JAKARTA - Nursyahwa Syakila, peserta cabang Seni Baca Alquran (Tilawah) golongan disabilitas netra putra dan putri pada Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional ke-31 di Semarang, Jawa Tengah, mendapat sorotan.
Bagi Nursyahwa, Alquran bukan sekadar bacaan. Sejak usia 7 tahun, ayat-ayat Alquran telah menjadi bagian dari kesehariannya. Dengan mengandalkan metode audio, perempuan asal DKI Jakarta itu belajar membaca, menghafal, sekaligus membangun kedekatan dengan Alquran.
Dia mengenang peran orang tuanya dalam mendampingi perjalanan bersama Alquran sejak usia belia. Pendengaran yang baik dan daya ingat yang kuat menjadi dua kemampuan yang dimanfaatkan orang tuanya untuk mendukung proses belajar melalui metode audio.
“Alhamdulillah, saya memiliki dua kelebihan, yaitu pendengaran yang baik dan daya ingat yang kuat. Kedua kelebihan itu dimanfaatkan oleh orang tua saya dengan memperdengarkan Alquran melalui metode audio,” ujar Nursyahwa, dikutip, Kamis (17/9/2026).
Perjalanan menghafal Alquran ia jalani sedikit demi sedikit. Setiap hari, ia berusaha menyelesaikan hafalan. Konsistensi itu akhirnya mengantarkan Nursyahwa menyelesaikan hafalan 30 juz dalam waktu 3 tahun 8 bulan.
“Perjuangan saya ketika awal mulai menghafal Alquran, setiap hari saya menghafal satu juz pada juz yang sedang saya pelajari. Alhamdulillah, dalam jangka waktu 3 tahun 8 bulan, saya menyelesaikan hafalan 30 juz,” tuturnya.
Hafalan tersebut menjadi salah satu bagian dari perjalanan Nursyahwa bersama Alquran. Ia pun bersyukur ketika mendapat kesempatan menjadi bagian dari MTQ Nasional ke31.
“Alhamdulillah, saya juga tidak menyangka saya bisa mengikuti MTQ Nasional yang ke-31 ini. Semua ini karena Allah,” katanya.
Dikatakannya, perjalanan bersama Alquran bukan tentang seberapa cepat seseorang menyelesaikan hafalan. Yang terpenting adalah terus menjaga kedekatan dengan Alquran dan tidak berhenti belajar.