ORANG beriman senantiasa berjuang di jalan Allah SWT dan bersemangat membela kaum lemah secara ekonomi sosial. Salah satunya tentu lewat zakat dan sedekah. Atau dengan kebijakan yang pro kepada mereka jika ia memiliki jabatan sebagai pemimpin atau pejabat publik. Memperjuangkan dan membela kaum lemah salah satu perintah Allah dalam Alquran.
Baca juga: Kompak Berbusana Muslim, Begini Potret Mesra Roger Danuarta dan Cut Meyriska
Guru Besar FDIK UIN Mataram NTB sekaligus Sekjen Pengurus Besar Nahdlatul Wathan (PBNW), Prof. Dr. TGH Fahrurrozi Dahlan menjelaskan melalui tulisannya di kolom kajian tafsir laman jaringansantri.com tentang lima pesan penting membela kaum lemah sebagaimana terkandung dalam Alquran Surah an-Nisa’ ayat 75- 76.
بسم الله الرحمن الرحيم
وما لكم لا تقاتلون فى سبيل الله والمستضعفين من الرجال والنسآء والولدان الذين يقولون ربنا أخرجنا من هذه القرية الظالم أهلها وأجعل لنا من لدنك وليا واجعل لنا من لدنك نصيرا (٧٥)
الذين آمنوا يقاتلون فى سبيل الله والذين كفروا يقاتلون فى سبيل الطاغوت فقاتلوا أوليآء الشيطان إن كيد الشيطان كان ضعيفا (٧٦)
“Mengapa gerangannya kalian tidak mau berjuang di jalan Allah dengan memperjuangkan hak-hak masyarakat yang lemah tak berdaya secara ekonomi sosial dan budaya (المستضعفين) baik mereka itu golongan laki-laki maupun golongan perempuan yang memiliki perasaan dan nasib yang sama, seraya mereka bermunajat kepada Allah atas tak kuasanya menghadapi kondisi yang sangat berat.”
“Duhai Allah! Keluarkanlah kami dari negeri Makkah ini yang penduduknya zhalim, berikanlah kami perlindungan cukuplah Engkau jadi pelindung kami-dan cukuplah Allah yang maha penolong.”
Prof. Fahrurrozi Dahlan menulis, orang-orang yang beriman di sisi Allah mereka bersemangat berjuang di jalan Allah SWT. Mereka yang ingkar tentu mereka berjuang di jalan kesesatan (thagut). Maka perangilah para pendukung-pendukung syaitan itu, sebab tipu daya syaithan itu lemah.
Ayat ini mengajarkan kepada kita tentang lima hal:
Pertama: Perlu menyuarakan kebenaran itu, meski sekedar bertanya kepada pemangku kebijakan.
Perhatikan cara Allah memberikan pembelajaran pada ayat ini, Allah bertanya kepada orang yang punya otoritas untuk menunaikan amanah kesejahteraan namun abai tak memperdulikannya. Maka Allah menegurnya dengan bahasa yang sangat sopan, وما لكم؟
Artinya kalau ada atasan, atau pejabat yang lupa atau lalai untuk menjalankan tugas sebagai pengabdi masyarakat, sangat dianjurkan untuk ditegur, dinasihati dan dipertanyakan sejauh mana kebijakan yang pro rakyat-pro masyarakat dengan bahasa yang sopan dan etis.
Kedua: Kebijakan harus berpihak kepada masyarakat lemah: المستضعفين
al-musthad’afiin arti kata ini terambil dalam kata dhaufa+dhoif (ضعف-ضعيف) yang bermakna lemah. Lemah personal lemah emosional. Lemah sosial.
Al-mustadhafiin golongan orang yang dilemahkan. استضعف -يستضعف yang bermakna terlemahkan. Maknanya bukan berarti mereka lemah secara fisik, akal, atau ekonomi namun lemah secara politik. Dengan dikungkungnya kebijakan yang hanya kepada yang pro dan pengikut setianya saja, sehingga mereka tak kuasa berkreasi karena regulasi yang selalu memihak golongan opertunis semata.
Ketiga: Klaster masyarakat yang tak diberdayakan. (من الرجال والنساء والولدان)
Keempat: Panjatan doa optisme dan perubahan sosial. Doa tulus permohonannya untuk diberikan perlindungan hak-hak sipil.
ربنا أخرجنا من هذة القرية الضالم أهلها
Kelima: Dua Jalan yang berbeda haluan.
فى سبيل الله وفى سبيل الطاغوت.
Jalan orang yang beriman orientasi hanya fokus kepada Allah. Raihannya adalah perlindungan dan pertolongan dari Allah
Mereka yang berada di jalan thagut, Jalan orang yang menyimpang dari jalan Allah serta mereka asyik maksyuq bersama syaitan. Raihannya adalah kesesatan dan kemaksiatan yang menyebabkan mereka jauh dari keberkahan Allah SWT.
(Salman Mardira)