MAKKAH - Pada musim haji 1440H/2019M ini, pemerintah menyediakan 450 unit bus shalawat yang akan beroperasi selama 24 jam.
“Akan ada sembilan rute bus shalawat yang beroperasi selama 24 jam yang akan mengantar jamaah dari pondokan ke Masjidil Haram, dan sebaliknya,” jelas Kabid Transportasi PPIH Asep Subhana di Makkah.
Bus yang berkapasitas sekitar 70 penumpang ini juga dilengkapi air conditioner (AC), tombol darurat pembuka pintu, GPS, serta alat pemecah kaca. Dalam bus ini juga tersedia soket USB di dinding-dinding bus dekat tempat duduk penumpang yang bisa dimanfaatkan jamaah untuk mengisi daya ponsel maupun gadget-nya.
Baca Juga: 50% Jamaah Haji Gelombang I Sudah Tiba, Mulai Digeser ke Makkah Hari Ini
Ia juga menyampaikan, pada tahun ini layanan bus shalawat dapat dinikmati oleh seluruh jamaah haji Indonesia tanpa terkecuali.
“Tahun ini jamaah akan menggunakan bus langsung dari hotel ke terminal di sekitar Masjidil Haram. Bila tahun sebelumnya ada beberapa rute yang mengharuskan jamaah berpindah bus untuk sampai ke Masjidil Haram, maka tahun ini sudah tidak ada lagi,” ujar Asep.

Layanan transportasi bus shalawat bagi jamaah haji pada tahun ini melibatkan dua operator bus. Pertama, bus shalawat Saptco yang akan melayani lima rute, masing-masing dengan nomor stiker bus nomor 4 yang mengakhiri perjalanan di terminal Bab Ali, dan bus bernomor 5, 6, 7, serta 9 yang akan mengakhiri perjalanan di terminal Syib Amir. Bus shalawat ini memiliki ciri berwana merah.
Kedua, bus shalawat Rawahil yang akan melayani empat rute, masing-masing dengan nomor stiker bus nomor 8 dan 10 yang akan mengakhiri perjalanan di terminal Syib Amir, serta bus bernomor 11 dan 12 yang akan mengakhiri perjalanan di terminal Jiad. Bus shalawat ini memiliki ciri bercat warna hijau.
Baca Juga: Jamaah Haji Jangan Langsung Umrah Setiba di Makkah, Lakukan Ini Dulu
Meski jumlah bus shalawat yang disediakan sudah cukup banyak, untuk menghindari penumpukan penumpang, Asep mengimbau jemaah untuk dapat datang lebih dini bila ingin sholat fardhu di Masjidil Haram.
“Pada saat ingin salat berjamaah di Masjidil Haram, wajib datang lebih dini, jangan mendekati waktu adzan. Sehingga tidak berebut dengan jamaah lain dan nyaman di Masjidil Haram,” pesan Asep.
Hal ini juga bertujuan untuk menghindari terjadinya kemacetan di jalur menuju terminal. Begitu juga ketika ingin kembali ke pemondokan usai salat fardhu, Asep mengimbau agar jeamaah dapat bergiliran meninggalkan Masjidil Haram.
(Arief Setyadi )