nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pria Melirik Perempuan Bukan Muhrim saat Puasa, Bagaimana Hukumnya?

Iqbal Dwi Purnama, Jurnalis · Selasa 07 Mei 2019 09:41 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 05 07 614 2052417 pria-melirik-perempuan-bukan-muhrim-saat-puasa-bagaimana-hukumnya-Hn8f80I35w.jpg Ilustrasi (Foto: Themideastbeast)

Berpuasa di bulan Ramadan tidak hanya menahan rasa lapar dan haus, tetapi juga menjaga pandangan. Nah, bagaimana hukumnya jika seorang pria melirik perempuan yang bukan muhrim saat puasa?

Melirik Wanita saat puasa merupakan hal yang makruh untuk pria. Makruh adalah sebuah status hukum dalam dunia Islam. “ Makaruh itu adalah, ketika seseorang mengerjakan, mereka tidak mendapat dosa atau pahala, apabila dia meninggalkan, dia dapat pahala” ujar Asroni Al – Paroya, Ketua Forum Komunikasi Dai Muda Indonesia (FKDMI) Jakarta timur, ketika di hubungi Okezone.

Allah memerintahkan kepada hambanya, terutama laki laki, agar mereka menahan pandangan matanya terhadap hal hal yang diharamkan. Hal tersebut dijelaskan dalam Alquran QS. An Nur : 30 :

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ

qul lil-mu`minīna yaguḍḍụ min abṣārihim wa yaḥfaẓụ furụjahum, żālika azkā lahum, innallāha khabīrum bimā yaṣna'ụn

Artinya:

Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.

melirik

Melirik wanita saat puasa adalah perbuatan makruh yang dapat mengurangi pahala puasa. Puasa menurut Bahasa artinya menahan dari sesuatu terutama hawa nafsu. Karenanya, Asroni Al Paroya mengimbau untuk menghindari melirik perempuan bukan muhrim jika sampai mengundang syahwat.

“Melihat wanita merupakan salah satu hal yang dapat mengurangi pahala puasa. Mengurangi saja, tidak sampai membatalkan, tapi misalkan (melihat wanita) mengundang syahwat, itu bisa sampai membatalkan. Sebaiknya dalam puasa dihindari.” Sambung Asroni Al Paroya.

Sedangkan menurut syariat, puasa adalah menahan diri dari segala yang membatalkannya, baik syahwat perut, (makan dan minum) maupun syahwat alat kelamin (bersetubuh), sejak terbitnya fajar sampai terbenam nya matahari, dengan niat beribadah kepada Allah SWT.

“Rasul pernah bilang, berapa banyak orang yang berpuasa tetapi tidak mendapatkan apa apa dari puasanya kecuali haus dan lapar. Orang tersebut kewajibannya gugur, tetapi tidak mendapat pahala. Hal tersebut kata rasul, karena dia tidak bisa menjaga lisannya, tidak bisa menjaga pandangan nya, tidak bisa menjadi telinganya. “ ujar Dosen Fakultas Agama Islam, Universitas Nahdatul Ulama Indonesia, Hayaturrohman.

Allah SWT pernah berfirman dalam hadist Qudsy :

“Setiap amalan bani adam adalah untuknya, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk ku, dan aku yang akan langusng membalasnya. Puasa adalah perisai, apabila salah seorang dari kalian berpuasa, janganlah ia melakukan perbuatan yang sia sia dan berbuat jahil. Jika ada yang ada yang mencacimu atau mengajak berkelahi, hendaklah ia mengatakan mengatakan, ‘aku sedang berpuasa (dua kali). Demi dzat yang jiwa Muhammad berada dalam genggaman-nya, sesungguhnya bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah dari pada aroma Kasturi. Orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kegembiraan, yaitu ketika berbuka dengan buka puasanya dan ketika bertemu Rabbnya dengan pahala puasanya” (HR. Bukhari Muslim)

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini