Khutbah Jumat: Hindari Kemaksiatan dalam Perayaan Kemerdekaan

Rahman Asmardika, Jurnalis
Jum'at 14 Agustus 2026 09:05 WIB
Ilustrasi.
Share :

Jangan karena alasan memperingati kemerdekaan kemudian kita merasa bebas melakukan apa saja. Kemerdekaan bukan berarti bebas dari semua aturan. Kemerdekaan justru harus diiringi dengan tanggung jawab.   

Kita boleh membuat acara yang ramai, tetapi jangan diisi dengan kemaksiatan. Kita boleh membuat hiburan, tetapi jangan sampai mempertontonkan maksiat dan aurat. Kita boleh mengadakan pertunjukan, tetapi jangan sampai mengarah kepada pergaulan bebas tanpa batas.   

Kita boleh menggelar karnaval, namun tetap mengedepankan etika dan budaya santun. Jadikan karnaval sebagai media pendidikan dengan menampilkan pakaian adat untuk lebih mencintai keragaman budaya. Tampilkan sejarah dan simbol-simbol perjuangan serta pesan-pesan yang mengajak kepada gotong royong dan persatuan.   Jangan jadikan karnaval sebagai ajang berlebihan dengan musik yang memekakkan telinga, pakaian yang tidak pantas, aksi yang tidak mendidik, atau sekadar mencari perhatian dan hiburan. Jangan sampai nama kemerdekaan hanya menjadi label untuk kegiatan yang sebenarnya tidak memiliki nilai pendidikan, nasionalisme, maupun rasa syukur.

Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat rahimakumullah 

Di sinilah pentingnya kita mengevaluasi bentuk perayaan kemerdekaan di era modern. Zaman sudah berubah. Generasi muda sekarang hidup dalam dunia digital. Maka, cara kita memperingati kemerdekaan juga harus semakin kreatif dan edukatif dengan memanfaatkan teknologi yang dimiliki generasi muda untuk menyebarkan semangat kemerdekaan.   

Peringatan kemerdekaan bisa kita isi dengan kegiatan yang langsung memberikan manfaat kepada masyarakat seperti santunan anak yatim dan kaum dhuafa, donor darah, pengobatan gratis, bersih-bersih lingkungan dan kegiatan positif lainnya.   

Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat rahimakumullah 

Mari kita jadikan momentum kemerdekaan sebagai kesempatan untuk bersyukur kepada Allah dalam wujud yang sudah dijelaskan dalam Al-Qur’an seperti shalat, zakat, dan amar makruf nahi munkar. Allah berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-Hajj ayat 40–41:

وَلَيَنْصُرَنَّ اللّٰهُ مَنْ يَّنْصُرُهٗۗ اِنَّ اللّٰهَ لَقَوِيٌّ عَزِيْزٌ ۝٤٠ اَلَّذِيْنَ اِنْ مَّكَّنّٰهُمْ فِى الْاَرْضِ اَقَامُوا الصَّلٰوةَ وَاٰتَوُا الزَّكٰوةَ وَاَمَرُوْا بِالْمَعْرُوْفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِۗ وَلِلّٰهِ عَاقِبَةُ الْاُمُوْرِ ۝٤١

Artinya: “Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong agama-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Mahakuat lagi Mahaperkasa. Yaitu orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang makruf dan mencegah dari yang mungkar. Dan milik Allah-lah kesudahan segala urusan.”

 

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Muslim lainnya