JAKARTA - Pemerintah menyebut penyelenggaraan Olimpiade Agama, Sains, dan Riset Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (OASE PTKIN) III 2026 merupakan langkah strategis PTKIN dalam menyiapkan generasi penerus menuju visi The Golden Age of Indonesia pada tahun 2045.
“Untuk memasuki Indonesia Emas, syaratnya cuma dua. Pertama, bangsa Indonesia menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi,’’ ujar Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam, Sahiron, saat penutupan kegiatan tersebut, dikutip Sabtu (7/11/2026).
“Kedua, kita harus menjadi masyarakat yang beragama dan penuh maslahat,” lanjutnya.
Sahiron juga mendorong para mahasiswa untuk memanfaatkan berbagai program pengembangan kapasitas dari Diktis, seperti Prima Magang yang tahun ini menggandeng 80 perusahaan, serta Akademi Kepemimpinan Nasional Mahasiswa (Akminas).
Lebih lanjut, ia memberikan imbauan khusus kepada seluruh pimpinan PTKIN yang hadir agar memberikan apresiasi nyata bagi para pemenang.
“Kami memohon agar adik-adik yang berprestasi dan mendapat juara ini diperhatikan. Apakah itu diberikan beasiswa atau dibebaskan UKT-nya, disesuaikan dengan regulasi dan DIPA masing-masing kampus. Kami di Kementerian Agama juga akan memikirkan pembinaan lebih lanjut bagi para juara nasional ini,” pungkasnya.
Sementara itu, Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Noorhaidi Hasan mengungkapkan kebanggaannya atas kepercayaan yang diberikan menjadikan kampusnya sebagai tuan rumah. Menurutnya, OASE adalah kejuaraan yang memiliki makna filosofis mendalam.