ISTIDRAJ jika dicontohkan seperti bisnis lancar dan omset besar tapi melalaikan sholat. Karirnya naik terus dan orang-orang hormat tapi tidak memakai jilbab. Jadi kira-kira istidraj itu artinya selalu mendapatkan kemudahan namun melalaikan perintah agama.
Allah biarkan bahagia sementara di dunia, Allah biarkan merasa akan selamat dari ancaman Allah di akhirat kelak. Padahal Allah tidak peduli kepadanya karena melalaikan perintah dan larangan-Nya.
Baca Juga: Begini Akibat Jika Bersandar Harapan dan Mencari Ridha kepada Manusia
Maka itulah istidraj sebagaimana yang dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,
“Bila engkau melihat Allah Ta’ala memberi hamba dari (perkara) dunia yang diinginkannya, padahal dia terus berada dalam kemaksiatan kepada-Nya, maka (ketahuilah) bahwa hal itu adalah istidraj (jebakan) dari Allah.”
"Jadi sering-sering muhasabah antara nikmat dan istidraj," ujar Ustaz dr Raenul Bahraen dalam akun Instagramnya belum lama ini.
Baca Juga: 5 Cara Sukses Nabi Muhammad SAW Berbisnis
Dia juga mengingatkan sudah sepatutnya seorang musim berilmu, yaitu bagaimana membedakan antara nikmat dan istidraj dengan sering-sering bermuhasabah.
Mengenai ayat menyinggung soal ini yakni:
اَفَاَمِنُوۡا مَكۡرَ اللّٰهِ ۚ فَلَا يَاۡمَنُ مَكۡرَ اللّٰهِ اِلَّا الۡقَوۡمُ الۡخٰسِرُوۡنَ
Afa aminoo makral laah; falaa yaamanu makral laahi illal qawmul khaasiroon
“Maka apakah mereka merasa aman dari makar Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiada yang merasa aman dan makar Allah kecuali orang-orang yang merugi.” [QS. Al-A’raf: 99]