Share

Profil KH Dimyati Rois: Ulama Tawadhu, Bersahaja, dan Ahli Sejarah

Tim Okezone, Jurnalis · Jum'at 10 Juni 2022 16:56 WIB
https: img.okezone.com content 2022 06 10 614 2609400 profil-kh-dimyati-rois-ulama-tawadhu-bersahaja-dan-ahli-sejarah-0rjtQZqUyf.jpg KH Dimyati Rois. (Foto: Istimewa/nu.or.id)

KH Dimyati Rois meninggal dunia pada hari ini Jumat 10 Juni 2022M/10 Dzulqa'dah 1443H. Mbah Dim –sapaan akrabnya– merupakan Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Beliau wafat dalam usia 77 tahun di Rumah Sakit Tlogorejo, Semarang, Jawa Tengah, pada pukul 01.13 WIB dini hari tadi.

Dikutip dari nu.or.id, KH Dimyati Rois merupakan Pengasuh Pondok Pesantren Al Fadlu wal Fadhilah Jagalan, Kaliwungu, Kendal, Jateng. Abah Dim lahir di Bulakamba, Brebes, 5 Juni 1945. Ia menempuh pendidikan di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur.

Baca juga: Jokowi: Abah Dim Jadi Teladan Kita Semua 

Sebelum itu, KH Dimyati Rois juga ngangsu kaweruh di Pondok Pesantren APIK Kaliwungu, Kendal, Jawa Tengah, selama belasan tahun.

Dalam Muktamar Ke-34 NU di Lampung Tahun 2021, Abah Dim terpilih sebagai salah satu dari sembilan Anggota Ahlul Halli wal Aqdi (Ahwa). Beliau mendapat suara terbanyak ketika itu, yakni 503 suara. Bersama delapan kiai lainnya, Mbah Dim menentukan Rais Aam Syuriyah PBNU.

Baca juga: Hary Tanoe Sampaikan Duka Cita Atas Wafatnya KH Dimyati Rois 

Profesor KH Zainal Abidin, salah satu anggota AHWA, menceritakan ketawaduan KH Dimyati Rois. Ketika diminta pandangan lebih dahulu, ia tidak berkenan. Pasalnya, Abah Dim sungkan dengan adanya KH Ma'ruf Amin.

Dalam Muktamar Ke-33 NU di Jombang, Jawa Timur, Tahun 2015, KH Dimyati Rois juga terpilih sebagai satu dari sembilan Anggota Ahwa.

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Ulama Karismatik

Al-Zastrouw Ng, budayawan sekaligus dosen Fakultas Islam Nusantara Unusia, dalam nu.or.id menceritakan bahwa KH Dimyati Rois adalah sosok yang sangat sederhana dan pekerja keras. Meski posisi sosial politiknya sangat memungkinkan, ia tidak pernah memanfaatkan posisi tersebut untuk hidup berlebihan. Mbah Dim bekerja keras menggarap tambak dan bertani untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Sosok Mbah Dim terlihat berwibawa dan alim hingga membuat banyak orang takzim. Meski beliau seorang ‘alim dan ‘alamah, sama sekali tidak kehilangan sikap tawadhu'. Ini dibuktikan dengan sikap beliau yang menyatakan bahwa sebenarnya beliau bukan ahli ilmu atau ahli sejarah.

Selain itu, setiap hendak memberikan informasi beliau selalu menyatakan: "Ini sumber yang saya terima dan saya pahami, tidak ada bukti-bukti tertulis atau catatan lain dari cerita ini. Silakan dicari bukti-bukti sejarahnya. Kalau ada bukti yang memperkuat ya silakan dipercaya, tapi kalau ada bukti lain yang valid dan tidak sesuai dengan informasi ini ya cerita ini gak usah dipercaya."

Beliau tidak menyatakan bahwa apa yang disampaikan mesti benar dan harus diikuti. Ini mencerminkan beliau adalah ulama yang tawadhu, menjunjung tinggi etika akademik.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini