SELAMA Ramadan 1440 H masjid-masjid di New Zealand dijaga oleh polisi dengan senjata laras panjang terutama ketika umat islam menunaikan salat Tarawih. Ini dilakukan sebagai bentuk dukungan pemerintah New Zealand kepada umat Islam pasca peristiwa penembakan di Crish Church beberapa waktu lalu.
Umat Islam di New Zealand terdiri dari berbagai macam etnis dan negara asal, namun diikat dengan semangat ukhuwah Islamiyah yang sangat kuat. Ada yang berasal dari Fiji, India, Pakistan, Bangladesh, Timur Tengah, Asia Tenggara, China, Eropa, Afrika dan sebagainya. Semua menyatu dalam shaf-shaf shalat tarawih dan salat fardhu yang lima waktu. Ada juga dari suku Mauri, suku asli New Zealand seperti Sonny Bill Williams, pemain rugby dan petinju yang terkenal.
Menurut Pak Kadir, 30 tahun lalu, masjid hanya ada satu di Auckland. Itulah masjid Jami' Ponsonby yang tak jauh dari pusat kota Auckland. Adapun saat ini di New Zealand tak kurang dari 36 masjid. Sebagian ada yang substitusi dari gereja yang dibeli oleh kaum muslimin. Sebagian lagi ada yang dibangun dari pondasi. Sebagian komunitas Indonesia saat ini juga sedang berupaya mewujudkan pembangunan masjid yang dinamai Usman bin Affan. Meskipun letak masjid-masjid tersebut berada bukan di pusat pemukiman muslim, tetap ramai dalam setiap shalat 5 waktu.
Sebagian masjid ada yang mengadakan iftar setiap hari. Masjid One Hunga yang terdapat di Church Street (Jl. Gereja) menyajikan takjil dan makan berat bagi para shaa-imin. Ada juga masjid Abu Bakar di kawasan Pakuranga yang juga menyajikan ta'jil dan makanan berat. Pada Sabtu (11/5) lalu donatur berbukanya adalah WNI dan WN Singapura yang menghidangkan rendang dan kari ayam untuk jamaah yang multi etnis. Ada juga masjid Umar bin Khattab yang sehari-hari hanya menyediakan hidangan takjil saja. Salat tarawih rata-rata 20 rakaat plus 3 rakaat witir dengan bacaan lebih kurang 1 juz per malam.
Senin, 6 Mei 2019 saya mendarat di bandara Auckland - New Zealand sebagai Dai Ambassador Dompet Dhuafa 2019. Keluar dari bandara sudah menunggu Bobby Prajitno, salah seorang ekspatriat Indonesia yang ditunjuk oleh HUMIA untuk menjemput saya. Kemudian saya diantar ke rumah Abdul Kadir yang merupakan salah satu tokoh Indonesia yang sudah menetap di New Zealand sejak tahun 70an. Dari Pak Kadir, saya banyak mendapat informasi tentang Auckland dan juga New Zealand secara umum.