Menonton tayangan acara di televisi, berselancar di duni maya, bercanda ria di media sosial lebih kita dahulukan daripada membaca al-Qur’an atau menambah ilmu dengan membaca buku-buku yang bermanfaat.
Meraup keuntungan berlipat dalam berdagang, dengan tidak memedulikan halal haram, menjadi fenomena umum, daripada mencari rezeki yang halal dan berkah.
Bangga dengan kedudukan dan jabatan serta status sosial yang tinggi di masyarakat, lebih dicari daripada mulia dan terhormat di hadapan Allah. Inilah kenyataan hidup yang kita saksikan saat ini.
Jalan menuju kesenangan duniawi memang lebih memesona sekaligus melenakan. Sedangkan jalan menuju kebahagiaan ukhrawi begitu sulit, terjal dan mendaki. Bagi para pencari kesenangan sesaat nan semu, pesona dunia begitu merayu, hingga membuat mereka jatuh dalam pelukan nafsu. Akhir dari perjalanan mereka adalah kesedihan dan kesengsaraan tak berujung.
Bagi para pencari kebahagiaan sejati, mereka akan tetap melangkahkan kaki meniti jalan Ilahi yand diridlai Allah, meski duri di kanan kiri. Tak peduli terjal dan mendaki, tak menjadi soal susahnya melangkah, bahkan hingga berdarah-darah, yang terpenting adalah mendapat ridla Allah. Jalan menuju kebahagiaan abadi memang susah dan melelahkan. Tetapi akhir dari perjalanan itu adalah kenikmatan dan kebahagiaan.
(Salman Mardira)