nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

3 Tingkatan Ikhlas dalam Beribadah, Pertama karena Takut

Abu Sahma Pane, Jurnalis · Minggu 19 Januari 2020 14:00 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2020 01 19 614 2155011 3-tingkatan-ikhlas-dalam-beribadah-pertama-karena-takut-5bVZInXV6r.jpg Ilustrasi. Foto: Istimewa

An-Nawawi di kitab Syarh al-Arba’īn menjelaskan bahwa hadis di bawah ini menjadi dalil kuat akan pentingnya niat yang tulus (ikhlas) dalam setiap amal perbuatan.

Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari ’Umar bin Khatthab r.a., bahwasanya Rasulullah saw. bersabda:

إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى.

“Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang diniatkannya.” (HR Bukhari & Muslim).

An-Nawawi juga menerangkan tentang adanya tiga tingkat keikhlasan seorang hamba, yaitu: pertama, beribadah karena takut akan siksa Allah SWT. An-Nawawi menamakan tingkatan ini dengan ’ibādatul-’abīd; ibadah para budak. Kenapa? Karena yang seperti ini, sebagaimana mental seorang budak mematuhi perintah hanya karena takut disiksa oleh Tuhannya.

Ilustrasi. Foto: Istimewa

Kedua, beribadah karena mengharapkan surga dan pahala dari Allah SWT. Tingkatan ikhlas ini oleh An-Nawawi disebut sebagai ’ibādatut-tujjār; ibadah para pedagang. Sebab, seperti halnya pedagang yang selalu mencari keuntungan, orang-orang yang berada pada tingkatan ini juga hanya memikirkan keuntungan dalam ibadahnya.

Ketiga, beribadah karena malu kepada Allah SWT dan demi memenuhi keharusannya sebagai hamba Allah yang bersyukur disertai rasa khawatir sebab amal ibadahnya belum tentu diterima di sisi-Nya.

An-Nawawi mengatakan, tingkatan ini adalah ’ibādatul-akhyār; ibadah orang-orang pilihan. Tingkatan yang terakhir ini sebenarnya merupakan manifestasi dari hadis riwayat Imam Muslim yang disabdakan Rasulullah SAW saat ditegur oleh Aisyah r.a. ketika melihat beliau salat malam ‘kelewatan’ hingga kedua kakinya bengkak.

“Wahai Rasulullah, kau terlalu memaksakan hal ini, padahal Allah telah mengampuni dosa-dosamu.” kata Aisyah.

Rasulullah SAW menjawab: “Bukankah sudah seharusnya aku menjadi seorang hamba yang bersyukur?!” (HR Muslim).

Demikian ditulis Abdul Rozaq, mutakharijin Ma’had Aly Lirboyo, sebagaimana dikutip dari laman resmi Pesantren Lirboyo pada Minggu (19/1/2020).

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini