Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Senyum Adalah Sedekah

Senyum Adalah Sedekah
Senyuman (Ilustrasi: plus.google.com)
A
A
A

Imam al Bukhari dalam kitab al Adabul Mufrad meriwayatkan sebuah hadits Nabi SAW mengenai salah satu akhlak mulia, tersenyum. Nabi SAW bersabda: “Senyummu kepada saudaramu adalah sedekah.”(HR Bukhari, Tirmidzi dan Ibnu Hibban)

Pertanyaan kita adalah senyum yang bagaimana yang bernilai sedekah bagi pemiliknya? Bagaimana mungkin sebuah senyuman akan mampu menundukan sikap seseorang? Sebelum menjawab dua pertanyaan di atas, akan lebih baik apabila kita mengetahui beberapa jenis senyuman yang biasa dilakukan dalam hubungan interaksi sosial, yaitu:

• Senyum bahagia. Senyum ini dilakukan oleh seseorang yang mengalami perasaan aman dan damai dalam masalah dunia dan akhiratnya.

• Senyum kesombongan. Senyum yang bermaksud menyombongkan diri terhadap kelemahan dan kegagalan lawan serta menghinanya.

• Senyum kemunafikan (pura-pura). Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk memperoleh keuntungan yang bersifat duniawi.

• Senyum ketakutan. Senyum ini dilakukan untuk menghindari kejahatan musuh dan menjaga dari keburukan yang akan menimpanya.

• Senyum tidak waras / gila. Pada senyum ini, biasanya dilakukan oleh orang yang sudah kehilangan kewarasan akalnya sehingga akhirnya akan tersenyum sendiri.

• Senyum lucu. Mereka yang apabila mendengar hal-hal yang lucu dan menghibur diluar kebiasaan yang ada pasti akan tersenyum lucu.

• Senyum persahabatan. Senyuman ini tumbuh dari sebuah hati yang menyayangi saudara (muslim) lainnya disebabkan karena landasan mendapatkan ridlo Allah SWT.

Dari penjelasan di atas dapat kita simpulkan bahwa senyuman yang dimaksud dalam sabda Nabi SAW tersebut adalah senyuman yang merekah di bibir dan tumbuh dari lubuk hati yang disemai perasaan cinta kepada saudaranya semata-mata karena Allah. Senyuman yang tulus ikhlas dan dibarengi kerinduan agar saudaranya mendapatkan kebaikan yang sama seperti dirinya.

Senyuman yang sangat menginginkan datangnya hidayah kepada saudaranya. Senyuman yang memancar dari wajah sumringah dan berseri-seri, keluar dari pemiliknya tanpa mengharapkan sedikitpun kemaslahatan dan tujuan-tujuan keduniaan yang hina dan sempit. Pertanyaan yang masih menggelayut dalam benak kita adalah bagaimana mungkin sebuah senyuman bisa mempunyai ‘kekuatan’ dan pengaruh yang besar terhadap orang lain?

Untuk memperoleh sebuah kekuatan senyuman teladan, yang mempunyai kekuatan kesan dan pengaruh terhadap cara pandang orang lain, hendaklah senyuman tersebut memenuhi kriteria-kriteria berikut:

• Hendaklah pemberi senyum bersih dari tujuan-tujuan dan maksud-maksud selain perasaan kasih sayang yang tulus dan tidak mengharapkan balasan materi.

• Hendaklah senyuman tersebut diiringi dengan berjabat tangan atau berangkulan atau bahkan keduanya sekalian, terutama apabila keduanya jarang bertemu karena berjauhan tempat tinggal.

• Hendaklah senyuman itu diiirngi dengan kata-kata penghormatan dan saling menyambut, hindari perkataan yang berlebihan dan membosankan.

• Senyuman tersebut disertai dengan pertanyaan kabar keluarga dan anak-anak, atau bertanyakan beberapa persoalan kehidupan harian untuk menunjukan bahwa kita sangat memperhatikannya.

• Memanggil saudara yang diberikan senyuman dengan panggilan yang paling disukai oleh dirinya.

Demikian beberapa hal yang berkaitan dengan kesan dan pengaruh yang bisa dibawa oleh sebuah senyuman dalam menjalin hubungan dengan sesame saudara kita. Semoga penjelasan ini bisa menjadi panduan singkat bagi yang sedang membangun hubungan dan interaksi sosial dengan lingkungan sekitar ataupun dengan sesame saudara muslim. Wallahua’alam

Oleh: H. Didi M Turmudzi, MA
Ketua Yayasan Binaul Umah – Tasikmalaya
Korps Da’i Inisiatif Zakat Indonesia (IZI)
Email: [email protected]
Twitter: @TurmudziDm
FB: DidiMohdTurmudz

(M Budi Santosa)

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita muslim lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement