Share

Niat Zakat Fitrah untuk Diri Sendiri Beserta Hukumnya

Novie Fauziah, Jurnalis · Rabu 20 April 2022 10:25 WIB
https: img.okezone.com content 2022 04 20 330 2581973 niat-zakat-fitrah-untuk-diri-sendiri-beserta-hukumnya-3IHhHNaoHl.jpg Ilustrasi niat zakat fitrah untuk diri sendiri. (Foto: Shutterstock)

NIAT zakat fitrah untuk diri sendiri beserta hukumnya sangat penting diketahui setiap Muslim. Diketahui bahwa umat Islam diwajibkan membayar zakat setiap bulan Ramadan.

Zakat diwajibkan bagi mereka yang mampu dan sudah terpenuhi nisabnya. Selain itu, membayar zakat juga untuk menyempurnakan agama serta sebagai bentuk keimanan dan takwa kepada Allah Subhanahu wa ta'ala.

Baca juga: Bayar Zakat Fitrah Terbagi Menjadi 3 Waktu, Kapan Saja? 

Sekretaris Lembaga Dakwa Khusus PP Muhammadiyah Ustadz Faozan Amar mengatakan, sebelum membayarkan zakat dimulai dengan niat dan hati yang ikhlas ketika memberikannya kepada orang yang membutuhkan.

"Sedangkan niat yang terpenting adalah ikhlas Lillahi taala. Niat itu sebenarnya cukup dalam hati saja," kata Ustadz Faozan Amar saat dihubungi MNC Portal.

Info grafis zakat fitrah. (Foto: Okezone)

Dikutip dari Konsultasisyariah, Ustadz Ammi Nur Baits ST BA mengatakan niat ikhlas dalam ibadah adalah bagian dari rukun diterimanya ibadah. Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Semua amal tergantung pada niatnya." (HR Bukhari dan Muslim). Jika seseorang beribadah namun tidak ikhlas, ibadahnya tidak diterima oleh Allah Subhanahu wa ta'ala.

Niat adalah amalan yang bertempat di hati. Dengan demikian, tidak diajarkan melafalkan niat dalam melakukan ibadah apa pun, termasuk ketika membayar zakat fitrah, karena Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam –orang yang paling sempurna ibadahnya– tidak pernah mengajarkan maupun mengamalkan lafal niat dalam ibadah apa pun.

Baca juga: Viral 2 Muslim Palestina Tidak Goyah Beribadah di Masjid Al Aqsa meski Diserang Tentara Israel 

Dalam Fatawa Syabakah Islamiyah, di bawah bimbingan Dr Abdullah Al-Faqih, terdapat pertanyaan, "Apa hukum orang yang menyerahkan sedekah di bulan Ramadan, hanya saja tidak dimaksudkan untuk zakat fitrah (tidak niat zakat fitrah), tetapi sebatas sedekah membantu orang yang membutuhkan? Apakah sedekah ini bisa menggantikan kewajiban zakat fitrah?"

Jawaban, "Zakat fitrah adalah ibadah, yang tidak sah kecuali dengan niat, sebagaimana yang telah dipahami. Orang yang mengeluarkan sedekah tersebut di bulan Ramadan –dengan tujuan membantu orang yang membutuhkan– tidak bisa disebut zakat fitrah, berdasarkan kesepakatan ulama, karena sedekah tersebut tidak bisa menggantikan kedudukan zakat fitrah." (Fatawa Syabakah Islamiyah, nomor 23506)

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Fatwa Ulama Hadramaut

Syekh Ahmad bin Hasan Al-Mu’alim pernah ditanya, “Apakah disyaratkan adanya niat ketika membayar zakat fitrah, sebagaimana ibadah lainnya? Bolehkan niat ini dilafalkan?”

Beliau menjelaskan, “Termasuk syarat sah membayar zakat fitrah adalah niat karena niat merupakan amal yang agung dalam Islam. Sebagaimana kandungan hadis dari Umar bin Khaththab; Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إنما الأعمال بالنيات وإنما لكل امرىء ما نوى

‘Sesungguhnya, amal itu tergantung pada niat, dan sesungguhnya (pahala) yang diperoleh seseorang sesuai niatnya.’ (HR Bukhari dan Muslim)

Dengan demikian, suatu amal tidak akan diterima kecuali dengan niat; tempat niat itu di hati. Imam Nawawi telah menyebutkan dalam kitabnya, Al-Majmu’, bahwa jika seseorang berniat di dalam hatinya tanpa dilafalkan dengan lisannya maka amalnya sah, ulama menyepakati ini. Sebaliknya, jika ada orang yang melafalkan niat dengan lisannya –yaitu niat untuk menunaikan zakat fitrah– namun hatinya tidak berniat maka hampir semua ulama mengatakan amalnya tidak sah. Karena itu, niat itu bertempat di hati, dan tidak ada anjuran untuk melafalkannya karena tidak ada dalil tentang hal itu." (Nafahatul Atrh fil Ijabati ‘ala As’ilati Zakatil Fitri, nomor 6)

Syekh Ahmad bin Hasan Al-Mu’alim adalah salah satu ulama barisan ahlus sunah dari Wadi ‘Amd, Hadramaut. Beliau merupakan khatib tetap di Masjid Khalid bin Walid Al-Mikla di Hadramaut. Beliau juga menjadi ketua "Majelis Ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah" di Hadramaut.

Wallahu a'lam bishawab.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini