SAAT membaca catatan ini, tahun 2023 mungkin belum berganti, tapi bisa juga sedang menuju pergantian atau sudah tahun baru. Teka teki ini menjadi pembuka catatan, karena ketika bicara waktu pada dasarnya kita tidak pernah bisa memastikan apa yang terjadi di masa depan.
Termasuk, tentang kapan persisnya waktu pembaca menemukan dan kemudian membaca tulisan ini, karena waktu menjadi bagian dari salah satu misteri. Kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) mendifinisikan waktu tidak cukup dengan satu atau dua kata saja seperti; detik, menit, jam, hari, bulan, tahun atau dekade.
KBBI menjelaskan "waktu" sebagai: “Seluruh rangkaian saat ketika proses, perbuatan, atau keadaan berada atau berlangsung: tidak seorang pun tahu apa yang akan terjadi pada -- yang akan datang; Jika sedikit diringkas maka waktu berarti, masa lalu, masa sekarang, dan masa yang akan datang.”
Dalam bahasa Inggris, “Time” yang berarti “waktu” juga memiliki banyak definisi. Salah satunya: Continued sequence of existence and events that occurs in an apparently irreversible succession from the past, through the present, and into the future (Wikipedia, Time). Artinya kurang lebih;
“Rangkaian kelanjutan keberadaan dan peristiwa yang terjadi dalam rangkaian yang tampaknya tidak dapat diubah dari masa lalu, masa kini, dan masa depan.” Waktu mengandung misteri dan sesuatu yang tidak bisa kita ulangi, kita tebak dan prediksi secara pasti.
Ketidakpastian waktu di masa depan, ketidakmampuan mengulangi sesuatu di masa lalu, dan membuat kita sekadar bisa menjalani di masa sekarang. Apa itu waktu dan apakah waktu itu ada secara obyektif adalah pertanyaan yang tidak dapat dijawab.
Waktu tidak berwujud. Misteriusnya waktu disebut Filsuf Yunani Aristoteles sebagai : “Hal yang paling tidak diketahui di antara hal-hal yang tidak diketahui.” Sehingga apa yang kita lihat, rasakan, dan lakukan di 2023 atau tahun sebelumnya menjadi sesuatu yang tidak mungkin bisa diulangi untuk diperbaiki.
Pada saat bersamaan, kita juga hampir tidak bisa mengetahui apa yang terjadi di masa depan. Yang bisa dilakukan adalah mencoba membuat ukuran dalam bentuk target dan perencanaan, dalam bentuk resolusi untuk menjadi lebih baik lagi di masa depan. Tapi apakah kita bisa memastikan semuanya sesuai harapan? Sulit.
Membuat perencanaan waktu di masa depan seperti mengukur sesuatu yang tidak bisa diukur. Seperti ditulis Khalil Gibran dalam puisinya, tentang Waktu. “Dan jika engkau bertanya, bagaimanakah tentang Waktu?…. Kau ingin mengukur waktu yang tanpa ukuran dan tak terukur.”
Agama Islam sendiri menempatkan waktu dalam porsi yang sangat penting. Dalam Al Quran misalnya, beberapa kali Allah SWT bersumpah menggunakan waktu. Seperti wa al-fajr (demi waktu fajar), wa al-subhi (demi waktu shubuh), waḍ-ḍuḥa (demi duha) , wa al-nahar (demi siang), wa al-lail (demi malam), dan wa al-asr (demi masa).
Pembagian waktu itu bisa dianggap bagian dari proses bagaimana manusia menjalani kehidupan; sebelum di dunia, saat di dunia dan setelah meninggalkan dunia. Imam Syafi’i mengatakan:
“Waktumu adalah umurmu. Umurmu adalah modal utamamu. Itulah yang bisa kau niagakan untuk sampai ke kebahagiaan abadi di Sisi Allah Taala. Napas yang sudah diembuskan adalah permata tapi sudah tidak bernilai lagi. Hilang tanpa pengganti.”
Pada akhirnya, tahun baru 2024 tidak sekadar perubahan angka, detik, menit, jam, dan hari, tapi lebih pada bagaimana kita menjalani hari dan mengisi hari untuk menjadi lebih baik lagi. Memang kita tidak bisa memastikan masa depan, tapi setidaknya kita bisa menjadi bagian dari mereka yang ingin menjadi lebih baik lagi.
Apalagi, Allah telah mengingatkan sekaligus membekali kita bagaimana menjalani waktu dengan semua misterinya agar tidak merugi, dengan menjadi lebih baik di 2024 dibanding 2023.
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasihat menasihati dalam supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.” (Al Quran Surat al ‘Ashr 1-3).
(Maruf El Rumi)