SAAT bulan Ramadhan tiba, umat Islam diwajibkan menjalankan ibadah puasa. Durasi ibadah puasa pun berbeda-beda tergantung pada letak negara serta musim di lokasi tersebut ketika Ramadhan datang.
Di Indonesia sendiri, karena melewati garis khatulistiwa, waktu puasa lebih stabil, yakni berkisar 13-14 jam. Sedangkan di negara 4 musim, akan lebih pendek ketika Ramadhan datang pada musim dingin, dan akan lebih panjang durasi puasa saat musim panas datang.
Seperti yang diceritakan oleh Heny Pitkanen, warga negara Indonesia (WNI) yang tinggal di Finlandia. Dia mengaku jika Ramadhan datang pada musim semi hingga panas, durasi puasa di sana bisa lebih dari 21 jam.
"Jadi aku mengalami puasa Ramadhan itu dari mulai durasi yang pendek, yaitu tepatnya pas musim salju sampai durasi yang paling panjang yaitu lebih dari 21 jam," ujarnya seperti dikutip Okezone dalam akun YouTube Chimi in Findland.
Heny bercerita, sebelum menikah ia berpuasa mengikuti jadwal Ramadhan di Finlandia yakni lebih dari 21 jam. Namun setelah menikah dan memiliki anak, ia dan keluarga berpuasa mengikuti waktu Mekkah, yakni berpuasa 15 jam sehari.
"Nah untuk kalau saya pas puasa sendiri saya itu tidak pernah sahur, apalagi kalau pakai jadwalnya Finlandia yang lebih dari 20 jam ya itu sekalian istilahnya buka puasa plus sahur. Tapi untuk saat ini ya kita sahur masalahnya, ya itu tadi karena ada anak dan suami yang juga perlu sahur," bebernya.
Untuk menu sahur sendiri, Heny mengaku jika ia tak bisa meninggalkan untuk menyeruput kopi. Menurutnya, menu makanan sahur apapun tak menjadi masalah asalkan ada kopi.
"Kalau saya pribadi, yang penting ada air putih terus intinya harus ada minum kopi. Kalau minum kopi saya tahan lapar, tapi kalau tidak minum kopi wah ini bahaya," ungkapnya sambil berkelakar.
Di sisi lain, tentu ada suka duka yang dialami Heny ketika menjalankan ibadah puasa di negara mayoritas non-muslim. Salah satunya tak ada nuasan Ramadhan layaknya di Indonesia.
"Suka duka puasa di Finlandia yang saya rasakan sendiri, bukan iklim yang dimaksud iklim panas atau dingin tapi istilahnya kalau di Indonesia benar-benar bisa merasakan kalau puasa. Kalau di sini itu kan istilahnya ya kita saja, keluarga kita aja yang puasa. Kalau di luar kan enggak ada orang puasa kecuali orang yang beragama Islam dan itu mungkin tidak semuanya ikut puasa," jelas Heny.