nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kisah Hidup Mansa Musa, Raja Muslim Paling Kaya Sepanjang Sejarah

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Minggu 05 Mei 2019 00:03 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 05 05 614 2051615 kisah-hidup-mansa-musa-raja-muslim-paling-kaya-sepanjang-sejarah-XrmY2XXAYn.jpg Mansa Musa (Foto: Independent)

COBA sebutkan siapa saja menurut Anda orang-orang paling kaya di dunia? Nama seperti Bill Gates, Warren Buffet, atau John D. Rockefeller pasti ada di dalam list tersebut.

Tapi, fakta menjelaskan, mereka bertiga dengan kekayaan melimpah, belum ada apa-apanya dengan sosok yang satu ini. Pria asal Mali, sebuah wilayah di Afrika, itu bahkan disebut sebagai orang terkaya sepanjang masa peradaban modern. Dia adalah Mansa Musa.

Nama ini sangat tersohor di tanah Afrika di abad ke-14. Hingga sekarang, Mansa masih memegang tahta tertinggi orang paling kaya di dunia dan sepertinya akan menjadi sejarah sepanjang masa.

Dikutip Okezone dari Independent, kekayaan yang dimiliki Mansa Musa mencapai USD400 miliar, angka ini sudah diubah menjadi harga uang sekarang. Dengan jumlah segitu, Mansa Musa akan jauh lebih kaya daripada pria terkaya di dunia saat ini, Carlos Slim, yang berada di peringkat 22 dengan relatif sedikit USD68 miliar.

Meski pun daftar ini mencangkup rentang waktu 1.000 tahun, beberapa aspek kekayaan tampak konsisten sepanjang sejarah; tidak ada wanita dalam daftar, hanya tiga anggota yang hidup hari ini, dan 14 dari 25 adalah orang Amerika.

Daftar ini menggunakan tingkat inflasi tahunan 2199,6 persen untuk menyesuaikan kekayaan bersejarah - sebuah rumus yang berarti USD100 juta pada tahun 1913 akan sama dengan £ 2,299,63 miliar hari ini.

Kisah hidup Mansa Musa

Mansa Musa memerintah Kekaisaran Mali di Afrika Barat pada awal 1300-an, membuat kekayaannya dengan mengeksploitasi produksi garam dan emas di negaranya. Banyak masjid dia bangun saat masih muda.

Akan tetapi, setelah Mansa Musa wafat pada 1331, ahli warisnya tidak dapat bertahan hidup dan harta itu secara substansial habis oleh perang saudara dan pasukan invasi.

Yang kedua dalam daftar adalah keluarga Rothschild, yang keturunannya masih di antara orang-orang terkaya di planet ini. Dimulai di perbankan pada akhir abad ke-18, rumah keuangan Mayer Amschel Rothschild mengakumulasi kekayaan total USD 350 miliar. Uang itu telah dibagi antara ratusan keturunan, banyak dari mereka adalah pemimpin bisnis saat ini.

Sementara itu John D. Rockefeller, yang berada di urutan ketiga dalam daftar, adalah orang Amerika terkaya yang pernah hidup, senilai USD340 miliar hari ini pada saat kematiannya pada tahun 1937.

Sebagai perbandingan, pria termiskin dalam daftar adalah Warren Buffett yang berusia 82 tahun, yang pada kekayaan puncaknya, sebelum ia mulai memberikan kekayaannya untuk amal dan kekayaannya ialah adalah USD64 miliar.

Sementara itu, dalam pemberitaan Okezone sebelumnya, dijelaskan di sana kalau Mansa Musa ini terbukti menjadi orang paling kaya sepanjang masa berdasar data yang dimiliki para sejarawan.

"Jumlah kekayaan Musa jika dihitung di masa kini sungguh luar biasa sampai-sampai hampir mustahil untuk benar-benar memahami betapa kaya dan berkuasanya dia saat itu," ungkap Rudolph Butch Ware, guru besar sejarah di Universitas California, kepada BBC.

Mansa Musa "lebih kaya daripada apa yang orang bayangkan", ujar Jacob Davidson yang menulis tentang raja Afrika tersebut untuk situs Money.com 2015 lalu.

Baca Juga : Mengenal Cucu Jengis Khan, Pejuang Islam dari Mongol

Pada 2012, situs web AS Celebrity Net Worth memperkirakan jumlah kekayaan Musa berada di angka USD400 miliar atau sekira Rp5,72 kuadriliun, namun sejarawan ekonomi satu suara, kekayaannya tak mungkin diejawantahkan ke dalam angka.

