membahayakan kesehatan rakyat Israel,"ujar Abu Rukun.
Otoritas Gaza pada hari Sabtu lalu, mengumunkan serangkaian tindakan pencegahan baru di tengah kekhawatiran masyarakat Gaza tentang penyebaran virus COVID-19. Beberapa langkah yang disebutkan diantaranya penutupan perbatasan Rafah antara Gaza dan Mesir dan persimpangan Erez dengan Israel.
Selain itu, sekolah dan universitas di Jalur Gaza tetap ditutup hingga akhir Maret dan semua warga yang kembali dari luar Gaza akan ditempatkan di karantina di bawah pengawasan ketat pemerintah Gaza.
(Fahmi Firdaus )