WABAH virus corona (Covid-19) membuat para petugas medis atau tenaga kesehatan hampir di seluruh dunia kerepotan dalam menangani pasien corona. Mereka harus berhadapan langsung dengan pasien dan memiliki risiko tertular virus. Hal sulit juga dialami petugas kesehatan berhijab.
Mereka banyak menghadapi tantangan karena harus sering mencuci untuk menjaga sanitasi, sementara beberapa bahkan membuang dan menanggalkan bajunya untuk mengurangi penyebaran virus.
Hal ini kemudian mendorong perancang busana asal Minnesota, Amerika Serikat (AS) sekaligus pemilik Henna & Hijab, sebuah butik yang mengkhususkan diri dalam henna organik dan hijab buatan tangan untuk membantu mencari solusi.
Baca juga: Ekspresi Para Jamaah Usai Masjid Nabawi Dibuka
Hilal Ibrahim, rela menghabiskan waktunya untuk merancang jilbab sanitasi yang mudah dicuci dan digunakan kembali dengan aman. Selain itu, dia telah menyumbangkan lebih dari 700 jilbab kepada para dokter dan perawat khusus Covid-19 di seluruh negara bagian.
"Yang terpenting, mereka tidak memengaruhi mobilitas pada pekerjaan dan tetap aman di tempatnya," kata Hilal Ibrahim, melansir laman Aboutislam.net, Senin (1/6/2020).
“Itu penting, mengingat (petugas medis) harus sangat berhati-hati dalam melakukan kontak langsung, terutama di lingkungan itu,” imbuhnya.
Jilbab atau hijab khusus itu cukup fleksibel untuk dikenakan oleh pasien maupun pegawai rumah sakit. Bahannya juga awet dan tahan terhadap mesin cuci.
Baca juga: Aksi Heroik Pedagang Muslim Selamatkan Toko dari Penjarahan di Minneapolis
Selama beberapa pekan terakhir, Hilal mengaku telah menerima permintaan besar dari petugas kesehatan untuk produk tersebut.
"Jilbab sanitasi dalam pengaturan perawatan kesehatan sangat penting untuk pengendalian infeksi, dan sering dianggap tidak penting karena kurangnya keakraban dengan penutup kepala agama standar wanita muslim," tuturnya.
"Virus ini hanya semakin mengekspose perbedaan dan perjuangan yang dihadapi beberapa kelompok di negara ini. Saya harap kita bisa bergerak ke arah pemahaman yang lebih baik dan memecah beberapa hambatan yang dimiliki orang non-muslim tentang jilbab," ucap Hilal.
Berdasarkan data yang dikutip situs Worldometer, hingga Senin hari ini kasus Covid-19 di AS sudah menembus angka 1.837.170 dengan angka kematian 106.195 dan jumlah pasien sembuh mencapai 599.867 orang.
(Rizka Diputra)