Raja Emas

Mansa Musa lahir pada 1280 dari keluarga para penguasa. Saudara laki-lakinya, Mansa Abu-Bakr, memerintah kerajaan mereka hingga 1312, ketika dia turun takhta untuk pergi dalam sebuah ekspedisi.

Menurut sejarawan Suriah abad ke-14, Shibab al-Umari, Abu-Bakr terobsesi dengan Samudera Atlantik dan segala sesuatu yang ada di baliknya. Dia dikabarkan berangkat dalam sebuah ekspedisi dengan armada sebanyak 2.000 kapal serta ribuan pria, perempuan, dan budak. Mereka pergi berlayar, namun tak pernah kembali.

Beberapa sejarawan, seperti mendiang sejarawan Amerika Ivan Van Sertima, berasumsi, rombongan Abu-Bakr berhasil mencapai Amerika Selatan. Namun tak ada bukti yang mendukung asumsi tersebut.

Bagaimana pun, akhirnya Mansa Musa lah yang mewarisi takhta yang ditinggalkan sang saudara laki-laki. Di bawah kepemimpinannya, Kerajaan Mali berkembang pesat. Dia berhasil menguasai 24 kota baru, termasuk Timbuktu.

Kerajaan tersebut membentang sepanjang 3.128 kilometer, dari Samudera Atlantik hingga daerah yang kini merupakan Niger, termasuk kawasan-kawasan yang kini menjadi Senegal, Mauritania, Mali, Burkina Faso, Niger, Gambia, Guinea-Bissau, Republik Guinea, dan Pantai Gading.

Dengan wilayah kekuasaan yang sangat luas, sumber daya alam yang dimiliki Kerajaan Mali pun sangat besar, termasuk emas dan garam. Itu kenapa akhirnya Mansa Musa menjadikan dua sumber daya alam ini sebagai penghasilan kerajaannya.

Pada masa kekuasaan Mansa Musa, Kerajaan Mali memiliki hampir separuh jumlah emas yang beredar di kawasan Dunia Lama - negeri-negeri di Afrika, Asia dan Eropa - menurut British Museum. Dan semuanya milik sang raja.

"Sebagai penguasa, Mansa Musa punya akses yang hampir tidak terbatas terhadap sumber-sumber kekayaan paling bernilai di abad pertengahan," ujar Kathleen Bickford Berzock, yang merupakan spesialis seni Afrika di Block Museum of Art di Universitas Northwestern, kepada BBC.

"Pusat-pusat perdagangan besar yang menggunakan emas dan komoditas lain sebagai alat tukar juga berada di daerah kekuasaannya dan dia memperoleh kekayaannya dari aktivitas perdagangan tersebut," tambahnya.

Perjalanan Haji ke Mekkah

Walau pun Kerajaan Mali menjadi sumber emas, kerajaan tersebut tidak banyak dikenal. Hal ini berubah ketika Mansa Musa, seorang Muslim yang taat, memutuskan untuk berhaji ke Mekkah, melalui rute perjalanan Gurun Sahara dan Mesir.

Sang raja dikabarkan berangkat dari Mali bersama 60.000 orang rombongannya. Dia membawa serta seluruh pejabat dan hakim-hakim kerajaan, pasukan tentara, penghibur, pedagang, penunggang unta, dan 12.000 budaknya, juga serobongan kambing dan sapi untuk persediaan makanan. Rombongannya tampak seperti sebuah kota yang bergerak melalui gurun.

Kota yang para penghuninya, termasuk para budaknya, mengenakan pakaian berupa brokat emas dan sutra Persia terbaik. Ratusan unta beruntun, masing-masing mengangkut ratusan kilogram emas murni. Benar-benar sebuah pemandangan luar biasa.

Dan pemandangan itu tampak lebih mewah saat rombongannya mencapai Kairo, di mana mereka dapat benar-benar menunjukkan kekayaan mereka.

Kisah Banjir Emas di Kairo

Mansa Musa meninggalkan kesan tak terlupakan di Kairo, hingga al-Umari, yang mengunjungi kota itu 12 tahun setelah kedatangan Mansa Musa ke sana, ingat bagaimana orang-orang Kairo menyanjung-nyanjung raja Mali tersebut.

Dengan 'boros', Mansa Musa memberikan emas yang dibawanya di Kairo, sampai-sampai persinggahannya selama tiga bulan di kota tersebut menyebabkan anjloknya harga emas di kawasan tersebut selama 10 tahun dan menghancurkan perekonomian di sana.

