MADINAH – Tindakan pertolongan terhadap jamaah haji yang dilakukan dr Lebriandy dan dr Sarah, dua dokter Tim Penanganan Krisis dan Pertolongan Pertama pada Jemaah Haji (PKP3JH), seperti sebuah film Holywood. Menegangkan, tapi berakhir dengan happy ending.
Lerby dan Sarah berperan dalam membantu seorang jamaah melewati masa krisis bahkan kritisnya. Dimulai saat keduanya menemukan seorang jamaah yang kesakitan di sekitar areal Mataf (tempat thawaf lantai dasar).
Jamaah dalam kelompok terbang (kloter) 1 Embarkasi Batam (BTH 01) itu mengeluh karena rasa sakit yang menyerang ulu hatinya. Keduanya kemudian beruasaha memberikan pertolongan pertama.
Jamaah berusia 75 tahun itu segera diberi obat pereda nyeri, berupa Paracetamol dan obat maag Ranitidine. Namun, usaha tersebut tak mengurangi nyeri pasien. Dari tubuhnya keluar keringat dingin. Dia mengeluh, ada nyeri dada yang hebat seperti ditekan.
Tim PKP3JH bersama petugas lainnya bergegas mengevakuasi jemaah ke klinik Masjidil Haram. Sampai di klinik Masjidil Haram, pasien dirujuk ke Ajyad Hospital karena masuk kategori emergency. Saat itu, jam menunjukkan sekitar pukul 23.30 WAS.
Ajyad Hospital ternyata juga tidak mampu melakukan penanganan secara invasif. Sebab, alat penunjang medis di sana masih kurang lengkap. Jamaah akhirnya dirujuk ke RS King Abdullah.
“Kami saat itu memang berkejaran dengan waktu yang genting. Sebab, ini berkaitan dengan nyawa manusia yang terkena serangan jantung,” terang Lebri, dikutip situs Kemenag.
Setelah dilakukan pemeriksaan di RS King Abdullah, dokter mendiagnosa pasien dengan STEMI Extensive Anterior Wall. STEMI adalah salah satu jenis serangan jantung berupa penyumbatan pembuluh darah arteri koroner secara total sehingga otot-otot jantung tidak mendapat suplai oksigen.
Karenanya, harus dilakukan tatalaksana primary PCI. Kondisinya, terjadi kerusakan otot jantung yang disebabkan adanya penyumbatan plaque di pembuluh darah arteri korener jantung.
“Sehingga dibutuhkan tindakan pemasangan ring jantung oleh dokter jantung dengan tujuan untuk membuka sumbatan plaque pembuluh darah koroner jantung tersebut agar jantung bisa berfungsi normal kembali,” papar Lebri.
Kondisi semacam itu menurut Lebri menuntut penanganan cepat. Petugas dan tim dokter berpacu dengan waktu. Sebab, semakin cepat didiagnosis dan ditangani, semakin besar kemungkinan pasien bisa selamat dan mengurangi angka morbiditas dan mortalitas pasien.
Apalagi jamaah ini diketahui memiliki riwayat diabetes melitus, hipertensi, dan merokok. Bahkan saat di bangsal perawatan jantung RS King Abdullah, pasca pasang ring jantung, pasien mengalami henti denyut nadi. Saat itu tim dokter segera melakukan CPR+DC shock.
“Alhamdulillah, atas ikhtiar yang dilakukan, Allah menakdirkan pasien bisa ditangani dengan baik. Saat ini keadaan umum pasien stabil dan rencana akan rawat jalan mulai besok,” katanya.
(Erha Aprili Ramadhoni)