Dalam salah satu kisah yang dinukil oleh Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya’ ‘Ulumiddin, disebutkan bahwa Imam Ahmad bin Hanbal pernah diperlihatkan dalam mimpi tentang cara mendekatkan diri kepada Allah. Jawabannya adalah membaca Al-Qur’an, baik dipahami maknanya maupun belum dipahami sepenuhnya.
يَا رَبِّ مَا أَفْضَلُ مَا تَقَرَّبَ بِهِ الْمُتَقَرِّبُوْنَ إِلَيْكَ قَالَ بِكَلَامِيْ يَا أَحْمَدُ قَالَ قُلْتُ يَا رَبِّ بِفَهْمٍ أَوْ بِغَيْرِ فَهْمٍ قَالَ بِفَهْمٍ وَبِغَيْرِ فَهْمٍ
Artinya: “Wahai Tuhanku, apa cara yang paling utama yang digunakan oleh orang-orang yang dekat dengan-Mu untuk mendekatkan diri kepada-Mu?” Allah berfirman, “Dengan kalam-Ku, wahai Ahmad.” Aku bertanya, “Dengan memahami maknanya atau tidak, wahai Tuhanku?” Allah berfirman, “Baik dengan memahami maknanya maupun tidak.”
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Pesan ini bukan berarti kita berhenti berusaha memahami Al-Qur’an. Justru sebaliknya, kita diperintahkan untuk terus belajar dan menggali kandungannya. Namun, hadis dan kisah tersebut mengingatkan bahwa setiap langkah menuju Al-Qur’an adalah langkah menuju rahmat Allah.
Membaca Al-Qur’an adalah ibadah. Memahami Al-Qur’an adalah cahaya. Mengamalkan Al-Qur’an adalah jalan keselamatan. Pasalnya, Al-Qur’an adalah petunjuk kehidupan. Di dalam Al-Qur’an terdapat jawaban atas kegelisahan hati manusia.
Untuk itu, di tengah kehidupan yang penuh tekanan, persaingan, dan berbagai persoalan, Allah menghadirkan Al-Qur’an sebagai sumber ketenangan dan arah kehidupan.
Allah Swt berfirman dalam surat Yunus ayat 57;
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاۤءَتْكُمْ مَّوْعِظَةٌ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَشِفَاۤءٌ لِّمَا فِى الصُّدُوْرِۙ وَهُدًى وَّرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِيْنَ
Artinya: “Wahai manusia, sungguh telah datang kepadamu pelajaran (Al-Qur’an) dari Tuhanmu, penyembuh bagi penyakit yang terdapat dalam dada, petunjuk, serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Yunus: 57)