Perusahaan teknologi AS, SmartAsset.com, memperkirakan - berdasarkan penyusutan nilai emas - perjalanan haji Mansa Musa menyebabkan kerugian ekonomi senilai USD1,5 miliar atau sekitar Rp21,4 triliun di seantero Timur Tengah.

Dalam perjalanan pulangnya, Mansa Musa melintasi Mesir kembali dan menurut beberapa orang, dia mencoba untuk membantu mengembalikan perekonomian Mesir dengan menarik sebagain emas dari peredaran dengan cara meminjamnya menggunakan suku bunga yang amat tinggi dari para pemberi pinjaman Mesir.

Sementara itu, beberapa sumber menjelaskan kalau Mansa Musa sangat boros sampai-sampai kehabisan emas. Lucy Duran dari School of African and Oriental Studies di London mencatat, para penghibur Mali, yang merupakan pendongeng balada sejarah, khususnya, marah terhadap Mansa Musa.

"Dia membagikan terlalu banyak emas sepanjang perjalanan hingga para penghibur tak mau memuja-mujinya lagi dalam nyanyian mereka karena mereka berpikir, dia menghambur-hamburkan sumber daya alam lokal di luar kerajaan," ujarnya.

Memberi perhatian lebih pada dunia pendidikan

Tak ada keraguan kalau Mansa Musa menghabiskan, atau menghamburkan, banyak sekali emas sepanjang perjalanan hajinya. Namun justru kedermawanannya itulah yang menarik perhatian dunia.

Mansa Musa membuat kerajaannya, Mali, dan dirinya sendiri diakui dunia. Pada peta Catalan Atlas yang berasal dari tahun 1375, ada sebuah lukisan bergambar seorang raja Afrika yang duduk di atas singgasana emas di puncak Timbuktu, sambil memegang sepotong emas di tangannya. Timbuktu menjadi El Dorado-nya Afrika dan orang-orang datang dari negeri yang dekat dan jauh untuk melihatnya.

Pada abad ke-19, negeri tersebut masih menyimpan sebuah mitos sebagai kota emas yang hilang di ujung dunia dan menjadi incaran para pemburu dan penjelajah Eropa. Di mana hal ini sebagian besar berkat apa yang dilakukan Mansa Musa 500 tahun sebelumnya.

Mansa Musa kembali dari Mekah bersama sejumlah cendekiawan Islam, termasuk keturunan langsung Nabi Muhammad dan penulis puisi sekaligus arsitek Andalusia bernama Abu Es Haq es Saheli, yang dikenal sebagai perancang Mesjid Djinguereber yang terkenal.

Raja dikabarkan membayarnya dengan 200 kilogram emas, yang jika dikonversikan ke dalam mata uang saat ini menjadi sebesar Rp 117,2 miliar. Selain mendorong dunia seni dan arsitektur, dia juga mendanai dunia sastra dan membangun banyak sekolah, perpustakaan dan masjid.

Tak lama, Timbuktu berubah menjadi pusat pendidikan dan banyak orang berdatangan dari berbagai belahan dunia untuk belajar di tempat yang kini dikenal sebagai Universitas Sankore.

Raja yang kaya itu juga sering kali dianggap berjasa karena telah memulai tradisi pendidikan di Afrika Barat, meskipun kisah tentang kerajaannya hanya sedikit diketahui orang di luar Afrika Barat. "Sejarah dicatat oleh para pemenang," menurut Perdana Menteri Inggris di masa Peradang Dunia II, Winston Churchill.

Setelah Mansa Musa meninggal pada 1337, di usia 57, kerajaannya diwariskan kepada putra-putranya yang tak mampu menjaga keutuhan kerajaan. Sejumlah daerah memisahkan diri dan akhirnya kerajaan itu pun runtuh.

Kedatangan bangsa Eropa di kemudian hari ke Afrika menjadi titik akhir kehancuran kerajaan Mali. "Sejarah periode abad pertengahan masih dilihat sebagian besar orang sebagai sejarah dunia Barat," ujar Lisa Corrin Graziose, direktur Block Museum of Art, menjelaskan mengapa kisah tentang Mansa Musa tak populer.

"Jika saja bangsa Eropa tiba dalam jumlah besar di masa Musa memerintah, dengan Mali yang tengah berada di puncak kejayaannya dengan pasukan militer dan kekuatan ekonomi dibandingkan kondisi ratusan tahun setelahnya, pasti semuanya tidak akan seperti yang kita lihat saat ini," ujar Ware.

1
5

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini