Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Kiai Kok Nongkrong di Warung

Mohammad Saifulloh , Jurnalis-Sabtu, 04 April 2020 |01:00 WIB
Kiai Kok Nongkrong di Warung
Kiai Kok Nongkrong di Warung (Ilustrasi: Shutterstock)
A
A
A

Seorang kiai dituntut menjadi panutan sekaligus menjaga marwah atau harga dirinya di tengah masyarakat.

Salah satu pendiri organisasi Nahdlatul Ulama (NU) KH. Wahab Chasbullah rupanya salah satu dari sedikit kiai yang memilih bersikap merakyat untuk menjadi seorang panutan.

Kesan itu terlihat dari sebuah cerita yang beredar tentang Mbah Wahab semasa hidupnya. Bersama kiai sepuh yang juga pendiri NU, KH. Bisri Syansuri, Mbah Wahab bersilaturahim ke beberapa kiai di Jawa Timur.

Dalam perjalanan pulang dari Nganjuk menuju Jombang, Mbah Wahab menyuruh sopirnya berhenti di sebuah warung pinggir jalan. Ia mengajak Mbah Bisri turun untuk makan. Mbah Wahab paham dengan sikap Mbah Bisri yang menolak turun meski lapar.

Akhirnya Mbah Wahab bersama sopir dan seorang santrinya masuk ke dalam warung. Saking laparnya, Mbah Bisri memberi kode khusus ke santrinya. "Bungkusno siji yo (Bungkuskan satu ya)," ujar Mbah Bisri pelan.

Saat Mbah Wahab makan, si santri diam-diam menuju mobil untuk mengantarkan nasi buat Mbah Bisri. "Lho, katanya nggak mau?" ujar Mbah Wahab memergoki Mbah Bisri yang asyik mengunyah.

"Aku kan nggak mau masuk warungnya, tapi mau nasi bungkusnya. Kiai kok nongkrong di warung," kata Mbah Bisri menimpali dengan enteng. Mendengar itu, Mbah Wahab hanya tersenyum.

*Diadaptasi dari buku Humor Para Kiai: Menebar Tawa Menuai Hikmah karya Chalis Anwar. (Ful)

(Abu Sahma Pane)

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita muslim lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement