Forum AICIS+ 2025 Bahas Eco-Theology dan Peran Islam dalam Pelestarian Lingkungan

Rahman Asmardika, Jurnalis
Senin 03 November 2025 13:38 WIB
Siswa MAN Insan Cendikia Pekalongan mengisi sesi AICIS+ 2025.
Share :

JAKARTA - Forum studi Islam internasional tahunan, Annual International Conference on Islamic Studies (AICIS) 2025 berlangsung di Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) Depok dari 29–30 Oktober 2025. Tahun ini, forum tersebut berkembang menjadi AICIS+ dengan menambahkan sains dan kemasyarakatan sebagai bagian dari diskusi.

AICIS+ 2025 menjadi panggung kolaborasi gagasan antara pemerintah, akademisi, dan generasi muda dalam menjawab tantangan krisis lingkungan global.

Dalam sambutannya, Menteri Agama RI Nasaruddin Umar menegaskan bahwa pelestarian lingkungan adalah panggilan spiritual sekaligus moral. Ia menyebut bahwa krisis ekologis tidak dapat diselesaikan hanya dengan pendekatan ilmiah, tetapi memerlukan bahasa religius yang menyentuh hati umat.

“Tanpa bahasa religius, akan sulit menggerakkan hati umat untuk menyelamatkan lingkungan. Krisis ekologi ini adalah persoalan spiritual dan moral,” ujar Menag Nasaruddin.

Menag juga memperkenalkan konsep ekoteologi kasih sayang, yaitu cara pandang teologis yang menempatkan kasih sebagai dasar interaksi manusia dengan alam, sebagaimana tercermin dalam nilai-nilai Asmaul Husna.

 

Pada salah satu sesi ‘Science Talkshow Madrasah’ di acara AICIS 2025, panitia memberikan panggung kepada dua siswa MAN Insan Cendikia Pekalongan, Ahmad Ali Rayyan Shahab dan Raddinia Kejora Bagaskoro sebagai pembicara.

Dalam presentasinya bertajuk “Eco-Theology in Action: Building a Sustainable Future,” Rayyan mengajak publik untuk melihat bahwa teologi bukan sekadar ajaran ritual, tetapi juga pedoman moral dalam menjaga bumi. Ia mengutip ayat-ayat suci dari Al-Qur’an, Alkitab, dan prinsip Ahimsa dalam Buddhisme untuk menunjukkan kesatuan nilai lintas agama dalam menumbuhkan etika ekologis.

Rayyan juga menampilkan berbagai inisiatif keberlanjutan yang dilakukan di MAN IC Pekalongan. Beberapa di antaranya adalah pengelolaan biogas dari limbah ikan dan sayuran. Kegiatan lainnya dari siswa MAN IC Pekalongan adalah pemanfaatan gulma eceng gondok sebagai adsorben logam berat limbah batik.

“Saya memberikan apresiasi yang tinggi kepada Kemenag dan Madrasah dalam mendorong dan memfasilitasi siswa untuk peduli dan menghayati lingkungan sebagai bagian dari iman,” ujar Rayyan, yang merupakan peserta pertukaran pelajar (AFS) di Finlandia dan penggagas gerakan pelajar “Atma Bawana.” Di samping aksi nyata, Rayyan bersama teman-temannya ikut mengampanyekan lingkungan melalui sejumlah tulisan di berbagai media.

 

Rayyan menegaskan pentingnya peran Kementerian Agama melalui program Green Waqf dan pendidikan lingkungan berbasis nilai-nilai spiritual.

“Madrasah bukan hanya tempat mencetak insan berilmu, tetapi juga insan yang mencintai alam sebagai wujud iman,” ujarnya.

Sementara Raddinia Kejora Bagaskoro mengatakan, sebagai siswa Madrasah harus terus memberikan kontribusi yang bermanfaat bagi lingkungan. Pengalamannya sebagai peserta program Intensive Educational Short Course di China beberapa waktu lalu menjadikan dirinya terinspirasi untuk berkarya bagi masyarakat. Ini seperti yang ia saksikan, bagaimana pelajar di belahan dunia ‘berlomba’ untuk lingkungan.

“Itu pula yang kami lakukan dengan memanfaatkan teknologi AI untuk Keselamatan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan,” ujar pemenang lomba dalam ajang Pemilihan Pelajar Pelopor Keselamatan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) tingkat Provinsi Jawa Tengah Tahun 2025.

(Rahman Asmardika)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Muslim lainnya