Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Banyak Orang Naik Haji Memaksakan Diri, Ini Kata Cak Ali

Intan Afika , Jurnalis-Selasa, 16 Juli 2019 |05:00 WIB
Banyak Orang Naik Haji Memaksakan Diri, Ini Kata Cak Ali
Musim naik haji sudah dimulai (Foto: Saudi Tourism)
A
A
A

Tak terasa, sebentar lagi akan memasuki musim haji. Seluruh umat dari penjuru dunia akan berbondong-bondong datang ke Tanah Suci, Makkah dan Madinah untuk melaksanakan salah satu rukun Islam ini. Namun apa itu sebenarnya haji?

Naik haji 

Menurut Ketua Umum PP Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU), Ali Masykur Musa atau yang sering disapa Cak Ali, ibadah haji adalah salah satu ibadah fisik. Dikatakan ibadah fisik karena semua kegiatannya melibatkan fisik, dimulai dari miqat, proses tawaf hingga sa'i.

"Haji adalah ibadah yang mulai dari awal itu adalah ibadah fisik. Mulai dari miqat, memakai pakaian ihram dan orang harus tahu bahwa orang itu sudah naik haji. Begitu juga sampai yang disebut dengan proses tawaf sampai di Armina jumroh itu, hingga melakukan sa'i, semuanya adalah ibadah fisik" ucapnya kepada Okezone, Senin (15/07/2019).

Ketika Allah SWT memerintahkan sesuatu pasti ada makna dan manfaatnya untuk kebaikan manusia. Sesuatu yang bermanfaat dan dibutuhkan manusia dalam kehidupan pun pasti disyariatkan atau diperintahkan oleh-Nya.

 Apakah makna Allah SWT memerintahkan umatnya untuk beribadah fisik?

 "Makna yang terkandung haji itu adalah secara demokrasi tidak membedakan antara manusia yang satu dengan manusia yang lain. Ketika wukuf di Arafah 'hey saya pejabat loh, kamu bukan. Hey saya presiden loh, kamu rakyat jelata' tidak. Semua pakaiannya sama sejak memakai pakaian ihram. Itu menunjukan bahwa manusia secara fisik jangan menunjukkan arogansi, bahwa saya lebih tinggi daripada Anda. Ini makna yang terkandung adalah sebaik-baiknya di sisi Allah adalah orang yang paling takwa, bukan karena jabatannya," terang Cak Ali.

Sama seperti ibadah-ibadah yang lain, dalam ibadah haji juga terdapat syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh seseorang agar bisa menunaikan ibadah haji. Syarat itu disebut dengan manistatho'a ilaihi sabila. Sebagaimana firman Allah Swt dalam Alquran: “Walillahi `alannasi hijjul baiti manistata'a ilaihi sabila (mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah).” (QS. Ali Imran: 97)

"Syarat haji manistatho'a ilaihi sabila. Orang yang tatho'a, mampu pergi kesana. Terbagi dalam dua dimensi. Dimensi pertama adalah dimensi fasilitas dan infrastruktur menuju ke sana. Jadi harus punya uang, harus daftar dan mampu membiayai selama ibadah haji dan yang ditinggalkan. Jadi enggak boleh orang itu memaksakan ibadah haji tetapi anak dan keluarganya terlantar," papar Cak Ali.

"Yang kedua, dalam dimensi kemampuan itu ada kemampuan batin yang dia sudah siap untuk menjalankan ibadah haji. Nah banyak orang yang naik haji itu memaksakan kehendak, kalau lihat di dalam Alquran, manistatho'a itu syaratnya istatho'a. Jadi kalo memang belum mampu, ya tidak usah," lanjutnya.

 

Cak Ali menjelaskan, haji adalah suatu ibadah yang diperintahkan oleh Allah SWT dengan syarat istatho'a (mampu) dalam materi dan istatho'a dalam nurani psikis. Ibadah ini memiliki nilai dan makna yang besar di hadapan Allah karena memiliki dimensi rohaniah dan dimensi mu'ayarah (hubungan) sesama manusia dan juga dimensi fisik.

(Dyah Ratna Meta Novia)

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita muslim lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement