Kisah Haru Tukang Becak Asal Sampang Berangkat Haji

Lukman Hakim, Jurnalis
Kamis 16 Juni 2022 15:56 WIB
Tukang becak Holili Addrae Sae menyisihkan pendapatannya sehari-hari demi berangkat haji. (MNC Portal/Lukman Hakim)
Share :

SURABAYA - Seorang tukang becak, Holili Addrae Sae (60), bekerja membanting tulang untuk mengumpulkan rupiah demi berangkat haji.

Warga Jalan Permata, Kelurahan Banyuanyar, Kecamatan Sampang, Kabupaten Sampang ini mengaku bisa naik haji juga menjadi impian istrinya yang bernama Busideh.

Bersama istrinya, Holili mendaftar sebagai calon jamaah haji pada 2011. Namun atas kehendak Tuhan, dalam masa tunggu haji, sang istri terlebih dahulu tutup usia dan meninggalkannya.

Holili mengatakan, selain karena memang mendapatkan panggilan dari Allah SWT, keberhasilannya mewujudkan mimpi untuk menunaikan rukun Islam yang ke-5 itu tidak terlepas dari peran almarhumah istrinya.

"Terus terang kami hanya bekerja keras memeras keringat mengayuh becak setiap hari, tapi almarhum istri saya yang begitu telaten menyisihkan sedikit demi sedikit uang sisa dari kebutuhan hidup sehari-hari,” kata Holili, Kamis (16/6/2022).

Tampak sekali guratan kesedihan yang mendalam di wajah Holili saat mengingat perjuangan almarhumah istrinya. Sesekali Holili menyeka air matanya sembari menceritakan kisah almarhumah yang mengajak, menguatkan, dan meyakinkannya untuk mendaftar haji, meski dengan kondisi ekonomi yang ala kadarnya.

“Penghasilan mbecak per hari hanya Rp30.000-50.000. Itu pun tidak menentu. Selain itu, saya juga bekerja sebagai kuli ikan dengan penghasilan yang tak seberapa. Istri saya rajin menabung mengumpulkan, dan dibelikan beberapa gram emas,” ujarnya.

Tiba di satu waktu, Holili dan istrinya mendapatkan rezeki arisan dan memutuskan menjual semua barang-barang yang selama ini telah dikumpulkan untuk biaya pendaftaran haji. Mulanya sempat ragu, tapi sang istri kembali menguatkan dan meyakinkannya.

“Saya dapat arisan dan ayo emas ini jual. Ayo daftar haji, tidak apa dengan niat, insya Allah siapa tahu Allah mengasihani dan Allah cukupkan,” ujar Holili mengenang ucapan mendiang istrinya.

Bermodal keyakinan, kedua pasangan suami istri itu mendaftar haji pada 2011. Namun, Allah berkehendak lain. Istrinya meninggal dunia pada 2019 karena sakit, sebelum ia dihubungi pelunasan haji pada 2020.

“Istri saya meninggal beberapa bulan sebelum penetapan, tahun 2020 dikonfirmasi berangkat, tapi karena pandemi jadi ditunda. Alhamdulillah bisa berangkat tahun ini. Meski istri saya sudah meninggal, tapi niat saya tetap haji bersama istri,” ucapnya.

Sepeninggal istrinya, Holili sempat menawarkan kedua anaknya untuk mengganti porsi haji sang istri. Namun, keduanya menolak. Lalu Holili memilih mengambil tabungan haji almarhumah untuk dipergunakan sebagai biaya menghajikan mendiang istrinya di Tanah Suci.

“Uang tabungannya sampai saat ini masih utuh, saya titipkan agar tidak saya pergunakan. Uang itu untuk haji badal istri saya karena di Tanah Suci harus bayar orang untuk menghajikan. Mohon doa semoga saya dan istri dijadikan haji mabrur,” tuturnya.

Namun di tengah kebahagiaan yang dirasakan, Holili mengaku sedih dan bingung. Karena tidak memiliki sepersen pun uang untuk bekal ke Tanah Suci yang rencananya berangkat 16 Juni 2022 ini. Bahkan ia tidak bisa untuk turut mendaftar ke Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) yang ada di Sampang.

“Saya sudah tidak punya tabungan lagi, apalagi buat bekal untuk ikut jadi rombongan KBIH saja tidak mampu membayar," ujar Holili.

Atas izin Allah, salah satu KBIH di Sampang tergerak hatinya dan mengajak Holili bergabung tanpa dipungut biaya apapun. Selama proses persiapan pemberangkatan, Holili mengaku selalu menggunakan becaknya setiap kali mengikuti pelatihan, manasik haji, dan mengurus persiapan lainnya.

"Karena becak itu satu-satunya kendaraan yang saya miliki," tuturnya.

(Erha Aprili Ramadhoni)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Muslim lainnya