Sementara Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) Kemenag Nizar Ali menyampaikan terima kasih atas apresiasi yang diberikan. “Alhamdulillah, kita diberikan kehormatan oleh Turki untuk bertukar informasi,” kata Nizar.
“Kita dipandang sebagai pengelola ibadah haji yang rumit, karena dari sisi jumlah jamaah haji yang datang ke sini terbesar di dunia. Lalu kita juga dikenal jamaah haji yang paling tertib, paling penurut, sehingga ini mereka butuh belajar dari kita,” imbuhnya.
Dalam pertemuan yang berlangsung selama 45 menit tersebut, Remzi sempat terkejut dengan perbandingan jumlah jamaah dengan petugas haji. Turki memiliki 2500 petugas untuk melayani 80 ribu jamaah haji. Sementara, Indonesia hanya memiliki 4300an petugas untuk melayani 231 ribu jamaah haji.
“Mereka tadi sempat kaget juga dengan jumlah hotel yang kita sewa di Makkah. Di Makkah ini Indonesia menyewa 173 hotel, sementara di Madinah ada 106 hotel. Mengorganisasi ini jelas tidak mudah,” kata Sri Ilham.
Belum lagi menurut Sri Ilham, jumlah maktab jamaah haji Indonesia di Armuzna (Arafah, Muzdalifah, dan Mina) jauh lebih besar dari Turki. Sebanyak 214 ribu jamaah haji reguler Indonesia pada 1440H/2019M ini terbagi dalam 73 maktab, sementara Turki hanya memiliki 12 maktab untuk 50ribu jamaah.
“Banyak sebenarnya yang ingin dibicarakan, tapi kali ini waktunya terbatas. Nanti insya Allah akan dilanjutkan di Indonesia atau Turki,” tutur Sri Ilham.
(Arief Setyadi )