SEBAGAI seorang muslim sudah sepatutnya selalu mengingat Allah Subhanahu wata'ala kapanpun dan di manapun berada. Karena hanya dengan mengingat-Nya lah hati menjadi tenang. Dengan banyak mengingat Allah, kita bakal cenderung berhati-hati dalam melakukan sesuatu.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
Artinya: “Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan berzikir (mengingat) Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram” (QS. Ar-Ra’du: 28).
Sebaliknya, mereka yang kerap lalai atau melupakan Allah akan melakukan perbuatan sekehendak hatinya, sekalipun itu dilarang dan dimurkai Allah. Alhasil, hidupnya akan mejadi hampa tanpa merasakan nikmatnya mengingat Allah Ta'ala.
Baca juga: Ini Hukum Nikah Beda Agama dalam Islam
Dalam kitab Ar-Risalah Al-Qusyairiyah disebutkan:
من لم يذق وحشة الغفلة لم يجد طعم أنس الذكر
Artinya: “Barangsiapa tidak merasakan pahitnya melupakan Allah, pasti tidak akan merasakan juga manisnya mengingat Allah,”

Dengan demikian, orang yang selalu mengingat Allah akan berhati-hati agar terhindar dari perbuatan maksiat. Jikapun melakukannya, dia segera terpanggil untuk bertaubat dan memohon ampunan kepada Ilahi.
Sedangkan mereka yang lalai mengingat Allah, akan timbul perasaan menganggap enteng perbuatan dosanya, sehingga alih-alih menyesal, justru kembali mengulangi perbuatan maksiat.
"Adapun level terparah dari orang yang melupakan Rabb ialah istidraj. Hal itu ditandai dengan melimpahnya kenikmatan, tetapi membuat si pelaku justru jauh dari sang pencipta, " ujar
Silmi Adawiya, alumni Pondok Pesantren Putri Walisongo Jombang, dikutip dari website Pesantren Tebuireng, Jombang.
Baca juga: Kewajiban Salat Jumat Tertulis di Dalam Alquran
Tentu kita semua tidak menginginkan hal buruk itu terjadi. Oleh karena itu sebisa mungkin dalam melakukan hal apapun, kita sertakan Allah. Dengan demikian hal yang dilakukan tersebut tidak akan keluar dari jalan-Nya.