JEDDAH – Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin memberikan pesan tersendiri saat Upacara 17 Agustus yang dihelat di Kantor Konsulat Jenderal (Konjen) Jeddah.
"Memaknai kemerdekaan menurut saya dalam konteks sekarang ini adalah bagaimana kita semaksimal dan seoptimal mungkin sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari Indonesia Raya adalah ikut menjaga memelihara dan merawat keberadaan negara bangsa tercinta," kata Menag dalam sambutannya, Sabtu (17/8/2019).
Baca juga: 187 Jamaah Haji Indonesia Bakal Dipulangkan Lebih Awal
Hal itu, lanjut dia, menjadi alasan mengapa para pendahulu bangsa mengatakan bahwa cinta Tanah Air bagian yang tidak terpisahkan dari keimanan.
"Karena Tanah Air tempat kita dibesarkan. Kita makan-minum dari tumbuh-tumbuhan, buah-buahan, yang tumbuh di Tanah Air. Kita meminum air yang mengalir di Tanah Air kita, bahkan kita menghirup udara yang ada di Tanah Air kita. Mungkin boleh jadi suatu saat nanti ketika kita tidak lagi ada di dunia ini, kita akan dikebumikan dipeluk oleh Tanah Air kita," kata dia.

Maka kecintaan kepada Tanah Air, menurut Menag, adalah sesuatu yang niscaya dan mudah-mudahan cara memaknai kemerdekaan adalah bagaimana bisa mengisinya dengan memberikan yang terbaik bagi bangsa dan negara.
Tidak lupa, dia berpesan agar masyarakat bersyukur menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari Republik Indonesia.
"Karena jasa para pendahulu kita maka ketika kita memperingati hari ulang tahun Republik Indonesia. Pertama, menurut saya, yang harus dikedepankan adalah bagaimana wujud rasa syukur itu kita lakukan dengan cara mendoakan para pendahulu kita yang telah mendahului kita," kata dia.
Baca juga: Lepas Kepulangan Jamaah Haji, Menag: Kalau Tak Puas Kami Mohon Maaf
Menag menjelaskan, para tokoh bangsa telah memberikan yang terbaik bagi bangsa dan negara tercinta ini sehingga sekarang dirasakan dua hasil dari perjuangan mereka.
"Setelah mendoakan, tentu kita memaknai kemerdekaan ini kalau dulu para pendahulu kita merebut kemerdekaan dengan mengangkat senjata melawan musuh yang nyata para penjajah tentu konteks kita saat ini tidak lagi persis seperti itu," jelas dia.

(Hantoro)