“Saya senang jadi pemotong rumput makam. Karena selalu mengingatkan saya kepada kematian dan terus memperbanyak ibadah,” ujar Naman.
Sementara rekannya, Nasir (65) mengatakan hal yang serupa. Tugasnya sebagai tukang sapu makam juga selalu ia syukuri. Nasir juga menyampaikan terima kasih kepada anak-anak muda tim Dompet Dhuafa Volunteer yang masih tetap peduli terhadap pekerjaan-pekerjaan yang dianggap orang sepele. Padahal baginya, menjadi pengurus makam adalah suatu pekerjaan yang sangat mulia.
“Terima kasih adik-adik Dompet Dhuafa dan para donatur. Insya Allah besok di akhirat, saya siap menjadi saksi kebaikan adik-adik ini juga orang-orang baik yang ikut berdonasi,” ucap Nasir.
(Vitrianda Hilba Siregar)