Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Rahasia yang Terkandung dari Larangan Makan dan Minum Ketika Berpuasa

Tim Okezone , Jurnalis-Rabu, 13 April 2022 |13:02 WIB
Rahasia yang Terkandung dari Larangan Makan dan Minum Ketika Berpuasa
Kenapa Allah melarang makan dan minum saat berpusa (foto: istimewa)
A
A
A

JAKARTA - Puasa adalah menahan diri dari hal-hal yang dilarang oleh Allah SWT pada saat siang hari bulan puasa seperti makan, minum, dan berhubungan intim, padahal ketiganya diperbolehkan untuk dikonsumsi dan dilakukan di luar bulan puasa, selama memenuhi kaidah kehalalan dalam ajaran Islam.

Ketika bulan Ramadan tiba, bagi seorang Muslim yang diwajibkan berpuasa, maka hal-hal tersebut menjadi haram untuk dikonsumsi dan dilakukan. Yang menjadi pertanyaan adalah kenapa seorang Muslim tidak boleh makan dan minum ketika berpuasa? Rahasia apa yang terkandung dalam pelarangan tersebut?

Imam Abu al-Hasan ‘Ali bin Muhammad al-Mawardi menjelaskan dalam karyanya yang bertajuk Adab al-Dunya wa al-Din bahwa pelarangan makan dan minum bertujuan untuk membangun kesadaran diri seorang Muslim bahwasanya dirinya bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa.

Ketika berpuasa, seorang Muslim akan menyadari bahwa dirinya membutuhkan makanan dan minuman, meskipun hanya sesuap nasi dan seteguk air. Hal ini menunjukkan betapa lemahnya manusia karena masih bergantung pada hal-hal sepele.

Dalam penggalan surat al-Maidah, ayat 28, Allah SWT sudah menyinggung bahwa manusia adalah makhluk yang lemah.

وَخُلِقَ الإنْسَانُ ضَعِيفًا.

Artinya: “Manusia diciptakan (bersifat) lemah”.

Logika ini yang digunakan Allah SWT sebagai argument untuk membantah keyakinan orang yang menjadikan Nabi Isa AS dan Siti Maryam sebagai tuhan yang mereka sembah. Dalam penggalan surat al-Maidah, ayat 75 Allah SWT berfirman:

مَا الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ إِلا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ وَأُمُّهُ صِدِّيقَةٌ كَانَا يَأْكُلانِ الطَّعَامَ.

Artinya: “Al-Masih putra Maryam hanyalah seorang Rasul. Sebelumnya pun sudah berlalu beberapa Rasul. Ibunya seorang yang berpegang teguh pada kebenaran. Keduanya biasa memakan makanan”.

Dalam ayat ini, Allah SWT mempertanyakan orang-orang yang menjadikan Nabi Isa AS dan Siti Maryam sebagai tuhan yang disembah, padahal keduanya masih membutuhkan makan. Seseorang yang masih membutuhkan makan tidak bisa dikatakan sebagai sesuatu yang kuat dan hebat.

Oleh karena itu, ketika seorang Muslim menyadari bahwa dirinya masih membutuhkan makam dan minum, maka timbul kesadarang bahwa dirinya tidak pantas berbuat sombong.

Imam al-Mawardi juga mengutip perkataan imam al-Hasan al-Basri: “kasihan sekali anak Adam (manusia). Ajal/kematiannya sudah pasti, harapannya pupus, kekurangannya ditutupi, berbicara dengan daging, melihat dengan lemak, mendengar dengan tulang, lemah ketika rasa lapar, ngantuk ketika kenyang, keringat membuatnya bau, arah timur membunuhnya, tidak dapat mengendalikan dirinya dalam bahaya dan selamat, tidak juga dalam kematian, kehidupan, dan perkembangan tubuh”.

Imam al-Hasan al-Basri menjelaskan bahwa manusia takluk di hadapan makanan. Jika tidak ada makanan, maka dia akan lapar, kemudian lemah. Jika ada makanan berlebih, maka dia akan kenyang, kemudian mengantuk.

Oleh karena itu, puasa Ramadan adalah pola penanaman kesadaran diri untuk menyadari kerendahan diri dan menekan rasa sombong seorang Muslim.

(Amril Amarullah (Okezone))

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita muslim lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement